
Gilang terbaring di ranjang dengan deru nafas yang tak beraturan. Meskipun demikian, Gilang merasa senang karena baru saja selesai bergulat panas dengan kekasihnya, Dena. Ya baru saja selesai sarapan, Gilang langsung mengajak Dena bergelut atas ranjang. Dena pun juga senang saat Gilang dengan terang terangan memintanya.
Gilang bangun dan duduk bersandar pada ranjang tanpa busana. Dia menatap Dena yang tengah memejamkan matanya dengan senyuman.
"Sayang, bagaimana? apa Delon sanggup membelikan rumah?"tanya Gilang.
"Entahlah, Delon hanya mengiyakan permintaan ku tanpa memberi kepastian"jawab Dena.
"Tapi kamu tenang saja, aku akan terus membujuk Delon agar dia membelikan ku rumah. Apalagi sekarang dia sedang perjalanan kembali ke kota bersama Luna, pasti dengan mudah aku mendapatkan rumah"lanjut Dena tersenyum.
"Ya, kamu harus memanfaatkan keberadaan Luna. Kamu harus mengancamnya dengan itu"sahut Gilang.
"Kami tenang saja, selagi Delon masih ada, kita akan dengan mudah hidup enak"ujar Dena seraya bangkit dari tidurnya.
Dena beranjak duduk di pangkuan Gilang yang masih polos. Tanpa sungkan Dena mengalungkan tangannya dileher Gilang dan mengecup bibir Gilang singkat.
"Kita nikmati saja saat saat seperti ini"bisik Dena seraya mengigit kecil telinga Gilang.
Tentu saja Gilang menyambutnya dengan penuh semangat. Bahkan kimi Gilang sudah menc*um bibir Dena sengan tangan yang sudah bertengger di dada Dena. Hingga terjadilah pergulatan panas ronde kedua di pagi menjelang siang itu.
.
__ADS_1
.
.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, kini Delon dan Luna sudah sampai di rumah yang mereka tempati. Dulu. Luna turun dari mobil dan menatap rumah sederhana yang dulu menjadi saksi kisah rumah tangganya bersama Delon. Luna memejamkan mata sesaat sebelum kakinya melangkah memasuki rumah yang akan ia tempati kembali.
Begitu Luna membuka pintu utama, dapat ia lihat jika semuanya masih seperti dulu. Tak ada yang berubah. Bahkan penempatannya punasih sama. Luna semakin melanglahkan kakinya masuk kedalam, mengelilingi rumah itu hingga dirinya masuk kedalam kamar. Luna menelisik seluruh sisi kamar yang sepertinya masih sama seperti dulu.
Luna sempat ragu saat membuka kamarnya. Dia takut ada yang membuatnya kecewa. Namun ternyata tidak, Luna tersenyum melihat isi kamarnya yang masih sama persis.
"Kenapa?"Luna tersentak kaget saat Delon ternyata sudah berdiri didelakangnya. Bahkan tangannya pun sudah melingkar diperut Luna.
"Kenapa, hemm?"tanya Delon lagi.
"Mau mencobanya?"tanya Delon ambigu.
"Apa?"tanya Luna dengan dahi berkerut.
"Olahraga ranjang di kamar lama kita"bisik Delon yang sukses membuat Luna merinding.
"Ishh, kamu kan harus mengawasi orang yang mengantarkan beras"jawab Luna menghindar meskipun sebenarnya dia juga merindukan sentuhan suaminya itu.
__ADS_1
"Mereka masih dalam perjalanan yang cukup jauh, masih ada waktu"ujar Delon.
"Ayolah, memang kamu nggak kangen sama ini"ucap Delon sedikit memaksa. Bahkan Delon lebih menekan bagian bawahnya yang menempel pada b*kong Luna.
Luna membelalakan matanya saat merasakan sesuatu milik Delon sudah mengeras tepat di bagian b*kongnya. Meskipun sebenarnya dia juga merindukan permainan ranjang bersama Delon, namun masih ada sekelebet rasa takit menghinggap di hati dan pikiran Luna saat dirinya keguguran kala itu.
"Maaf, aku belum bisa"ujar Luna seraya menjauh dari Delon.
"Kenapa?"tanya Delon kecewa.
"Aku_aku takut tak bisa menjaganya seperti saat itu"lirih Luna tertunduk.
Dada Delon bergemuruh saat mengdengar gumaman Luna. Ingatan Delon menajam saat dirinya marah karena kesalahpahaman kala itu. Delon benar benar tak tau jika itu membuat Luna seperti ini. Dia merasa sangat bersalah.
"Maaf, maafkan aku"ucap Delon seraya membawa Luna kedalam dekapannya.
"Maafkan aku yang tak bisa menjaganya"ucap Delon lagi. Sedangkan Luna hanya bisa mengangguk lemah dalam dekapan Delon tanpa mampu berkata kata.
"Maaf, aku nggak tau kalau kamu masih trauma karena itu"ucap Delon seraya melonggarkan pelukannya.
"Aku bantuin beres beres yuk, mumpung truk berasnya belum sampai"ujar Delon mengalihkan pembahasan. Luna pun hanya mengangguk. Dan keduanya pun kini mulai menata barang barang yang mereka bawa dari kampung.
__ADS_1
TBC