Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 32


__ADS_3

Setelah semalaman saling melepas rindu, kini dua sejoli yang tengah kangen kangenan itu sedang melakukan sarapan yang kesiangan. Hanya berbekal telur ceplok yang Dena beli di warung mereka langsung menyantapnya. Delon dan Dena sama sama kesiangan karena kegiatan panas yang semalam terulang kembali.


Selesai sarapan Delon memebereskan piring piring kotor dan langsung mencucinya. Dia tak membiarkan Dena menyentuh pekerjaan apapun dengan dalih kehamilan. Delon benar benar memanjakan Dena saat ini. Dena yang mendapatkan perhatian Delon pun merasa senang. Dia hanya menyaksikan Delon yang sedang sibuk mencuci piring dari meja makan saja.


"Ngalamunin apa sih?"tanya Delon yang sudah duduk di depan Dena.


"Ehh"kaget Dena. Dia menatap Delon hingga tak sadar jika Delon sudah didepannya.


"Ngalamunin apa sih sampe nggak tau aku udah disini"tanya Delon.


"Nggak ada, cuma kagum aja sama kamu"jawab Dena tersenyum manis. Delon tertawa melihat Dena yang menurutnya lucu.


"Emm, sayang"panggil Dena.


"Ya, kenapa?"tanya Delon.


"Kamu nggak mau kasih tau kaluargamu kalau kamu udah bebas?"tanya Dena lirih.

__ADS_1


Huftt


Delon menghela nafas berat. Dia belum memikirkan hal itu sekarang. Yang dia pikirkan saat ini adalah kebahagiaan karena sudah bebas. Dan yang membebaskannya adalah Dena. Itu sudah cukup baginya.


"Setidaknya kamu memberi mereka kabar gembira atas kebebasanmu"ucap Dena lagi.


"Tapi jika aku mengatakan hal ini pada mereka, aku pasti akan kembali tinggal disana, bagaimana denganmu"lirih Delon.


"Aku akan menunggumu kembali, temui mereka, aku yakin mereka pasti bahagia"ucap Dena meyakinkan.


"Terima kasih sayang, aku janji akan secepatnya kembali bersamamu"ucap Delon seraya memeluk Dena.


"Aku akan siap siap, kamu jaga diri baik baik disini, jaga anak kita, kalau ada apa apa telfon aku, kalau butuh sesuatu bilang aja, oke"ujar Delon setelah pelulannya terlepas. Sedangkan Dena hanya menganggukan kepalanya sambil mengulas senyum manis.


Seperti hari hari sebelumnya, lagi dan lagi Luna lebih banyak termenung. Memikirkan nasib suaminya yang saat ini di penjara. Hahh, Luna benar benar sangat ingin menjenguk Delon walau hanya sebentar. Tapii, ya sudahlah. Sabar saja.


Luna mendongak menatap matahari yang serasa di atas kepalanya. Luna memutuskan mempercepat langkahnya agar segera sampai rumah dan beristirahat.

__ADS_1


Tadi karena suntuk, Luna memutuskan untuk keluar rumah sekedar jalan jalan. Namun dibalik itu tujuan Luna ya agar dirinya bisa sejenak melupakan Delon. Namun hasilnya tetap sama, bahkan sampai tengah hari pun di jalan Luna terus memikirkan Delon.


"Hahh, akhirnya sampai"gumam Luna saat sudah sampai di rumah.


Dia segera kekamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya yang kotor lalu beranjak masuk kekamarnya. Merebahkan tubuh dan pikirannya yang lelah. Hingga tanpa sadar Luna sudah memejamkan mata dengan dengkuran halus yang keluar dari mulut kecilnya. Ahh, sungguh damai sekali saat Luna tengah tidur seperti ini.


Tak berbeda jauh dari Luna, Niken juga mengalami hal yang sama. Sebagai seorang ibu pasti memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang anak. Sudah beberapa hari Niken merasa ada yang terjadi dengan anaknya, Delon. Ingin rasanya Niken pergi menjenguk Delon. Namun semua itu tak bisa dia lakukan.


Kala itu saat dirinya pergi menjenguk Delon dengan Luna, ternyata Niken pergi secara diam diam. Tentu saja hal itu dia lakukan karena tak ingin Diman marah. Namun siapa sangka, hal itu juga dikehatui oleh Diman. Entah darimana Diman tau jika dirinya mengunjungi Delon. Dan sejak saat itu Niken benar benar tak dijinkan keluar rumah jika bukan untuk membeli keperluan rumah.


Niken duduk termenung di depan tv tanpa menatap acara tv yang sedang berlangsung. Hingga atensinya beralih pada suara ketukan pintu rumahnya. Niken segera berdiri dan membukakan pintu.


Ceklek


"Ibu"


Deg

__ADS_1


TBC


__ADS_2