
Happy Reading.
Kelvin melirik layar ponselnya yang sejak tadi berdering, menandakan jika ada panggilan masuk. Nama Karina tertera di sana, tetapi dia sama sekali tidak ingin mengangkatnya. Dia tahu jika di jam makan siang seperti ini pasti Karina akan mengajaknya makan siang di luar. Seperti beberapa bulan kebelakang ini meskipun sejak awal Kelvin memang tidak terlalu menanggapi Karina, tetapi wanita itu juga tidak pantang menyerah. Seperti Mea, namun gadis itu sekarang sudah memutuskan untuk menyerah mengejarnya.
"Astaga, kenapa jadi rumit seperti ini," Kelvin mengusap wajahnya kasar. Dia sejujurnya ingin mencoba membangun hubungan dengan Karina, tetapi entah kenapa tidak ada rasa nyaman sama sekali. Bahkan Kelvin merasa risih jika bersama wanita itu. Karina sosok yang cantik, dewasa, mandiri, dan yang paling penting adalah Karina usianya sudah lebih dewasa.
Dulu Kelvin menginginkan Karina karena ingin melihat Mea berhenti mengganggunya, tetapi setelah keinginannya tercapai dan Mea bahkan memblokir nomornya sekarang, Kelvin malah merasa tidak terima.
Dia kebingungan sendiri seperti hari ini, dia bahkan dengan terang-terangan meminta Mea untuk membuka blokir nya. Tetapi sepertinya kali ini Mea benar-benar serius dengan ucapannya yang ingin berhenti mengejar Kelvin.
"Sial, aku nggak tenang kalau nggak begini," Kelvin mengambil ponselnya yang berada di atas dashboard dan melihat tiga panggilan tidak terjawab dari Karina. Pria itu membuka layarnya dan mencari nomor Mea, ternyata masih tetap sama tidak bisa dihubungi karena Mea belum membuka blokir nya.
Kelvin mencoba untuk mengabaikan seperti biasanya, dia beralih menelpon Karina untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Kelvin untuk wanita itu. Dalam 4 minggu terakhir ini mereka memang lebih intens bertemu.
Dalam dering pertama panggilan itu pun langsung terangkat. Terdengar suara seorang wanita yang beberapa minggu ini selalu dia dengar, tetapi tidak mampu menggetarkan jantungnya sama sekali.
"Halo Kelvin, kenapa baru nelpon? Aku udah telepon kamu dari tadi tetapi nggak diangkat-angkat, apa kamu sibuk?"
"Ya, aku memang sibuk akhir-akhir ini, maaf."
"Nggak papa kok, aku bisa mengerti kesibukan kamu karena aku juga merasakan bagaimana sibuknya bekerja di sebuah perusahaan besar seperti itu, hehe."
Karina tertawa kecil di seberang telepon, sejujurnya Kelvin menilai jika Karina ini adalah wanita baik-baik dan terlihat tulus meskipun beberapa bulan dia gencar mengejarnya. Tetapi menurut Kelvin memang Karina betul menyukainya.
"Ya, memang betul, apakah masih ada waktu untuk kita makan siang bersama?"
__ADS_1
"Masih banyak, tersisa 45 menit, kamu mau aku jemput atau kamu yang jemput aku?"
"Biar aku saja yang jemput kamu."
"Oke deh, bye Kelvin!"
Setelah itu Kelvin menutup telepon nya. Akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Karina dan mencari tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan. Kelvin melajukan mobilnya ke perusahaan karina yang tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit dia sampai dan ternyata Karina sudah berada di depan kantor menunggunya.
Kelvin berhenti tempat di samping Karina membuka pintu untuk keluar.
"Hai, kok udah sampai, kamu tadi berada di dekat sini ya?"
"Ya, aku tadi ada di depan PT Andromax, jadi sekalian langsung ke sini," jawab Kelvin. Karena memang perjalanan dari kantornya sendiri membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di kantor Karina.
Ya, Karina dan Kelvin sudah jadian sebulan yang lalu. Tentu saja hal itu membuat Karina begitu bahagia. Dia benar-benar mencintai Kelvin dan berharap bisa bersama dengan pria itu melaju ke jenjang pernikahan. Meskipun awalnya sikap Kevin selalu dingin kepadanya, tetapi akhirnya dia bisa meluluhkan kebekuan hati pria tersebut.
"Kita makan di tempat biasa?" tanya Karina.
Kelvin terlihat berpikir sebelum dia menjawab. "Tidak, aku ingin makan di tempat lain, kamu mau 'kan?" Kelvin ingat sebuah rumah makan sederhana yang berada tidak jauh dari kampus Mea.
Beberapa bulan yang lalu Mea pergi mengajak Kelvin untuk makan di situ, gadis itu merengek dan memintanya untuk mengantarkan makan di restoran sederhana di dekat kampusnya. Dulu tentu saja Kelvin mengantar Mea dengan berat hati bahkan dengan keterpaksaan. Namun, sekarang entah kenapa tiba-tiba Kelvin ingin makan di tempat itu lagi.
"Tentu saja aku mau, di mana pun tempatnya kalau ada kamu aku pasti suka," jawab Karina tersenyum.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu mereka pun sampai di sebuah restoran sederhana, awalnya Karina mengernyit karena Kelvin mengajaknya ke restoran seperti ini.
Tempatnya tidak terlalu besar dan bukan restoran bintang 5 ataupun restoran mahal-mahal seperti di kota Jakarta lainnya. "Kita akan makan di sini?" tanya Karina akhirnya setelah melihat Kevin melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.
"Iya, apa kamu nggak suka tempatnya?" tanya Kelvin melihat Karina dengan tatapan yang sulit diartikan. Gesture tubuh wanita itu seolah merasa aneh ketika melihat restoran sederhana itu. Kenapa dikatakan sederhana? Karena itu adalah rumah makan warteg yang menjual beberapa menu makanan daerah seperti daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat.
"Nggak kok, aku suka. Ayo kita masuk," Karina berhasil merubah mimik wajahnya dengan tersenyum lebar, kemudian dia keluar mengikuti Kelvin masuk ke dalam restoran sederhana itu.
Kelvin mengamati sikap Karina yang sepertinya enggan masuk ke sana namun dipaksakan. Akhirnya keduanya duduk di tengah-tengah, di sebuah kursi kayu yang di sediakan di rumah makan itu.
"Kamu mau pesan apa?"
"Samakan aja sama kamu," jawab Karina masih berusaha tersenyum.
Tiba-tiba ide jahil terlintas di pikiran Kelvin, dia akan memesan makanan yang dulu dipesan oleh Mea.
"Pak, saya mau pesan nasi sama semur jengkol, sayurnya pakai oseng tempe dan lauknya pakai telur asin ya pak, dua porsi. Minuman es jeruk dua," ujar Kelvin.
"Oh baik tuan," jawab pemilik warung makan. "Mohon ditunggu sebentar."
Karina menganga lebar mendengar makanan yang dipesan oleh Kelvin.
"Jengkol?" Kelvin mengangguk.
"Iya, kamu nggak suka? Kalau nggak suka ganti aja," ujar Kelvin.
__ADS_1
"Ehmm ... Sebenarnya aku belum pernah makan jengkol, siapa tahu rasanya enak dan aku suka, hehehe."
Bersambung.