Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 29


__ADS_3

Seperti apa yang Dena bicarakan dengan Gilang waktu itu, hari ini mereka mengunjungi Delon bersama. Gilang menemui polisi dan membicarakan perihal maksudnya sedangkan Dena, dia memilih bertemu dengan Delon.


Kini Dena dan Delon sudah duduk saling berhadapan. Dena tampak tersenyum manis melihat Delon, dia tak membicarakan perihal Gilang yang akan membebaskannya karena memang seperti itu permintaan Gilang.


"Sayang"panggil Dena manja yang hanya dijawab deheman oleh Delon.


"Ishh, kamu kenapa sih cuek gitu, kamu nggak seneng ketemu aku sama baby kita"ucap Dena dengan bibir mengerucut.


"Aku seneng kok kamu datang"jawab Delon dengan senyum paksa.


"Selama aku nggak kesini, siapa aja yang mengunjungimu?"tanya Dena mengintimidasi. Dia tak ingin jika sampai Luna datang dan mengambil Delon kembali.


"Ibu ku dan Luna"jawab Delon jujur.


"Untuk apa dia datang kemari, mau rebut kamu dari aku"sungut Dena.


"Dia juga istriku jika kau ingat"jawab Delon sarkas.


"Ta_tapi dia sudah mengkhianati mu sayang"ucap Dena membela diri.


"Hahh, sudahlah sebaiknya kamu pulang, jaga anak ku baik baik"usir Delon. Bahkan kini Delon sudah beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dena tanpa menghiraukan teriakan Dena.


Dena mengepalkan tangannya erat saat Delon sudah tak terlihat. Dia tidak suka jika Delon sampai kembali pada Luna. Bisa hancur rencana yang aku dan Gilang susun, pikir Dena. Dia segera meninggalkan ruangan itu untuk menghampiri Gilang yang masih berbincang dengan seorang polisi.

__ADS_1


.


.


.


Sesampainya didalam sel, Delon menghela nafas berat. Dia merasa tak suka dengan apa yang Dena katakan tentang Luna. Semua itu murni karena kesalahpahaman, dan Delon mengakui itu. Delon duduk di atas tikar dengan punggung yang bersandar di dinding.


Berkali kali Delon menghela nafas, berharap rasa sesak di hatinya sedikit berkurang. Tapi ternyata sia sia. Semakin Delon mengatur nafas malah semakin membuat dadanya sesak. Bahkan air matanya sekarang sudah menetes. Delon marah sekaligus merasa bersalah. Marah dengan keadaan yang ia jalani saat ini. Namun Delon juga merasa bersalah pada Luna.


Dia menyalahkan dirinya sendiri seolah semua ini terjadi karena dirinya.


"Maafin aku Lun, maaf"gumam Delon sambil terisak. Hanya kata maaf yang dapat Delon ucapkan.


.


Disisi lain Dena dan Gilang tengah berdandengan tangan menuju parkiran mobil. Setelah hampir 15 menit Dena menunggu, akhirnya Gilang sudah selesai berbincang dengan polisi tadi. Sesampainya di depan mobil, Gilang membukakan pintu untuk Dena lalu sia mengitari mobilnya dan segera duduk di kursi kemudi.


Senyuman jelas jelas terpancar di wajah keduanya. Apalagi Gilang bisa membebaskan Delon. Dengan uang yang tak sedikit tentunya. Tapi semua itu akan terbayar dengan harta Delon, pikir mereka.


"Jadi gimana honey?"tanya Dena.


"Aman sayang, tapi kita harus menunggu 1 minggu untuk Delon benar benar bebas"jawab Gilang dengan semangat.

__ADS_1


"Tak masalah, yang penting setelahnya kita akan hidup senang tanpa harus bekerja keras"ujar Dena tak kalah semangat.


"Kamu benar sayang, apalagi setelah anak kita lahir, akan lebih mudah kita mengambil harta Delon"sahut Gilang.


Keduanya sama sama tersenyum senang. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana mendapatkan uang tanpa harus berkeja keras. Setelah Gilang berhasil memperalat Delon sebagai kurir narkoba meskipun ketahuan polisi, namun sekarang dia akan dengan mudah mendapatkan uang.


Dulu Gilang memang bukan orang berada. Gilang yang waktu itu kesusahan mencari kerja bertemu dengan seseorang dijalan dan orang itu menawari pekerjaan. Tentu saja Gilang langsung mengiyakan tawaran itu tanpa berfikir ulang. Yang penting uang, pikir Gilang kala itu.


Gilang juga sama dengan Delon yang berputar dari alamat satu ke alamat lain untuk mengantarkan paket. Bahkan waktu itu Gilang juga tak tau jika paket yang ia kirim adalah narkoba. Yang Gilang tau adalah dia mendapatkan gaji besar dari mengantar paket.


Bulan silih berganti, Gilang merasa ada yang tak beres dengan pekerjaannya. Mana ada seorang kurir di gaji sebesar itu, pikir Gilang. Hingga suatu saat Gilang yang penasaran mencoba membuka paket itu. Dan betapa terkejutnya Gilang saat tau jika isi dari paket itu adalah narkoba. Kini Gilang tau apa yang membuat bayarannya mahal. Tapi itu bukan masalah untuk Gilang. Karena Gilang sekarang sudah bergantung pada uang yang banyak.


Setelah rasa penasarannya terobati, Gilang berniat membungkus kembali paket itu. Namun naas, bos Gilang datang dengan tangan besekdekap dada. Gilang menatap bosnya dengan tersenyum.


"Tenang bos, semua aman dengan saya"ucap Gilang kala itu.


Hal itu tentu membuat bosnya tak percaya. Dia menatap Gilang dengan dahi berkerut namun sedetik kemudian dia tersenyum sinis.


"Aku percaya padamu"ujarnya.


"Aku akan percayakan bisnis yang ada disini padamu, urus semuanya, dan aku akan mengurus bisnis ku yang lain"lanjutnya. Gilang tersenyum senang mendengarnya. Jika aku dipercayai mengurus semua ini, pasti gajiku besar, pikir Gilang.


Dan seperti ucapan bosnya, kini Gilang lah yang mengurus semuanya. Hingga Gilang bertemu Delon dan memanfaatkannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2