
Tak ada orang tua yang tega melihat anaknya menderita. Kalau pun memang karena keadaan, orang tetap akan berusaha agar sang anak bahagia. Menyekolahkan anak setinggi mungkin adalah cita cita setiap orang tua. Berharap kelak anak anak mereka memiliki kehidupan yang layak. Tidak seperti kedua orang tuanya.
Rina, seorang ibu yang merasa gagal mendidik anaknya. Setelah kepergian sang suami, Rina berusaha keras bekerja sebagai buruh cuci untuk membiayai hidupnya juga anak semata wayangnya. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar anaknya mengenyam bangku pendikikan. Meskipun Luna mendapat beasiswa, tetap saja kebutuhan sekolah lainnya seperti buku dan alat tulis Luna harus membeli sendiri. Rina bangga dengan prestasi yang Luna raih. Dengan begitu Rina berharap suatu saat sang anak akan mendapatkan pekerjaan yang layak juga kehidupan yang lebih baik.
Namun siapa yang tau, Luna Anjani melakukan kesalahan yang membuat sang ibu kecewa. Rina yang menemukan sebuah tespack dengan dua garis merah di kamar mandi sepeti mendapatkan hantaman keras di dadanya. Dengan menahan sesak dan kekecewaan, Rina tetap berfikir positif sebelum dia tau kenenarannya. Hingga ternyata Luna mengakui bahwa benda itu adalah miliknya. Hancur. Hati Rina hancur seketika. Air mata yang dia tahan luruh begitu saja. Gagal. Rina gagal menjaga anak gadisnya.
__ADS_1
Rina menangis saat mengingat kejadian kala itu. Apalagi sekarang anak dan menantunya itu seperti diasingkan. Di kirim oleh keluarga besannya kesebuah kampung terpencil. Meskipun Rina kecewa dan marah, namun sebagai seorang ibu dia tak akan tega mengusir anaknya. Kalau bukan karena Luna audah menikah, Rina tak akan membiarkan anaknya itu jauh dari dirinya.
Rina mengusap air matanya disela sela aktivitas mencucinya. Dia kepikiran Luna yang kini mengandung. Apalagi jauh dari dirinya. Apakah Luna sudah makan? Apa dia sehat disana? Apa dia bahagia disana? banyak pertanyaan di benak Rina. Namun dia sendiri tak tau harus berbuat apa. Bahkan Rina merasa kesepian dirumah karena Luna adalah ana satu satunya. Yang bisa dia lakukan hanya berdoa untuk anak juga menantunya itu.
.
__ADS_1
Niken ingin sekali menemui anak dan menantunya itu. Namun Diman, sang suami tak mengjinkan. Diman selalu bilang biarkan mereka merenungi kesalahannya. Suatu saat, mereka pasti akan kembali bersama kita. Itu yang selalu Diman katakan.
Namun meskipun begitu, jauh didalam lubuk hatinya, Diman juga merasakan kerinduan kepada anaknya itu. Meskipun pernah marah dan kecewa, orang tua tetaplah orang tua. Diman memendam rasa rindunya pada Delon. Dia berharap jika Delon merenungi kesalahannya. Hanya doa yang bisa mereka panjatkan untuk anak dan menantu mereka.
"Ya Tuhan, berikan kesehatan dan kebahagiaan kepada anak dan menantuku"doa Diman dalam hati. Dia merasa kesepian tak ada di sampingnya.
__ADS_1
Harusnya di usianya yang sudah tak muda lagi, Diman beristirahat di rumah tanpa harus memikirkan pekerjaan. Namun karena anak perempuannya di boyong oleh suaminya keluar kota, Diman terpaksa masih mengurus usahanya. Ditambah lagi sekarang anak laki lakinya tidak ada di sampingnya. Mengharuakan Diman mengurus semuanya.
TBC