
Happy Reading.
Kelvin melihat jam dipergelangan tangannya, jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Dia sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan Mea. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Mea memang sudah tidak menghindar lagi, tetapi sikap dia berubah menjadi lebih dingin dan ketus.
Namun, Kelvin tidak masalah selama Mea masih mau bertemu dengannya. Dia janji akan membuat hati Mea luluh kembali. Kenzo yang sejak tadi sudah menyelesaikan pekerjaannya menatap asistennya itu dengan sebuah gelengan di kepalanya. Apakah Kelvin benar-benar sedang jatuh cinta? Kenapa tingkahnya benar-benar seperti remaja yang sedang kasmaran.
"Kelvin, seminggu lagi adalah Anniversary ku dan Rea yang ke dua. Aku ingin kamu menyiapkan kejutan untuk istriku, cari tempat yang bagus untuk pesta dan juga carikan hadiah yang bagus untuk dia, aku sudah menyuruh Mea untuk mencari hadiah barang yang disukai oleh kakaknya dan kau bisa menemani Mea," ujar Kenzo.
"Benarkah, Tuan? Saya akan pergi bareng Mea? Apa dia mau?" tanya Kelvin antusias.
Kenzo mengangguk dan membereskan pekerjaannya. Sepertinya dia juga harus memberikan ruang untuk Kelvin dan Mea agar bisa sering bersama karena komunikasi itu sangat penting. Kalau keduanya tidak bisa berkomunikasi dengan baik tentu saja itu akan berakibat buruk dengan hubungan mereka.
"Kalau begitu kamu bisa jemput Mea di kampusnya sekarang, aku tahu dia ada jadwal kuliah sore," Kelvin langsung berbinar. Bosnya ini benar-benar sangat tahu apa yang dia pikirkan oleh sang asisten.
Akhirnya Kelvin langsung menjemput Mea di kampus setelah mengatakan Kenzo pulang. Sebelumnya dia sudah memberitahu Mea jika akan menjemputnya dan pergi ke mall untuk mencari hadiah pada acara anniversary ke-2 Kenzo dan Rea.
***
Lagi-lagi Kelvin menahan cemburunya ketika melihat Mea yang tengah mengobrol dengan seorang cowok yang akhir-akhir ini gencar mendekati gadis pujaannya itu.
"Mea, ayo kita berangkat. Nanti keburu hujan, langit juga semakin gelap," ujar Kelvin.
"Devan, aku duluan ya, udah dijemput nih," ucap Mea pada Devan.
__ADS_1
"Oh oke, hai Om, selamat sore?" sapa Devan sopan pada Kelvin. "Dia Om kamu, ya?"
Mea sampai menahan tawa melihat raut wajah Kevin yang tiba-tiba berubah. "Bukan Om kandung sih," jawab gadis itu melirik Kelvin.
"Oh, Om apa donk?"
"Ya Om ketemu gede," Mea cekikikan menjawab pertanyaan dari Devan itu.
"Mea!" ucap Kelvin dengan suara yang tertahan.
"Ayok Om, kita ke Mall, nanti keburu hujan," Mea langsung menarik tangan Kelvin sebelum lelaki itu mengamuk karena ucapan Devan.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Kevin langsung melajukan mobilnya begitu saja. Dia berusaha mengontrol emosinya dan juga rasa cemburu yang selalu menyerang akhir-akhir ini. Perasaan itu seperti penyakit namun tak kasat mata sakitnya. Ya, Kelvin sekarang jadi cemburuan jika itu menyangkut Mea.
Kelvin melirik Mea kemudian menghela nafas. "Mulai sekarang kamu jangan manggil aku Om lagi, aku nggak setua itu ya, lihat semua temanmu jadi salah paham kan?" Kelvin merasa takut jika para sahabat Mea menganggap jika dirinya adalah Om dari gadis itu yang sebenarnya.
"Oh, jadi kamu marah karena dipanggil sama Devan dengan panggilan Om?"
"Bukan hanya itu, aku ingin semua teman-temanmu tau jika aku ini adalah calon suamimu, jadi biar nggak ada yang mau modus deketin kamu," Mea langsung menoleh ke arah Kelvin dengan melototkan matanya.
"Pede banget sih? Siapa emangnya yang mau jadi calon istrimu?" Ketus Mea. Sekarang Kelvin memang senarsis itu.
"Udah aku tandain pokoknya," Mea melirik Kelvin yang tengah tersenyum sambil fokus menyetir.
__ADS_1
"Sebelum janur kuning melengkung aku tuh bisa dimiliki oleh siapapun, ya karena aku jomblo, bebas, dan tidak ada yang berhak mengatur hidupku kecuali orang tuaku dan keluargaku," ucap Mea.
"Kalau gitu sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari keluargamu," Kelvin tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar ketika melihat ekspresi wajah Mea.
***
Akhirnya keduanya sampai di mall, Kelvin merasa senang kali ini ketika berbelanja bareng Mea. Jika dulu Kelvin selalu paling malas kalau disuruh mengantar Mea muter-muter keliling Mall, kali ini dia merasa sangat senang.
"Kurasa sebuah kalung berlian cocok untuk kakakku," ujar Mea.
"Boleh-boleh, aku malah nggak tahu apa-apa kalau disuruh memilih memberikan hadiah, mending kamu saja yang memilih Karena kamu pasti tahu kesukaannya kakak kamu dan yang tidak di sukai itu apa," jawab Kelvin.
"Ya sudah, kalau gitu kita ke toko emas aja," Mea berjalan mendahului Kelvin tetapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria itu.
"Gandengan, nanti kamu hilang."
Mea merasakan tangannya di genggam oleh Kelvin, entah kenapa jantungnya masih saja berdebar. Tangan besar itu menggenggam tangannya dan itu terasa begitu hangat.
Kelvin juga merasakan hal yang sama, pria itu tidak melunturkan senyuman sama sekali. Namun, tiba-tiba dia berhenti saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Kelvin?"
Bersambung.
__ADS_1
Maaf baru bisa update 🙏