
Selesai sarapan, Luna bergegas merapikan piring dan gelas bekas dirinya dan Delon makan. Luna berdiri didepan wastafel dengan tangan yang lincah mencuci piring dan gelas kotor. Namun meskipun raga Luna tengah mencuci piring, pikiran Luna masih berkelana kemana mana. Mengingat dengan siapa Delon pagi tadi melakukan panggilan telfon. Sebenarnya ingin sekali Luna bertanya akan hal itu, apalagi keadaan yang canggung membuatnya tak nyaman. Tapi apalah daya, Luna takut jika Delon akan marah padanya.
Selesai mencuci piring dan membersihkan dapur, Luna berniat untuk mandi. Namun siapa sangka, saat Luna membalikan badan, terlihat Delon yang masih setia duduk dimeja makan sembari menatap dirinya. Luna yang ditatap pun menjadi salah tingkah. Luna pikir Delon sudah pergi dari meja makan saat dirinya mencuci piring tadi.
Luna mencoba menetralkan kegugupannya. Dia mencoba mengacuhkan Delon dan segera melangkah menuju kamar mandi. Namun belum sempat kaki Luna melangkah jauh, sebuah tangan sudah mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana?"tanya Delon.
"A_aku mau mandi"jawab Luna gugup. Delon melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Luna berlalu.
"Jangan lama lama ya, gantian"ucap Delon sebelum Luna benar benar masuk kekamar mandi. Dan Luna pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
Delon kembali duduk dimeja makan sambil memainkan ponselnya sambil sesekali menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Hingga tak butuh waktu lama pintu kamar mandi itupun terbuka.
Mendengar suara pintu yang dibuka, Delon yang tengah menatap ponsel pun mengalihkan pandangannya. Dan betapa shoknya Delon saat melihat Luna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit menutupi bagian dada hingga setengah pahanya saja.
Sebagai seorang lelaki normal tentu saja Delon merasa terangsang. Apalagi Luna adalah istrinya, ingin rasanya Delon menerkamnya sekarang. Namun mengingat Luna masih trauma kehilangan anak pertama mereka, Delon pun mengurungkan niatnya dan mencoba fokus kembali pada ponselnya meskipun tidak bisa.
Sedangkan disisi lain, Luna merutuki kebodohannya yang lupa membawa baju ganti. Dengan langkah gugup Luna segera berlalu kekamar untuk berganti pakaian.
Sesampainya di kamar Luna bersandar dibalik pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
__ADS_1
"Huhh, tenang Luna, dia suamimu"lirih Luna lalu beranjak menuju lamari mengambil pakaian yang akan dia kenakan.
Selesai berpakaian, Luna berniat keluar kamar mencari Delon. Dia ingin menanyakan pekerjaan apa yang bisa dia bantu di warung berasnya itu. Namun belum sempat Luna membuka pintu, dari luar pintu sudah terbuka lebih dulu. Luna membelalakam matanya saat melihat Delon berdiri didepan pintu dengan handuk yang melilit bagian pinggang kebawah.
Sama halnya Luna, Delon juga merasa malu. Dia berdehem untuk menetralkan kegugupannya.
"Aku siap siap dulu, kita jalan jalan"ucap Delon seraya masuk kekamar meninggalkan Luna yang berdiri mematung di depan kamar dengan pintu yang tertutup rapat.
.
.
.
Memang niat awalnya Delon akan datang ke kos Dena, namun entah kenapa Delon malah hanya transfer saja. Dena pun tak mempermasalahkan hal itu, toh yang dia cari memang uangnya, bukan orangnya.
Setelah selesai makan, Dena segera mengajak Gilang untuk kembali. Dena begitu semangat jalan jalan karena baru saja mendapat uang. Gilang pun tak kalah senang. Karena dia bisa jalan jalan tanpa harus mengeluarkan uang.
Sampai di kos, Dena dan Gilang sama sama berganti pakaian. Gilang seselai lebih dulu dan menunggu Dena yang sedang memoles wajahnya dengan make up tipis.
"Udah?"tanya Gilang saat Dena menghampirinya.
__ADS_1
"Udah dong"jawwb Dena semangat.
"Semangat banget sih yang mau jalan jalan"goda Gilang.
"Iya dong kan mau jalan jalan, nggak perlu keluarin uang lagi"jawab Dena dengan tawa.
Gilang pun ikut tertawa dan merangkul pundak Dena mengajaknya keluar. Tentu saja Delon mengenakan kumis juga rambut palsunya.
.
Karena jarak kos Dena yang tak jauh dari pusat kota, hanya butuh waktu 20 menit saja mobil yang Gilang kendarai sudah sampai di parkiran mall di kota mereka. Dengan semangat Dena turun dari mobil bahkan sampai meninggalkan Gilang.
Gilang hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kekasihnya itu. Gilang ingin melangkah kakinya menyusul Dena namun urung karena ponselnya berdering. Gilang pun berhenti untuk mengangkat telfon dulu di parkiran. Nanti saja aku menyusul Dena, pikir Gilang.
Sedangkan Dena yang terlanjur senang, dia tak sadar jika Gilang tak ada di sampingnya. Dia malah sibuk memilih baju yang menurutnya menarik. Hingga
"Dena"
Deg
TBC
__ADS_1