Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 15


__ADS_3

"Ouhh,, shh, lebih cepat sayang"racaunya. Delon yang berada diatas tubuh Dena pun mempercepat tempo bermainnya.


"Shh, aku mau sampai sayang"ucap Dena tersenggal.


"Bersama sayang"ucap Delon sambil terus memompa intinya pada inti Dena.


Aarhhhh


Erangan panjang menandakan keduanya sudah sama sama mencapai *******. Delon menjatuhkan tubuh polosnya di atas tuhuh Dena yang juga polos. Dia memejamkan mata sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal senggal. Bahkan intinya pun belum dia cabut dari inti Dena.


Dena pun demikian, dia memejamkan matanya sambil mengatur kembali nafasnya. Dia tak segan segan memeluk tubuh polos Delon. Bahkan sesekali Dena mengecup pucuk kepala Delon yang ada di dadanya.


Setelah siang tadi menemani Dena jalan jalan dan berbelanja, Delon mengajak Dena ke club yang biasa mereka kunjungi. Sudah sejak Delon datang dan tak sengaja bertemu dengan Dena waktu itu hingga sekarang mereka selalu melakukan hal yang sama.


Delon membuka matanya dan lansung disuguhkan pucuk gunung Dena yang mencuat minta di kulum. Dengan sengaja Delon mengulum puncuk gunung itu gemas. Dena memejamkan matanya menerima sentuhan Delon.


"Sshh"desis Dena saat Delon semakin menjadi jadi.


"Aahh, sayang jangan digigit"ucap Dena manja.


"Gemes sayang"ucap Delon sambil menc*um pucuk gunung itu.


"Aauu, punya mu menggeliat sayang"ucap Dena dengan nada menggoda.

__ADS_1


"Kerena punyamu begitu menggoda sayang hingga dia terus bangun saat bersamamu"ucao Delon tak kalah menggoda.


"Bersiaplah untuk ronde selanjutnya sayang"bisik Delon yang kemudian menc*um bibir Dena rakus. Dena yang masih menginginkan pun membalas c*uman itu tak kalah rakus. Hingga terjadilah ******* kedua dan seterusnya.


.


.


.


Ditempat lain, Luna tak bisa memejamkan matanya padahal jam sudah menununjukan pukul 9 malam. Padahal biasanya Luna sudah tidur saat jam baru menunjukan 7 malam. Dia hanya merubah ubah posisinya agar segera bisa tidur.


Memang selama Delon tidak pulang, Luna selalu tidur lebih cepat. Luna selalu melakukan hal demikian karena dia berharap jika dia bangun nanti, Delon sudah kembali.


Luna bangun dari ranjang dan memilih untuk keluar kamar. Karena tidak biaa tidur Luna memilih untuk menonton tv saja. Siapa tau ngantuk, pikir Luna. Berulang kali Luna mengganti siaran tv-nya, namun tak ada satu pun yang membuatnya tertarik. Akhirnya Luna kembali mematikan benda elektronik itu.


Luna menyerngitkan keningnya heran, siapa yang bertamu malam malam begini. Karena penasaran, Luna membukakan pintu.


"Loh, mas Fajar"kaget Luna. Luna membantu Fajar untuk masuk. Jika dilihat dari tampilannya, Fajar sedang tidak baik baik saja.


Luna menutup mulutnya saat mencium bau asing. Emm, apa ini? bau alkohol, batin Luna.


"Aku buatin teh hangat ya mas"ucap Luna seraya berbalik menuju dapur. Namun sebelum Luna berbalik, Fajar lebih dulu menarik tangan Luna hingga Luna terjatuh dipangkuannya. Luna yang merasa tak nyaman pun ingin bangun, namun lagi lagi Fajar menahannya. Bahkan Fajar memeluknya erat.

__ADS_1


"Mas, jangan seperti ini"tolak Luna.


"Kenapa Lun? kenapa? kenapa kamu lebih pilih pria yang ninggalin kamu?"tanya Fajar.


"Kenapa kamu lebih pilih dia yang pergi daripada aku yang jelas jelas ada disini"tanya Fajar lagi. Bahkan kini Fajar sudah menangis dipelukan Luna.


Luna yang merasakan bajunya basah tau jika Fajar tengah menangis. Merasa tidak tega, Luna membalas pelukan Fajar dan mengelus punggung Fajar lembut.


"Aku cinta sama kamu Luna"ucap Fajar. Kini Fajar sudah melepas pelukanya dan menatap wajah Luna lekat.


"Aku cinta kamu Luna"ulang Fajar dan mendekatkan wajahnya hingga


Cup


Mata Luna membola kala bibir kenyal Fajar menempel pada bibirnya. Tak hanya menempel, Fajar juga mel*mat dan meny*sapnya meskipun Luna tak membalas. Luna yang masih d ambang kesadaran segera mendorong dada Fajar kuat hingga tautan bibirnya terlepas.


"Nggak sopan kamu mas, aku ini istri orang"bentak Luna. Fajar yang terpengaruh alkohol pun hanya meracau tak jelas.


Luna jadi bingung sendiri harus bagaimana. Membiarkan Fajar di rumahnya tak mungkin, tapi mengusir Fajar pun tak mungkin juga. Apalagi mengantarnya pulang, rumahnya saja tidak tau. Luna mondar mandir didapur saking bingungnya. Hingga atensi Luna teralih saat mendengar orang muntah.


Luna berlari keruang tamu dan disana Fajae tengah memuntahkan isi perutnya. Luna hanya menyaksikan saja tanpa berniat mendekat. Luna takut jika Fajar akan berbuat yang tidak tidak padanya. Hingga saat seluruh isi perutnya keluar, Fajar tergeletak di sofa. Dan saat itulah baru Luna mendekat.


"Mas"panggil Luna pelan. Luna juga menoel noel lengan Fajar.

__ADS_1


"Huftt, tidur"ucap Luna lega. Luna beranjak lagi kedapur mengambil alat kebersihan untuk membersihkan muntahan Fajar tadi. Setelah selesai Luna masuk kekamarnya dan menguncinya rapat. Takut takut jika Fajar masuk karena Luna membiarkan Fajar tidur disofa ruang tamu miliknya.


TBC


__ADS_2