
Happy Reading.
Kelvin meminta asisten pribadinya langsung memesankan makanan yang di minta oleh istrinya. Dia tahu kalau mood Mea masih belum stabil dan masih marah kepadanya.
"Mea, maaf ya?" Mea hanya diam. Wanita itu memilih fokus pada ponselnya.
"Sebenarnya aku butuh seorang asisten," ujar Kelvin. "Apa kamu nggak ingin kerja menjadi asisten ku, Mea?"
"Nggak, aku mau jadi ibu rumah tangga yang baik," sepertinya Kelvin berhasil memancing Mea dan istrinya itu sepertinya sudah tidak marah.
Mea sendiri merutuki kebodohannya karena mengucapkan hal tersebut, tentu saja dia merasa begitu malu.
"Aku lebih suka kalau kamu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menyayangi suaminya," ujar Kelvin tersenyum tipis.
Mea memilih diam agar tidak keceplosan menjawab. Akhirnya makanan yang dipesan sudah datang, Kelvin tentu saja merasa senang karena dirinya bisa leluasa memandang wajah cantik istrinya itu.
Sedangkan di sisi lain.
Rea dan Kenzo saling bertatap, mereka merasa bingung karena sang ibu tiba-tiba menangis. "Bu, ada apa? Apakah ada yang sakit? Rea panggilkan dokter ya?"
"Tidak perlu, ibu menangis bahagia, ibu juga sudah tidak merasakan sakit lagi, ibu bahagia sekali ketika melihat putri-putri ibu semuanya sudah menikah dan mendapatkan jodoh yang terbaik meskipun ibu tahu Mea belum siap tetapi nak Kelvin adalah pria yang tepat untuk menjaga Mea kalau ibu sudah tidak ada." Rea langsung menggeleng cepat ketika mendengarkan ucapan ibunya.
"Tolong jangan bicara seperti itu Bu, Rea sangat yakin kalau ibu pasti sembuh, jadi ibu harus kuat ya? Masa ibu nggak mau pengen lihat Vincent tumbuh besar dan juga anak Mea nanti, kelak mereka pasti ingin bisa bermain sama neneknya, ibu harus sembuh, ibu harus tegar, ibu harus kuat, Rea sama Mea selalu ada di sisi ibu," ujar Rea menitikkan air mata.
Sungguh dia tidak bisa menghilangkan perasaan yang tidak enak sejak semalam di hatinya. Rea bahkan tidak meninggalkan ibunya sama sekali, dia selalu setia berada samping ibunya.
Bu Alfi tersenyum, bibir pucat itu semakin terlihat memucat dan mata itu pun terlihat begitu sayu. Wanita paruh baya itu mengelus lengan Rea yang sejak tadi menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Nak, ibu sudah tua. Pasti suatu saat nanti ibu akan pergi menghadap yang kuasa. Entah itu kapan, tetapi misalkan nyawa ibu dicabut sekarang ibu sudah ikhlas dan rela karena melihat kedua Putri ibu sudah menemukan lelaki yang tepat untuk menjaganya, itu saja sudah cukup karena ibu juga merasa jika tanggung jawab ibu mengasuh kalian sudah selesai," lirih Bu Alfi.
Kenzo menatap monitor EKG yang menampilkan grafik tidak stabil, sejak tadi dia hanya mendengarkan obrolan mertua dan istrinya meskipun Kenzo tidak merasakan firasat apapun, tetapi tetap saja ucapan sang ibu mertua sudah seperti sebuah wasiat saja.
"Nak Kenzo, tolong jaga Rea dan Mea ya? Tolong bilang sama nak Kelvin untuk menjaga Mea sampai kapanpun, sepertinya ibu sudah tidak lama lagi, ibu ingin tidur rasanya lelah dan begitu sakit," tiba-tiba Bu Alfi menutup matanya perlahan setelah mengucapkan kata-kata itu kepada Kenzo.
"Ibu!! Ibu! Mas, ibu kenapa?!" seru Rea saat alat EKG itu menampilkan garis lurus dan bunyi BIP yang panjang.
Kenzo langsung memencet tombol untuk memanggil dokter dan langsung memeluk istrinya erat. Rea menjerit menangis saat mengetahui jika hal yang buruk telah terjadi kepada ibunya.
Beberapa perawat dan seorang dokter datang dan langsung menyuruh Kenzo dan Rea untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Mas, ibu-ibu ...."
"Sstt, menangislah sayang, aku akan tetap berada di sini, ikhlaskan apa yang seharusnya memang harus pergi, jika memang sudah saatnya ibu untuk berpulang, kita harus ikhlas."
Klontang!
Mea terkejut saat sendok yang dia pegang tiba-tiba terjatuh. Tiba-tiba dadanya terasa berdebar kencang, perasaannya juga tidak enak.
"Mea, ada apa?" tanya Kelvin yang melihat istrinya yang tiba-tiba gelisah.
"Kelvin, antar aku ke rumah sakit sekarang," pinta Mea.
"Iya, aku juga habis ini mau ke rumah sakit karena ada berkas yang harus kuserahkan kepada tuan Kenzo, tapi habiskan dulu makanannya," ujar Kelvin.
Mea langsung menggelengkan kepalanya. "Perasaanku tidak enak, pokoknya aku harus ke rumah sakit, kalau kamu tidak mau mengantarkan aku, Aku akan pergi ke rumah sakit menggunakan taksi online," Mea sudah akan berdiri tetapi ditahan oleh Kelvin.
__ADS_1
"Ayo, aku antar."
Sepanjang perjalanan Mea berusaha untuk menghubungi kakaknya, tetapi tidak ada yang mengangkat panggilan tersebut begitupun dengan Kenzo yang malah tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Sebenarnya ada apa, kenapa mereka kompak tidak bisa dihubungi?"
Bersambung.
Maaf ya update nya lama ðŸ˜ðŸ˜
Aku ada rekomendasi karya keren banget 🥰
Napen : Desy Puspita
Judul : Pengasuh Majikan Impoten
Blurb :
Jauh-jauh merantau ke kota demi membantu calon suami mengumpulkan modal nikah, Diani Ayu Larasati terjebak dalam sebuah perjanjian kerja yang sama sekali tidak dia ingini.
Hanya karena tergiur gaji di atas UMR, gadis manis yang biasa dipanggil Ayas itu iya-iya saja kala seorang kenalannya menawarkan pekerjaan untuk menjadi pengasuh di ibu kota.
Siapa sangka, yang akan dia asuh bukanlah balita, melainkan seorang pria impoten yang merupakan produser sekaligus CEO dari Wijaya Corp, Givendra Kama Wijaya. Tidak hanya itu yang membuat Ayas tercengang, tapi tugas utamanya sebagai pengasuh sangat sulit diterima akal.
"Tugasmu sederhana, cukup bangunkan aku dan bangunkan dia," ucap Kama seraya menunjuk bagian bawahnya yang membuat mata Ayas membulat sempurna.
__ADS_1