Ranjang Panas Tuan Muda

Ranjang Panas Tuan Muda
Bab 69


__ADS_3

Happy Reading.


"Please, Mea! Jangan menghindar lagi, cutiku selama tiga hari sudah habis dan tidak menghasilkan apa-apa gara-gara kamu menghindari ku terus," ujar Kelvin.


Mea mengerutkan keningnya, memangnya apa hubungan cuti dengan dirinya?


"Om, kenapa sekarang kamu jadi labil banget, sih?" ketus Mea. Gadis itu merasa jika Kelvin memang sangat labil, bukankah dulu Kelvin menginginkan jika dirinya tidak selalu menempel dan kalau bisa menjauh sejauh-jauhnya dari pria itu.


"Aku tidak labil dan berhenti memanggilku Om. Karena aku bukan Om kamu," ujar Kelvin frustasi.


Dia sekarang benar-benar kesulitan hanya untuk bisa bicara dengan tenang dan damai, tidak ada penolakan dari yang seperti ini.


"Terus aku harus manggil apa? Lagian usia Anda itu sudah tua, hampir 40 tahun dan aku masih 19 tahun jadi wajar bukan kalau Anda saya panggil Om?" Kelvin tercekat mendengar ucapan Mea, entah kenapa dia merasa Mea membalikan semua ucapannya yang dulu.


"Mea, aku sudah tua, usiaku hampir 40 tahun dan seharusnya kamu menghormati ku seperti Om kamu sendiri, jangan berharap lebih dengan hubungan yang kau impikan itu karena kita tidak pantas."


Glek!


Kelvin menelan salivanya kasar, dia mengingat semua ucapan itu yang ditunjukkan kepada Mea agar gadis itu tidak selalu mengejarnya dulu. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah, bahkan sepertinya perasaannya juga berubah, Kelvin akan menjilat ludahnya sendiri.


"Dan mulai sekarang aku akan menganggap Anda sebagai Om saya, atau bila perlu sebagai orang asing sekalian," lanjut Mea dengan sikap yang jutek.


Sungguh Kelvin serasa gemas dengan Mea yang jutek seperti ini, jika dulu gadis itu selalu cerewet dan akan menggodanya di setiap waktu ketika bertemu, tetapi sekarang Mea akan selalu menghindarinya dan bahkan bersikap sangat ketus terhadapnya.

__ADS_1


Kelvin berjalan mendekati Mea, otomatis membuat wanita itu memundurkan langkahnya dan baru bisa berhenti setelah menabrak meja makan, tetapi Kelvin sama sekali tidak menghentikan langkahnya. "Om, stop! Berhenti di situ! Jangan mendekat atau aku akan teriak!" seru Mea mengangkat kedua tangan ke depan untuk menahan tubuh Kelvin agar tidak semakin mendekat.


"Kalau gitu bisa nggak kita ngobrol baik-baik, jangan kabur-kaburan lagi, hemm?"


"Ya sudah, kita ngobrol di taman aja, aku kasih waktu 30 menit, aku masih banyak tugas kuliah yang harus aku selesaikan," jawab Mea menahan debaran jantungnya yang sejak tadi bertalu kencang.


Meskipun sebenarnya dia berusaha menguatkan diri untuk tidak luluh lagi oleh pesona Kelvin, gadis itu juga masih tahu diri jika pria dewasa di hadapannya ini sudah memiliki seorang kekasih yang bahkan sangat cantik, jadi Mea tentu tidak akan merasa percaya diri jika Kelvin telah berubah menyukainya.


Akhirnya Mea berjalan mendahului Kelvin keluar rumah dan menuju taman belakang. Kelvin masih senyum-senyum saja melihat Mea yang seperti itu. Dia bahkan sudah melupakan jika gadis yang dikejar adalah gadis yang satu tahun lalu dia katai sebagai anak yang masih bau kencur.


"Mau bicara apa sih? Aku kasih waktu 20 menit, karena aku tidak bisa berlama-lama berdiri bersamamu di sini," lagi-lagi Mea seakan membalikkan ucapannya.


Jika dulu Mea yang selalu meminta waktu bicara kepadanya dan hanya diberi waktu sedikit oleh Kelvin, sekarang sepertinya Mea membalaskan dendamnya.


"Padahal aku ingin bicara banyak dan panjang lebar, tetapi kalau kamu sibuk aku akan bicara semestinya," jawab Kelvin menurut. Dia tidak mau jika Mea lebih menghindarinya lagi.


"Ah, baiklah. Sebenarnya begini, beberapa malam yang lalu, waktu di bar itu adalah aku Mea, lelaki yang kau cium itu adalah aku."


"Terus?" Mea sudah memikirkan hal ini, jika Kelvin akan mengatakan hal tersebut dan menertawainya karena telah berani mencium Kelvin, dia akan semakin bersikap tidak peduli dan tidak akan mau bertemu dengan pria itu lagi.


"Kamu harus tanggung jawab," Mea melotot mendengar ucapan Kelvin.


"Tidak, waktu itu aku mabuk dan aku sama sekali tidak ingat siapa yang aku cium, bahkan aku mengira jika pria yang waktu itu adalah Jim, jadi sepertinya tidak usah diperpanjang lagi. Seharusnya Om mengerti kalau orang mabuk pasti tidak bisa mengingat kejadian yang di alaminya, bukan?"

__ADS_1


Kelvin mendes*h, entah kenapa sekarang dia merasa jika Mea benar-benar menghindar dan membencinya.


"Mea, apakan kamu berubah karena aku mengenalkan mu dengan Karina?" Mea mendengus ketika mendengar pertanyaan Kelvin.


Tentu saja dia harus berubah karena dia tidak ingin hatinya semakin sakit setelah mengetahui jika pria yang selama ini dia cintai telah memiliki kekasih. Kalau memang masih nekat dia takut khilaf dan akan menjadi perusak hubungan orang alias pelakor.


"Terserah Om mau bilang apa, yang jelas waktumu sudah habis dan aku harus masuk ke dalam, permisi!" Mea akan pergi tetapi tangannya di cekal oleh Kelvin. Pria itu memeluk Mea dan mendekapnya erat.


Jantung Mea berasa akan lompat dari tempatnya, tetapi sedetik kemudian Mea tersadar dan mendorong tubuh Kelvin.


"Om, kamu harus jaga batasan, sekarang kamu sudah memiliki kekasih dan jangan bertindak menjadi pria yang jahat seperti ini!"


Kelvin menangkup wajah Mea dengan kedua tangannya. "Aku sudah tidak memiliki kekasih, aku dan Karina sudah putus."


***


Kenzo sedang mengadakan rapat jajaran pimpinan direksi tahunan. Kelvin setia mendampinginya dan sejak pagi tadi raut wajahnya terlihat lebih cerah dan sumringah.


"Kelvin, apakah kau baru menang lotre?" tanya Kenzo.


"Ah, tidak Tuan, saya hanya sedang bahagia saja," jawab Kelvin tidak berhenti tersenyum, persis seperti remaja yang tengah jatuh cinta saja.


Bersambung.

__ADS_1


Kelvin senyum2 persis seperti ABG 🤭



__ADS_2