
Happy Reading
Anjani menatap tumpukan uang berwarna merah di dalam sebuah koper yang berjumlah 100 juta rupiah. Akhirnya karena tidak mau mendapatkan ancaman dari Juan yang akan menyakiti putrinya, Anjani mengiyakan permintaan pria itu dengan menyabotase mobil Kelvin yang biasanya di pakai untuk mengantarkan Kenzo kemanapun pergi.
Anjani sudah tidak ada pilihan lain, dia juga ingin mendapatkan uang banyak karena sejujurnya dia benar-benar sudah kehabisan.
"Aku suka kamu yang penurut!" Juan mencolek dagu Anjani, membuat wanita itu menghempas tangan tersebut.
"Kalau bukan karena ancaman kamu, tentu aku tidak akan mau melakukan ini!" Geram Anjani.
"Hahaha, ternyata wanita yang pernah dicintai oleh Kenzo sangat menarik! Pantas saja Kenzo memilih mu, tapi itu dulu, sebelum Kenzo memilih pelayannya sendiri, hahahaha!"
Anjani benar-benar kesal dengan pria didepannya ini. Kenapa dia membandingkan dengan seorang pembantu, meskipun Anjani bisa melihat istri Kenzo memang lah sangat cantik, tapi baginya dialah yang tetap cantik.
"Sebenarnya kenapa kamu membenci Kenzo?" Tanya Anjani dengan tatapan kesal.
"Hahaha, kenapa kamu menyimpulkan jika aku membencinya? Kalau kamu tahu, sebenarnya aku sangat menyayanginya, hahaha!" Juan tertawa misterius.
Anjani sampai merinding mendengarnya, menurut Anjani Juan ini benar-benar pria tidak waras yang membahayakan.
"Kalau kamu menyayanginya, kenapa kamu ingin mencelakainya, brengsekk!" Anjani kesal karena Juan malah tertawa seperti itu. Dia benar-benar tidak terima karena biar bagaimanapun Anjani masih di pihak Kenzo.
Juan mengambil segepok uang yang bernilai sepuluh juta rupiah di dalam . "Kami dulu berteman, teman akrab sekali, kami sama-sama meluncurkan sebuah produk otomotif terbaru. Aku yang lebih memiliki banyak ide dan Kenzo hanya sering diam, tapi Kenzo mengambil desain ku dan malah menuduhku memplagiatnya, padahal itu adalah hasil karyaku. Aku sama sekali bukan plagiat, makanya aku begitu membencinya sekarang!"
__ADS_1
Anjani tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Cih, lalu kalau sampai seperti itu kenapa kamu ingin membunuh Kenzo? Bukankah kamu bisa menegurnya?" Tanya Anjani yang semakin geram dengan pemikiran pria itu.
Juan tertawa terbahak, bahkan sampai memegang perutnya karena merasa sakit akibat tertawa terus terusan. "Hahaha! Kamu pikir Kenzo bukan pria licik?" Kini juan menatap tajam Anjani. "Dia menghancurkan perusahaan ku, pria itu menghancurkan segalanya, aku ingin dia juga hancur, atau kalau bisa mati!"
Anjani memundurkan wajahnya ketika juan semakin mencondongkan tubuh. Rasanya dia seperti berhadapan dengan seorang pria gila saja.
"Oke, aku akan menjalankan tugasmu, yang penting aku harus menyabotase mobil Kelvin kan?" Juan mengangguk sambil bersedekap dada.
"Kamu sudah ku beritahu bagaimana caranya bukan?" Tanya Juan. "Aku akan memberikan uang ini setelah misimu berhasil!"
"Iya-iya, kamu tenang saja, yang penting aku pasti melakukan tugasku!" Anjani berdiri dan berjalan keluar dari dalam ruangan Kenzo.
****
Rea, Kenzo, bu Alfi dan Mea sarapan bersama. Tadi malam Kenzo dan Rea tidur pukul 2 dini hari karena Kenzo baru mau tidur setelah Rea benar-benar sudah kewalahan menghadapi suaminya itu.
Kenzo sebenarnya masih kuat saja, tapi dia merasa kasihan dengan istrinya, alhasil Kenzo memeluk Rea dan menyuruh tidur.
"Hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah, Mea?" Tanya Rea.
"Iya kak, sekolah baru dan semoga saja aku betah di sana," jawab Mea.
__ADS_1
Sekolah Mea termasuk sekolah elit taraf Internasional, sekolah itu adalah salah satu yayasan milik Kenzo karena dia adalah penyokong dana terbesar disana. Selain itu Kenzo juga menjabat sebagai ketua dewan komisaris. Sebenarnya semuanya memilih Kenzo untuk menjadi direktur di sekolah tersebut. Namun, Kenzo tidak mau karena dia sendiri sudah sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO di kantor miliknya.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman bersekolah di sana karena masalah dengan siswa lain, nanti bilang pada Kelvin, dia pasti akan menyelesaikannya dengan mudah," ujar Kenzo. Dia sangat tahu bagaimana murid-murid di SMA Bimasakti Internasional school itu. Banyak anak-anak pejabat dan orang kaya yang masuk ke sana. Kebanyakan dari mereka semua memiliki sifat sombong dan angkuh.
"Iya Tuan,"
"Jangan panggil aku tuan, karena sekarang aku adalah kakak iparmu," sela Kenzo.
Mea menatap Rea dan beralih kepada Kenzo. "Jadi, saya manggilnya apa tuan?"
"Ck, kamu bisa manggil aku Kak atau Abang, dan jangan memanggil mas, karena panggilan itu hanya untuk isteri ku," jawab Kenzo menatap sang isteri yang duduk di sampingnya.
"Oke Abang, hihihi," Mea cekikikan karena merasa belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Sudah Mea, ayo di habiskan makananmu, nanti telat sekolahnya," Ibu Alfi mengingat putri bungsunya untuk segera makan karena memang sebentar lagi harus segera sekolah.
Setelah selesai sarapan, Kenzo dan Rea berjalan keluar rumah menuju ke mobilnya. Kelvin sudah siap dengan membuka pintu belakang untuk sang majikan.
"Aku berangkat kerja dulu ya, hati-hati dirumah," Kenzo mengecup kening Rea sedikit lama. "Apa masih sakit?"
Rea yang mendengar hal itu langsung bersemu merah. "Mass, jangan bicara gitu donk!" Rea mencubit lengan suaminya karena dia tahu kalau mencubit perut pasti tidak akan bisa.
"Iya sayang, ya sudah hati-hati di rumah, aku berangkat kerja dulu," Rea mengangguk dan menyalami tangan sang suaminya.
__ADS_1
Kemudian Kenzo masuk ke dalam mobil dan Rea melambaikan tangannya. Mereka tidak tahu dari titik agak jauh dari arah jalanan rumah itu, ada seseorang yang mengintai dan membelokkan mobilnya ke lawan arah.
Bersambung.