
Wajar ketika seorang ibu kecewa jika anak yang dia asuh dengan penuh kasih sayang disakiti oleh orang lain. Apalagi oleh seorang laki laki yang berstatus suami dari anaknya atau menantunya. Namun kembali lagi, jika anak merasa bahagia hidup bersama pasangannya meskipun pernah disakiti, kita sebagai orang tua tak bisa berbuat apa apa.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Termasuk tentang jodoh. Namun apalah daya, meskipun kita menentang sebuah hubungan, tapi jika sudah takdir Tuhan, kita tak bisa berbuat apa apa.
Seperti halnya yang dialami Rina. Rina merasakan kekecewaan yang teramat mendalam. Setelah Luna mengecewakannya dengan hamil diluar nikah, kini Delon, sang menantu mengecewakannya dengan mengkhianati juga menyakiti anak perempuannya.
Ingin sekali Rina mengambil anak perempuannya kembali dan menyuruh mereka bercerai. Namun jika Luna sebagai seorang istri merasa kesalahan suaminya masih bisa dimaafkan, Rina hanya bisa mendoakan.
Huftt
Terdengar Rina menghela nafas berat. Ditatapnya anak dan menantunya yang tengah duduk berdampingan dengan menundukan pandangan. Mungkin mereka takut jika Rina tak mengijinkan mereka untuk bersatu kembali.
Tadi setelah Rina mengajak semuanya masuk, Delon mengutarakan niatnya untuk kembali membawa Luna kekota dan hidup bersamanya. Tentus aja Delon berjanji tidak akan lagi menyakiti Luna. Bahkan Diman sebagai orang tua Delon juga ikut meyakinkan Rina dengan memberikan pekerjaan pada Delon.
Diman memberi Delon modal untuk membuka usaha seperti dirinya. Berjualan beras. Bahkan Diman yang akan mengawasi semuanya untuk sementara waktu hingga Delon benar benar bisa menjalankam usahanya sendiri.
"Luna, Delon"sontak kedua insan yang senantiasa menunduk itu mendongak saat merasa dipanggil.
__ADS_1
Bisa mereka lihat tatapan Rina yang seakan tak rela melepaskan kembali anak perempuannya untuk tinggal jauh dari dirinya.
"Jika memang itu pilihan kalian, ibu ijinkan"ujar Rina.
"Tapi jika nak Delon sudah tak menginginkan Luna, ibu minta tolong, kembalikan Luna secara baik baik, jangan kamu sakiti hati anak ibu lagi"lanjut Rina dengan isak tangis. Sontak Luna langsung menghambur kepelukan ibunya.
Berbeda dengan Luna, Delon merasa sangat bersalah. Kata maaf yang dia ucapkan seolah tak ada artinya. Belum Delon membawa Luna, namun dia sudah menorehkan sejuta kebohongan dan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan.
.
.
.
Delon duduk ditepi ranjang sedangkan Luna berbaring dengan posisi membelakangi Delon. Suasana memang masih canggung saat ini. Delon dan Luna sama sama bingung untuk membuka obrolan.
He'emm
__ADS_1
"Lun"panggil Delon.
"Ya"jawab Luna seraya merubah posisinya menghadap Delon yang masih duduk ditepi ranjang.
"Maaf"cicit Delon.
"Sudah tidak ada yang perlu dimaafkan, sekarang kita hanya perlu memulainya dari awal"bijak Luna dengan tersenyum.
"Terima kasih Lun, terima kasih kamu sudah memberi aku ksempatan"ucap Delon seraya menggenggam tangan Luna. Entah apa yang Delon ucapkan saat ini adalah sebuah kesadaran atau tidak. Karena secara tidak langsung Delon sudah menyakiti Luna. Lagi.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi"pungkas Luna.
"Terima kasih"ucap Delon seraya mengecup kening Luna mesra. Luna memejamkan matanya saat bibir Delon menempel dikeningnya begitu lama. Luna benar benar merindukan sentuhan Delon.
Namun kemesraan itu tak berlangsung lama saat dering ponsel Delon membuyarkan semuanya. Delon menatap nama yang tertera pada ponselnya.
"Aku terima telfon dulu ya"ijin Delon seraya keluar kamar. Luna pun hanya mengangguk. Sebenarnya dia penasaran kenapa Delon harus keluar jika hanya menerima telfon. Tapi karena tak ingin membuat Delon marah, Luna hanya bisa pasrah.
__ADS_1
TBC