Ranjang Panas Tuan Muda

Ranjang Panas Tuan Muda
Bab 71


__ADS_3

Happy Reading.


Kenzo tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita dari Kelvin. Asisten pribadinya itu baru saja curhat jika dia merasa cemburu ketika melihat Mea bersama dengan laki-laki lain. Kenzo baru pertama kali ini mendengar curahan hati sang (Aspri) yang sepertinya sedang menggalau karena masalah asmara.


"Jadi kali ini kamu ngaku kalau udah jatuh cinta sama Mea, gitu?" tanya Kenzo yang kali ini sudah bisa meredam tawanya.


"Ehmm ... Sebenarnya saya bingung harus mendeskripsikan perasaan saya ini, Tuan. Selama setahun ini Mea selalu mengejar saya dan saya berusaha mengelak karena merasa jika saya ini sudah terlalu tua dan Mea masih anak-anak. Apa saya tidak seperti seorang pedofil, Tuan? Padahal jelas-jelas Mea sekarang sudah seperti wanita dewasa," ujar Kelvin.


Kenzo manggut-manggut, "Mea memang sudah mulai beranjak dewasa, dia sudah hampir 19 tahun kan? Aku tidak ingat berapa umurnya, yang jelas dia secara bentuk tubuhnya sudah seperti wanita dewasa pada umumnya. Jadi kalau ada yang mengatakan kamu seperti pedofil adalah salah besar, kalau menurutku sih kamu masih pantas jika memang ingin menjadikan dia sebagai pasanganmu pasangan seumur hidup tentunya, bukan hanya untuk main-main saja karena umurmu juga sudah tidak muda lagi, Kelvin," ujar Kenzo.


"Siap Tuan, saya juga sudah berpikir jika ingin mengakhiri masa lajang saya ini, tetapi sekarang sepertinya Mea terlalu sulit untuk digapai, dia sudah terlanjur kecewa dengan saya karena dulunya saya selalu menolak dia, Tuan," jawab Kelvin lesu.


Kenzo mengangguk paham, dia sedikit tahu cerita mengenai Mea yang mengejar Kelvin dengan tingkat kebucinan yang levelnya tinggi. Namun, Kelvin sama sekali tidak menyambut perasaan Mea dan malah meminta gadis itu untuk menjauhinya.


Sepertinya saat ini Kelvin menginginkan dia membantunya agar bisa bicara baik-baik dengan Mea.


"Apakah kamu ingin aku meminta Mea agar mau makan malam denganmu?"


Kelvin terdiam sejenak sebelum akhirnya pria itu mengangguk lemah. Kelvin hanya malu dengan Kenzo karena telah menjilat ludahnya sendiri.


"Oke, aku akan membuatmu bisa berduaan dengan Mea, tetapi setelah ini kamu harus usaha sendiri, masa iya kamu yang biasanya pintar dalam segalanya harus kalah dalam menghadapi seorang gadis?"


***


Mea menatap Rea yang tengah menyusui putranya. Dia terlihat begitu telaten dan sangat luwes. "Kak, gimana rasanya jadi seorang ibu?" tanya gadis itu.


"Jadi seorang ibu itu adalah impian setiap perempuan, rasanya luar biasa dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin kamu bisa merasakan sendiri kalau sudah punya anak," jawab Rea tertawa kecil karena melihat sang adik yang malah mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Mana bisa punya anak, jomblo ngenes ini," ujar Mea dengan wajah di buat sendu.


"Loh, kenapa nggak nyari kalau jomblo? Kamu cantik, pinter dan pasti banyak suka," ucap Mea menatap lekat adiknya.


Ya, meskipun Mea cantik tetapi dia tidak banyak yang suka tuh, atau mungkin karena dia yang tidak terlalu fokus dengan keberadaan pada cowok-cowok disekitarnya yang sebenarnya ada yang menyukainya. Ya, Mea selama ini selalu berporos pada Kelvin dan mengabaikan para cowok lain karena menurutnya tidak ada yang menarik di banding dengan lelaki dewasa itu.


"Siapa yang mau sama aku, kak," tiba-tiba ponsel Mea berdering setelah menjawab kakaknya.


Mea melihat nama Devan di layar, mau apa cowok itu meneleponnya. Tetapi Mea tetap mengangkat panggilan itu meski sedikit enggan.


"Halo?"


"Halo, Mea?"


"Iya, ada apa, Van?"


Mea mengusap keningnya, maksudnya Devan ngomong seperti ini apa ya? Rea yang mengamati ekspresi wajah Mea jadi penasaran.


"Dari cowok?" Mea hanya mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian dia beranjak untuk kembali ke kamarnya karena tidak enak jika harus ngobrol dengan cowok di depan kakaknya.


"Halo, Mea? Kamu masih ada kan?"


Mea menutup pintu kamar kakaknya pelan sekali.


"Kamu aneh deh, Van."

__ADS_1


"Aneh gimana? Aku kan ngomong sejujurnya."


Huh, Mea jadi galau sendiri di perlakukan seperti ini. Seandainya Kelvin seperti Devan pasti Mea akan senang sekali.


"Kenapa harus mikirin dia lagi, sih?" batin gadis itu memukul kepalanya.


Kelvin dan Kenzo baru masuk ke dalam rumah, mereka baru saja pulang dari kantor. Kenzo memutuskan untuk langsung pergi ke lantai atas dan bertemu dengan istri dan putranya, Kenzo sudah merindukan mereka.


"Aku besok nggak ada jadwal, sih? Kamu mau ajak aku nonton?"


"Iya, kalau kamu gak sibuk, hehehe."


"Kenapa kek orang kencan, hahaha."


Kelvin mendengar obrolan Mea yang tengah menerima telepon. Pria itu menghampiri Mea yang tengah berjalan turun di tangga. Sepertinya Mea memang tidak jadi masuk ke kamarnya, dia ingin pergi ke lantai bawah dan duduk di salah satu sofa. Tetapi ternyata di sana ada Kelvin dan kedua mata mereka bertemu.


"Mea, aku mau ngomong!"


Mea yang melihat gelagat Kelvin yang sepertinya sedang marah akhirnya mengakhiri panggilannya.


"Ngomong apa Om?"


"Jangan di sini, aku mau ajak kamu keluar," Kelvin langsung menarik tangan Mea.


"E-eh .... Main tarik-tarik aja!" Mea begitu kesusahan untuk melepaskan diri karena genggaman tangan Kelvin sangat kuat.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu," ujar Kelvin yang sudah duduk di belakang kemudi dan Mea duduk di sampingnya.

__ADS_1


Jujur, Kelvin begitu cemburu saat melihat Mea yang tertawa bahagia dengan cowok lain meskipun itu hanya di telepon. Kenapa Mea tidak bisa seperti itu saat bersama nya? Ataukah selama ini dia yang tidak menyadarinya saat Mea selalu semangat dan ceria dulu, mungkin kah hari Mea sudah benar-benar lelah dengan Kelvin yang sama sekali tidak bisa melihat ketulusannya.


__ADS_2