
Selesai berkeliling dan makan di mall, Delon dan Luna memilih untuk langsung pulang. Mereka tak bisa meninggalkan tokonya terlalu lama takut takut ada pembeli yang kecewa karena sering tutup. Meskipun seseorang yang membuka usaha sendiri itu lebih fleksibel daripada orang yang bekerja ikut orang lain. Namun tetap saja, konseisten itu perlu.
Sepanjang perjalanan pulang Luna hanya diam saja. Jujur, dalam hati Luna yang paling dalam masih bertanya tanya mengenai kehamilan Dena tadi. Ya meskipun Luna sendiri sempat melihat seorang laki laki yang memanggil Dena sayang, namun tetap saja Luna merasa cemas.
Delon yang melihat Luna diam pun mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Luna.
"Kenapa? hemm"tanya Delon.
"Nggak apa apa"elak Luna dengan senyum paksa.
"Kalau ada apa apa cerita aja, kalau mau tanya, tanya aja"ujar Delon. Luna menoleh kearah Delon. Dapat Luna lihat Delon tersenyum manis padanya. Meskipun hanya sebentar karena Delon harus fokus pada kemudinya.
"Aku nggak akan paksa kamu buat cerita, tapi, kalau kamu udah siap buat cerita, aku siap denger cerita kamu"ucap Delon dengan tatapan lurus kedepan fokus pada jalanan.
"Iya, maaf aku belum bisa cerita"ucap Luna lirih.
"Nggak apa apa, aku tau kamu masih penyesuaian sama aku setelah apa yang terjadi"ucap Delon tersenyum kecut. Delon menepikan mobilnya dan beralih menatap Luna lekat. Diambilah tangan Luna dan di genggamnya erat.
"Maafkan aku, karena kebodohanku hubungan kita menjadi seperti ini. Kita memang kembali bersama, namun aku merasa hubungan kita tak ada bumbu bumbu apapun, hambar"ujar Delon masih dengan senyum kecut.
"Maafkan aku"lirih Delon menunduk.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf karena aku belum bisa sepenuhnya kembali menerimamu"ucap Luna lirih. Delon mendekat dan memeluk Luna erat.
"Kita lalui ini sama sama ya, aku dan kamu"ucap Delon yang di balas anggukan oleh Luna. Delon segera melepaskan pelukannya dan menatap Luna lekat.
"Kita pulang ya"ajak Delon seraya menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Dalam perjalanan, seskali Delon melirik Luna. Dia tidak menyangka karena kebodohannya membuat rumah tangganya seperti ini. Bahkan meskipun diriya sudah mendapatkan maaf, Luna seakan masih enggan dengannya.
Delon pun tak bisa berbuat apa apa selain mengerti istrinya itu. Delon sadar, jika semua yang terjadi saat ini karena ulahnya sendiri. Jadi Delon pun hanya bisa sabar.
.
.
.
"Jangan sampai hubungan kita ketahuan sama mereka"ucap Gilang.
"Itu harus, sekarang apa yang kita lakuin?"tanya Dena bingung.
"Kita harus pergi dari sini"ucap Gilang.
__ADS_1
"Kamu gila, kalau kita pergi, gimana kita bisa hidup"sungut Dena.
"Kamu tenang dulu sayang aku belum selesai bicara"santai Gilang yang ditatap tajam oleh Dena.
"Jadi kita nggak pergi ninggalin kota ini, kita hanya menyingkir sebentar dari sini, saat kita nggak ada didekat Delon, pasti hubungan mereka baik baik aja, dan hal itu membuat Luna nggak curiga sama kehamilan kamu"lanjut Gilang.
Mendengar penjelsan Gilang, Dena sudah mulai paham. Dia mengangguk anggukan kepalanya dengan senyum liciknya seolah dia tau apa isi kepala Gilang.
"Kamu paham sekarang?"tanya Gilang tersenyum licik.
"Yahh, aku paham"jawab Dena tersenyum.
"Kamu memang pintar sayang"puji Dena seraya mengecup bibir Gilang sekilas.
"Ya, dan kamu harus tau itu"pogah Gilang.
"Kita hanya perlu menentukan kapan kita akan pergi, masalah biaya kamu sudah tau kan"ucap Gilang licik.
"Kamu tenang saja, aku urus hal itu"ujar Dena. Keduanya sama sama tersenyum licik. Sungguh mereka memang pasangan yang cocok.
TBC
__ADS_1