
Happy Reading.
"Maaf Bu, Putri Anda telah meninggal, karena penyakit yang menggerogotinya, sel kanker menyebar dengan kuat dan akhirnya tubuhnya tidak bisa menahan rasa sakit itu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
Anjani menjerit kala mendengar kabar jika putrinya di nyatakan meninggal dunia. Kondisinya yang sudah sangat parah dan ternyata selama ini Isabelle hanya menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Entah apa yang dipikirkan bocah kecil itu, karena selama ini setahu Anjani putrinya masih baik-baik saja. Keterangan dari dokter yang mengatakan jika kanker yang menjalar ditubuh Isan sudah tidak bisa di basmi lagi kecuali dengan pengobatan kemoterapi, tapi seperti semuanya sudah terlambat, Isabelle memilih untuk tidak bercerita tentang kesakitan nya dan meninggalkan Anjani sendiri.
"TIDAK ISABELLE!! JANGAN TINGGALKAN MAMA, NAK! MAMA JANJI AKAN SELALU ADA UNTUK ISABELLE!! BANGUN NAK, BANGUN!!"
Anjani menjerit meraung didepan jenazah sang putri. Keluarga satu-satunya yang dia miliki akhirnya pergi meninggalkan nya juga, seperti yang lain.
"Dokter!! Tolong selamatkan anak saya!! Dia harus hidup! Kalau perlu biarkan aku saja yang meninggal!"
"Bu, tolong ikhlaskan, putri Ibu sudah tiada dan kita akan mengatur pemakaman putri ibu secepat," ujar salah seorang dokter wanita yang menangani penyakit Isabelle.
"Tidak dokter, Isabelle hanya tidur dia tidak mungkin pergi meninggalkan Mamanya, Isabelle tahu kalau Mamanya begitu sayang, jadi pasti dia nggak akan pergi dok!" Anjani mencoba membuka kain penutup tubuh Isabelle tapi dua perawat pria langsung menahan-nahan.
Karena sejak tadi Anjani meraung dan meronta, akhirnya dia diberi suntikan penenang agar tidak membuat keributan. Pihak rumah sakit tahu jika Anjani sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa lagi. Jadi mereka hanya membaringkan tubuh Anjani di ruang perawatan.
__ADS_1
Sementara di sisi lain.
Malam sudah menyapa, Rea sudah sadar dari pingsannya tapi dia langsung menangis lagi. Kali ini Rea hanya terisak, dia sudah bisa mengontrol diri untuk tidak menjerit. Belum ada satu pihak polisi pun yang mengabari jika Kenzo dan Kelvin mengalami kecelakaan dan mereka meninggal ditempat.
Namun, berita terbakarnya mobil yang diduga milik Kenzo membuat nya tidak bisa tenang, sungguh Rea berharap jika mobil itu bukan milik Kenzo.
Rea memang sudah tenang tapi tetap saja hatinya gelisah.
Tadi saat Dokter datang, Bu Alfi menceritakan semuanya pada dokter penyebab putrinya bisa sampai Pingsan. Sang dokter meminta Bu Alfi untuk memberikan vitamin dan air putih yang banyak untuk Rea.
"Bu, apakah mas Kenzo sudah pulang?" Tanya Rea. Wanita itu masih berbaring miring sambil dielus rambutnya oleh sang Ibu
"Nanti pasti pulang, kamu jangan khawatir ya, polisi masih menyelidiki kasus terbakarnya mobil itu," jawab Bu Alfi menenangkan putrinya.
"Hiks, mas Ken bu, mas Ken kenapa belum menghubunginya Rea!" Bu Alfi hanya bisa memeluknya Rea dengan tatapan sendu, bahkan sekarang Bu Alfi ikut menangis.
"KAKAK! KAK REA! TUAN KEN, TUAN KELVIN KECELAKAAN!"
__ADS_1
Mea berlari masuk ke dalam kamar Rea sambil menangis, berita tentang kecelakaan itu ternyata sudah menyebar.
"Kak, ini tidak benar kan!" Mea bersimpuh di sampingnya ranjang Rea yang masih terbaring lemas.
Bu Alfi menggelengkan kepalanya menyuruh Mea untuk tidak mengucapkan apa-apa lagi karena kondisi Rea juga masih terguncang.
***
BRAK!!
Juan terkejut saat ruangannya terbuka dengan cara didobrak, dua orang berbadan besar masuk ke dalam ruangan itu dan tiba-tiba menarik Juan untuk berdiri.
"Woi lepas! Kalian siapa!" Juan berusaha melepaskan diri dari kedua orang itu.
Namun, sia-sia saat beberapa orang masik dan memberitahukan identitas mereka.
"Kami dari kepolisian, Anda kami tangkap atas kasus pembunuhan berencana!"
__ADS_1
Bersambung.