Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 10


__ADS_3

Hari hari Delon dan Luna terasa sangat bahagia. Meskipun hidup dengan kesederhanaan, tapi mereka merasakan kebahagiaan. Satu bulan sudah mereka menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Luna bersyukur karena Delon benar benar bertanggung jawab atas dirinya juga bayi yang ada di kandungannya. Delon sendiri juga merasa senang atas apa yang dia jalani saat ini. Bahkan dia tampak sangat semangat bekerja demi istri dan calon anaknya itu.


Tepat pada hari ini pula Delon mendapatkan gaji pertamanya setelah berhari hari dia bekerja sebagai kurir.


"Delon, lo anter 3 paket hari ini"ucap Gilang.


"Siap mas Gilang"sahut Delon semangat.


"Selesai itu balik dulu kesini jangan langsung pulang"ucap Gilang lagi.


"Oke mas"ucap Delon lalu pergi membawa 3 paket yang harus dia antar.


Delon segera mengantarkan paket paket itu. Dengan semangat dia melajukan motornya. Bahkan sesekali dia bersenandung ria di atas kendaraannya. Maklum, ntar mau trima gaji, jadi Delon begitu bahagia.


"Jalan Yy nomer 4"gumam Delon saat sampai di tempat tujuannya. Delon menatap rumah 2 lantai di depannya itu. Terlihat sederhana namun elegan.


Dengan membawa paket di tangannya, Delon menekan bel beberapa kali. Hingga munculan seorang pria paruh baya.


"Permisi pak, ada paket"ucap Delon sopan.


"Ya, ini uangnya"jawab pria itu sembari menyerahkan amplop coklat pada Delon.


"Terima ka_"belum selesai Delon berucap, pria itu sudah masuk dan menutup pintu. Delon hanya mengangkat bahunya acuh dan memilih pergi meninggalkan rumah itu.


Namun saat Delon berbalik, dia tak tau jika dibelakangnya ada orang. Alhasil Delon menabrak orang itu hingga keduanya terjatuh dengan posisi Delon menindih orang itu. Sesaat tatapan keduanya bertemu. Cantik, gumam Delon dalam hati. Delon menelisik penampilan gadis didepannya itu. Rambut pendek sebahu drngan warna coklat, baju model crop top hingga terlihatlah bagian perut. Lalu celana jeans pendek atas paha. Begitu seksi.


"Jangan melihatku seperti itu, nanti terpesona"bisik wanita itu di telinga Delon. Sontak saja Delon bangkit dan membenarkan bajunya yang sedikit berantakan.


"Lo nggak ada niat buat bantuin gue"ucap wanita itu.


"Maaf, saya permisi"ucap Delon berlalu begitu saja. Wanita itu menatap Delon dengan senyum smirk. Menarik, batinnya.

__ADS_1


.


.


.


Luna terlihat tengah bersantai di teras rumahnya. Karena warungnya tidak lagi ramai, jadi dia punya waktu untuk bersantai. Luna memainkan ponselnya yang tidak mahal. Meskipun tidak mahal, tapi Luna bersyukur masih memiliki ponsel yang bisa dia gunakan untuk bersosmed ria. Jadi dia tidak kudet kudet amat.


Dia menscrool akun sosmednya namun tangannya terhenti saat melihat postingan salah satu teman di sekolahnya dulu. Didalam postingan itu dapat Luna lihat, teman temannya tertawa bahagia dengan seragam putih abu abu yang melekat di tubuh mereka. Ya Tuhan, jika aku masih sekolah, pasti aku juga bahagia seperti mereka, batin Luna.


Cukup lama Luna menatap postingan temannya itu. Hingga dirinya memilih untuk tidak menyimpan ponselnya daripada dirinya merasakan kembali penyesalan yang pernah sia lakukan. Luna kembali termenung melihat jalanan kecil didepan rumahnya. Sepi. Mungkin karena siang hari jadi ibu ibu teangga memilih untuk di rumah saja. Apalagi cuacanya sangat terik.


"Mending bikin es daripada bengong"gumam Luna. Es jeruk siang siang begini, seger pasti. Luna mengusap bibirnya saat membayangkan minum es jeruk siang siang begini.


Selama hamil memang Luna tidak mengalami ngidam. Memang kehamilan Luna ini sangat menyenangkan, tidak ada morning sicknes tidak ada ngidam. Bahkan Luna masih bisa melakukan aktivitas meskipun terkadang mudah lelah.


Luna segera masuk kedapur mencari bahan untuk membuat es jeruk yang dia inginkan. Dengan semangat dia menuang air juga es batu saat jeruk dia peras sudah jadi.


Namun saat sampai di depan rumah, ternyata ada seorang pria yang sepertinya memang berniat bertamu. Fajar. Ya, pria itu adalah Fajar. Semenjak tau rumah Luna, Fajar memang sering berkunjung. Entahah apa motivasi pria itu, padahal Luna sudah menjelaskan bahwa dirinya wanita bersuami.


"Lun"sapa Fajar.


"Eh iya mas, silahkan duduk mas"ucap Luna.


"Makasih"jawab Fajar sambil melirik Luna yang membawa satu gelas es jeruk.


"Emm, maaf mas, aku nggak tau kalau ada mas Fajar, jadi cuma bikin satu"ucap Luna tak enak hati.


"Tak apa, aku cuma mampir"jawab Fajar tersenyum. Luna mengangguk dengan senyum kikuk.


"Suamimu kerja Lun?"tanya Fajar.

__ADS_1


"Iya mas, paling sebentar lagi pulang"jawab Luna. Fajar hanya menganggukan kepalanya saja.


.


.


.


Delon kembali kekantor tempat ia bekerja setelah selesai mengantarkan paket paketnya. Dengan senyum terus mengembang diwajahnya, Delon kembali memasuki kantor itu.


"Siang mas Gilang"sapa Delon.


"Ck, semangat bener lo mau dapet duit"ledek Gilang.


"Oo pastinya mas"ucap Delon dengan senyum penuh semangat.


"Nihh gaji lo"ucap Gilang seraya mengulurkan amplop coklat.


"Makasih mas"jawab Delon seraya menerima uluran amplop itu.


"Iya sama sama"ucap Gilang.


"Ntar malem mau ikut gue nggak?"tanya Gilang.


"Kemana mas?"tanya Delon balik.


"Happy happy, abis gajian ini"ucap Gilang. Delon berfikir sejenak. Memang semenjak menikah Delon tidak pernah keluar malam. Apalagi sendirian tanpa Luna.


"Gimana?"tanya Gilang.


"Ayolah mas, calling aja ntar ya"putus Delon. Mungkin aku juga butuh waktu buat sekedar main, pikir Delon.

__ADS_1


TBC


__ADS_2