Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 9


__ADS_3

Matahari menampakan sinarnya tanpa rasa malu. Disertai kicauan burung, menambah elok pemandangan pagi ini. Sepertinya semesta mengerti perasaan Delon dan Luna yang tengah semangat dan bahagia. Pagi ini Delon sudah siap untuk berangkat bekerja. Luna yang mendengar sang suami mendapat pekerjaan pun merasa senang pula.


Semalam Delon bercerita pada Luna bahwa dirinya sudah mendapat pekerjaan sebagai kurir. Dan Delon pun sudah langsung bekerja. Luna yang mendengar itupun merasakan apa yang Delon rasakan. Luna juga ikut senang mendengarnya.


Setelah sarapan dan berpamitan, Delon segera pergi untuk bekerja. Luna menatap kepergian Delon dengan senyum yang terus mengembang. Betapa bahagianya Delon mendapatkan pekerjaan. Dengan tak kalah semangat, Luna pun bergegas membuka warung. Menjemput rejekinya hari ini.


.


Delon mengendari motornya dengan kecepatan sedang. Setelah berkendara sekitar 20 menit, Delon sudah sampai di tempat kerjanya. Delon memarkirkan motornya lalu berjalan masuk ke kantor yang tidak besar dan mewah seperti kantor kantor ekspedisi lainnya. Sesampainya di dalam tak ada banyak paket yang harus Delon antarkan. Bahkan kemarin saja Delon hanya mengantarkan 2 paket saja. Namun setiap 1 paket yang di antar, Delon akan mendapat bayaran 50 ribu. Mahal bukan?


Sebenarnya Delon merasa aneh dengan pekerjaannya. Tapi tak ada yang aneh dari paket yang Delon antarkan. Paket yang seperti paket paket pada umumnya. Barang yang dimasukkan kedalam kardus dan di bungkus rapi dengan plastik hitam. Tidak ada yang aneh. Bahkan kemarin Delon mengantarkan paket itu kerumah orang orang kaya. Mungkin biayanya yang mahal jadi hanya orang orang tertentu yang menggunakan jasa paket itu, pikir Delon.


"Pagi mas Gilang"sapa Delon.


"Dateng juga lo"ucap Gilang.


"Nihh, hari ini lo kirim 5 paket"lanjut Gilang seraya menunjuk paket yang harus Delon kirim.


"Asikkk, bayaran gue banyak dong mas"sahut Delon.


"Asal kerja lo bagus dan tu paket dikirim tepat waktu, bos bakal kasih lo bonus"ucap Gilang.


"Siap mas Gilang"jawab Delon.


"Kalau gitu, gue berangkat dulu mas"pamit Delon. Gilang hanya tersenyum dan mengangguk melihat Delon yang begitu bersemangat.

__ADS_1


Delon menata paket yang akan dia kirim kepada pemiliknya. Karena memang hanya 5 paket yang Delon kirim, biasanya setelah selesai Delon akan langsung pulang. Karena memang Delon hanya bagian mengirim barang saja.


Delon mengendarai motornya menuju satu alamat kealamat lainnya. Sesuai ucapan Gilang kala itu, Delon memang mengantarkan paket tidak jauh, hanya sekitar perkampungan saja. Namun terkadang ada 1 atau 2 paket yang mengharuskan Delon ke pusat kota.


.


.


.


Berbeda dengan Delon yang berpanas panasan mengantarkan paket. Luna yang sedang melayani pembeli pun tak kalah semangat. Ibu ibu tentangga dekat rumah Luna banyak membeli sembako di warung Luna karena jaraknya yang dekat. Bahkan tak jarang pula bapak bapak yang membeli hanya karena ingin bertemu Luna yang masih muda dan berparas cantik.


"Huhh, akhirnya bisa istirahat"gumam Luna setelah 3 ibu ibu yang berbelanja sudah pulang.


Namun belum sempat Luna beranjak dari tempatnya, seorang pemuda datang menghampiri warung Luna.


"Ehh, iya mas"jawab Luna.


"Mau beli apa mas?"tanya Luna.


"Ehh, nggak kok, cuma mampir aja kebetulan lewat"jawab Fajar tersenyum. Luna hanya mengangguk dengan senyum kikuk.


"Kamu sendirian tinggal disini?"tanya Fajar.


"Nggak mas, saya disini sama suamu saya"jawab Luna jujur.

__ADS_1


"Kamu udah nikah?"tanya Fajar kaget.


"Sudah mas"jawab Luna. Fajar hanya tersenyum. Dia tidak tau jika gadis kecil di depannya itu sudah menikah.


"Emm, kalau begitu aku pamit dulu"pamit Fajar.


"Iya mas"jawab Luna tersenyum.


.


.


.


Jam masih menunjukan pukul setengah 1 siang. Namun Delon sudah sampai di rumahnya setelah bekerja. Delon mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut rumahnya. Sepi. Itu kesan pertama yang Delon lihat.


"Dimana Luna"gumam Delon. Delon mencari cari keberadaan Luna. Bahkan warungnya pun juga di tutup. Apa dia tidur siang? pikir Delon.


Delon bergegas melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dapat Delon lihat sang istri yang tertidur pulas di kasur sederhana itu. Delon berjalan mendekati Luna dengan pelan karena tak ingin membangunkannya. Dia menatap istrinya yang tengah hamil itu. Terasa sangat nyaman tidurnya.


Namun merasakan kasurnya yang jauh dari kata empuk, Delon merasa sedih. Dirinya saja yang tidak mengandung terkadang merasakan sakit di pinggangnya saat bangun tidur. Apalagi Luna yang tengah mengandung.


"Aku janji sayang akan mebahagiakan kamu dan anak kita nanti"ucap Delon lirih lalu mengecup kening Luna sekilas.


Delon beranjak dari kamarnya menuju meja makan. Karena merasa lapar Delon makan siang terlebih dahulu sebelum beristirahat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2