Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 30


__ADS_3

Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun menyusuri halaman kantor polisi. Dengan senyum yang mengembang dibibirnya, Dena berjalan masuk kedalam. Hari ini tepat satu minggu setelah Gilang menemui polisi untuk membebaskan Delon dengan jaminan. Dan seperti rencana yang di atur Gilang, Denalah yang akan menjemput Delon. Agar seolah olah Denalah yang menjamin Delon. Dengan begitu Delon pasti akan lebih memilih Dena, pikir mereka.


Dena menemui seorang polisi yang berjaga dan mengatakan tujuan kedatangannya. Polisi yang memang sudah tau pun menyuruh Dena untuk menunggu semetara polisi tadi memanggilkan Delon. Dena pun mengangguk dan memilih duduk di kursi tunggu. Tak perlu menunggu lama, Delon sudah berada dihadapan Dena.


"Sayang"ucap Dena manja sambil memeluk Delon singkat.


"Kamu ngapain masih sering sering kesini"kesal Delon.


"Aku kan udah seminggu nggak kesini"ucap Dena cemberut.


"Aku sekarang kesini juga bukan cuma jenguk kamu kok"lanjut Dena.


"Dena, kamu jangan ngadi ngadi deh, aku masih dalam masa tahanan, aku nggak bisa ajak kamu jalan jalan kayak dulu lagi"ucap Delon berdecak.


"Aku kesini mau jemput kamu"ucap Dena.


"Ayo pulang"ajak Dena.


"Maksud kamu apa?"tanya Delon.


"Aku bebasin kamu dari sini dengan jaminan, jadi ayo kita pulang"ucap Dena.

__ADS_1


"Haha,, nggak gampang Dena bebasin aku dari penjara, ngaco deh kamu"ucap Delon sambil tertawa.


"Aku serius"ucap Dena.


"Aku sengaja bebasin kamu dengan semua tabungan yang aku punya, aku nggak mau hidup sendiri dengan anak kita, aku mau kamu sebagai seorang suami tinggal bareng, hidup bahagia bersama anak anak kita nantinya"lanjut Dena mendramatisir. Bahkan mata Dena sudah berkaca kaca.


Delon terdiam mendengar ucapan Dena. Benarkan Dena melakukan semua ini?pikir Delon. Delon menatap Dena yang menunduk dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Kamu nggak bohongkan Dena?"tanya Delon masih tak percaya.


"Kalau kamu nggak percaya sama aku, tanya aja sama polisi disini"ucap Dena ketus. Delon menoleh. Dia menatap seorang polisi yang berjaga. Dengan segera Delon menghampiri polisi itu dan menanyakan perihal apa yang dikata Dena barusan.


Setelah beberapa saat berbincang, Delon mengucapkan terima kasih dan segera menghampiri Dena kembali. Tanpa pikir panjang Delon langsung memeluk Dena erat. Dia tidak menyangka jika Dena akan melakukan hal ini.


.


.


.


Luna tengah memotong sayuran yang akan dia masak untuk makan malam. Dia memasak sendirian karena Rina sang ibu masih bekerja. Bekerja sebagai buruh cuci dan setrika membuat jam kerja Rina tak menentu. Jadi Lunalah yang melakukan pekerjaan rumah.

__ADS_1


Luna memotong sayur dengan pikiran yang agak gelisah. Entah mengapa Luna memikirkan Delon. Bukan hanya saat ini saja Luna memikirkan suaminya itu. Tapi entah mengapa kali ini Luna merasa terjadi sesuatu dengan suaminya itu.


Beberapa kali Luna menghembuskan nafas pelan mencoba untuk menghilangkan apa yang mengganjal di hati dan pikirannya. Namun tetap saja tak bisa. Semakin Luna berusaha untuk tenang, namun rasa khawatir itu malah semakin besar.


"Ya Tuhan, semoga Delon baik baik saja"doa Luna. Luna meghembuskan nafas perlahan sebelum kembali pada kegiatan memasaknya. Dia kembali memasak meskipun hati dan pikirannya masih di penuhi rasa kahwatir pada suaminya.


.


.


.


Delon dan Dena masih berada didalam taksi saat ini. Mereka masih dalam perjalanan pulang dari kantor polisi. Delon berniat mengajak Dena untuk tinggal di rumah yang ia tempati dulu bersama Luna. Terang saja hal itu membuat Dena bahagia. Ya meskipun harus tinggal di rumah sederhana, setidaknya bersama Delon, pikir Dena.


Delon mengusap kepala Dena sayang. Dena semakin mengembangkan senyumnya diperlakukan Delon seperti itu. Bahkan sedaei tadi Dena bergelayut manja dilengan Delon. Namun Delon tak mempermasalahkan hal itu. Dia merasa senang bukan kepalang saat Dena berusaha membebaskannya dari penjara di saat keluarga dan istrinya seperti tak memikirkan nasibnya.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 30 menit, kini taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti didepan rumah sederhana yang Delon tempati dulu. Setelah Dena membayar ongkos, Delon segera mengajak Dena untuk masuk.


"Sayang"panggil Delon.


"Aku mau mandi dulu, kamu istirahat aja, kasihan baby"lanjut Delon seraya mengusap lembut perut Dena sebelum dia pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dena mengangguk dan tersenyum melihat Delon yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Dengan segera dia menuju kamar dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah Gilang.


TBC


__ADS_2