Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 26


__ADS_3

Luna menangis dalam pelukan Delon. Senang, bahagia dan terharu bercampur menjadi satu. Bahkan Luna tak bisa berkata kata saat Delon terus mengucapkan kata maaf.


"Maafin aku Lun"ucap Delon seraya melepaskan pelukannya. Tangannya terangkat mengusap air mata Luna lalu mengajak Luna untuk duduk.


"Kalian bicara berdua, ibuk tunggu di luar"sela Niken. Dia berniat memberi waktu untuk sepasang suami istri itu berbicara empat mata. Niken berharap setelah keduanya saling bicara akan ada hasil yang bahagia.


Sepeninggalan Niken kedua insan itu masih saling diam. Luna yang merasa bahagia karena bertemu dengan Delon sampai tidak bisa berkata kata. Sedangkan Delon sedikit ragu untuk memulai berbicara karena Luna sedari tadi juga hanya diam.


"Lun"panggil Delon.


"Maafin aku"lanjut Delon seraya menggenggam tangan Luna.


"Maafin aku yang egois, maaf aku pergi gitu aja tanpa denger penjelasan kamu lebih dulu, maaf udah buat kamu kehilangan anak kita, maaf Lun"ucap Delon dengan berderai air mata.


"Aku udah maafin kamu"lirih Luna dengan air mata yang menetes pula.


"Makasih Lun, makasih"ucap Delon kembali memeluk Luna. Luna hanya mengangguk dalam pelukan Delon. Dia memang sudah memaafkan Delon sejak lama. Apalagi yang terjadi kala itu memang kesalahpahaman.


"Boleh aku bertanya?"tanya Luna.


"Apapun Lun"jawab Delon.


"Selama ini kamu tinggal dimana?"tanya Luna.


"Aku tinggal di tempat kerja"jawab Delon jujur. Luna diam. Dia ingin menanyakan perihal rekaman CCTV yang diperlihatkan Fajar kala itu namun tak berani.


"Kenapa? hemm"tanya Delon seraya mengusap lembut pipi Luna.


"Tanyakan saja, pasti akan aku jawab jujur"ucap Delon saat melihat Luna ragu.


"Apa wanita yang waktu itu adalah wanita yang sama dengan vidio ini?"tanya Luna seraya menuodorkan ponselnya.


Dahi Delon berkerut kala itu. Dia tak tau vidio apa yang di maksud Luna. Namun mengingat Luna menyebut wanita itu, bisa dipastikan bahwa yang dimaksud Luna adalah Dena.


Dengan rasa penasaran Delon mengambil ponsel Luna dan memutar vidio itu. Seketika mata Delon membola meliha vidio dimana dirinya tengah memadu kasih dengan Dena. Bahkan jantungnya sudah berdetak sangat kencang.


"A_aku bisa jelasin Lun"ucap Delon panik.

__ADS_1


"Aku pasti denger penjelasan kamu"sahut Luna.


"Jelaskan"lanjut Luna.


"Sebelumnya aku minta maaf"Luna terdiam.


"Memang benar wanita itu adalah dia"


Jederr


Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Luna sakit sesakit sakitnya mendengar pengakuan Delon. Namun kali ini air mata Luna tak menetes, bahkan Luna masih dia tak bereaksi apapun.


"Maafkan aku Lun, waktu itu aku kecewa saat lihat kamu dalam gendongan pria lain, aku mengira kamu selingkuh hingga aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Dena"jujur Delon.


"Maafkan aku Lun"lirih Delon seraya menggenggam tangan Luna.


"Aku sudah memaafkan mu, aku tak masalah dengan apa yang kamu lakukan dividio itu"ucap Luna.


"Tapi jika wanita itu hamil, ceraikan aku"sambung Luna dengan lantang. Bahkan tanpa melihat kearah Delon, Luna segera berlalu mencari keberadaan ibu mertuanya.


Sedangkan Delon, pria itu ingin mengejar Luna tapi sudah terlebih dulu ditahan oleh polisi. Delon hanya bisa pasrah saat dibawa kembali ke sel tahanan.


.


.


.


Didalam perjalanan pulang Niken terus menatap menantunya yang sedari tadi diam. Bahkan Luna terus menatap keluar jendela. Ingin rasanya Niken bertanya kenapa? namun dia takut membuat Luna tak nyaman. Hingga akhirnya Niken memilih untuk diam. Dia akan mencari tau sendiri lain waktu.


Tak terasa perjalanan panjang mereka sudah berakhir. Kini mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah Luna. Luna yang melamun tak sadar jika sudah sampai.


"Lun"panggil Niken seraya menepuk pundak Luna.


"Iya buk"jawab Luna kaget.


"Ngalamunin apa?"tanya Niken.

__ADS_1


"Ehh enggak kok buk"jawab Luna tersenyum paksa.


"Turun yukk, udah sampai"ajak Niken.


"Apa kamu mau tidur di rumah ibuk?"tawar Niken.


"Ehh, enggak buk, Luna tidur dirumah aja nemenin ibuk"tolak Luna halus.


"Siapa tau kamu pengen tidur dikamar Delon"goda Niken. Luna tersenyum kikuk.


"Jangan dipikirin, yuk turun"ajak Niken dan disambut anggukan oleh Luna.


Kini Niken dam Luna sudah sampai di teras rumah Luna. Namun siapa sangka, kedatangan keduanya langsung disambut tatapan tajam Rina.


"Ibuk"sapa Luna seraya mencium punggung tangan Rina.


"Darimana kamu?"tanya Rina.


"Emm, Lun_Luna abis jalan jalan sama bu Niken"bohong Luna.


"Jangan bohong"sarkas Rina.


"Emm maaf, memang benar bu Rina, saya mengajak Luna jalan jalan, biae bagaimana pun Luna juga anak saya, menantu saya"ucap Niken menyela.


"Lain kali jangan mengajak anak saya pergi tanpa seijin saya"ucap Rina sinis.


"Luna, lain kali ijin sama ibuk kalau mau pergi"ucap Rina pada anaknya itu.


"Iya buk, maaf"jawab Luna menunduk.


"Emm, kalau begitu saya permisi, maaf sudah membuat kalian tidak nyaman"pamit Niken.


"Lain kali janga sembarang mengajak anak saya, apalagi jika anda diam diam membawa anak saya mengunjungi Delon"ucap Rina.


"Saya memang memberi Delon kesempatan, tapi selama Delon masih dipenjara dan belum menampakan dirinya di hadapan saya untuk meminta maaf, jangan harap saya akan membiarkan anak saya berhubungan lagi dengan Delon"lanjut Rina. Niken hanya menganguk kemudian berlalu meninggalkan rumah Luna.


Niken tidak mempermasalahkan ucapan Rina karena memang yang diucapkan Rina ada benarnya. Semua ini memang salah Delon yang menyimpulkan secara sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2