
Niken memeluk erat seorang pria remaja yang ada di depannya. Bahkan air matanya tak henti hentinya menetes. Dengan mengucapkan segala rasa syukur, Niken terus memeluk anaknya. Delon. Delon yang memang diijinkan pulang oleh Dena langsung memberi kejutan untuk kedua orang tuanya. Dia juga tak kalah terharu saat sudah sampai dirumah.
"Buk udah dulu peluknya, kita masuk"sela Diman yang sedari tadi menyaksikan dua insan yang saling melepas rindu.
Meskipun dengan berat hati, Niken melepaskan pelukannya. Dia mengandeng tangan Delon dan menuntunya masuk. Mereka duduk di sofa ruang tamu dengan keadaan hening. Belum ada yang memulai obrolan.
"Pak, buk"panggil Delon. Dengan meneteskan air mata, Delon bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya sambil mengucakan kata maaf.
Tak henti hentinya Delon meneteskan air mata dengan mulut yang terus mengucapkan kata maaf. Sedangkan Niken dan Diman juga sudah tak bisa menahan air mata mereka dengan tanfan yang terus mengusap punggung Delon lembut.
"Maafin Delon pak, buk. Delon sudah mengecewakan bapak dan ibu"ucap Delon seraya mendongak menatap kedua orang tuanya.
"Bangunlah nak"ucap Niken. Delon bangkit dan duduk di antara kedua orang tuanya. Hening. Sejenak mereka berpelukan menyalurkan rasa rindu antara ketiganya.
"Bagaimana bisa kamu disini Delon?"tanya Diman.
"Sebenarnya_" Delon mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa bebas. Jujur? Tentu saja tidak, Delon tidak mengatakn kebenaran. Hanya kebohongan yang Delon ucapkan.
Dia bercerita bahwa dirinya dibebaskan oleh bosnya. Bosnya yang merasa bersalah pada Delon akhirnya membebaskan Delon dengan jaminan. Mendengar cerita sang anak, Diman dan Niken merasa bersyukur. Ternyata bosnya Delon masih peduli, pikir mereka.
"Bersyukurlah kamu nak, masih ada orang baik yang peduli denganmu"ucap Niken sembari memeluk Delon.
__ADS_1
"Iya buk"jawab Delon.
"Delon, apa kamu sudah menemui Luna?"tanya Diman.
"Belum pak"jawab Delon.
"Rencananya Delon akan kesana bersama bapak dan ibu"lanjut Delon.
"Baiklah, sekarang kita siap siap ke rumah Luna"ucap Diman. Mereka mengangguk setuju. Dan sejurus kemudian mereka semua beranjak kekamar masing masing untuk siap siap.
.
.
.
"Sudah semua Lun?"tanya Rina yang baru saja dari luar mengangkat jemuran yang sudah kering.
"Sudah buk, masih ada lagi?"tanya Luna.
"Ini, kamu setrika baju bu Niken, ibu mau lanjutin nyucinya"ucap Rina yang di angguki oleh Luna.
__ADS_1
Dengan telaten Luna menyetrika satu persatu baju milik mertuanya itu. Niken memang sudah lama menggunakan jasa Rina. Selain kerjanya rapi, Rina juga cepat dalam pengerjaan. Jadi tak heran masih banyak pelanggan Rina yang mengunakan jasanya meskipun sudah banyak jasa laundry yang lebih canggih.
Sedangkan ditempat lain, Delon menatap dirinya didepan cermin besar dikamarnya. Dia menatap sendu dirinya sendiri yang merasa sudah banyak berbohong pada kedua orang tuanya. Dia tak habis fikir dengan dirinya sendiri. Namun jika bukan karena Dena, sudah dipastikan di akan mendekam dipenjara 2 tahun lamanya.
Dia menghela nafas berat sebelum akhirnya mengganti pakaiannya. Setelah selesai, berkali kali Delon menghela nafas. Berusaha menetralkan otak dan hatinya sebelum berhadapan dengan Luna.
Tok tok tok
"Delon, sudah siap?"tanya Niken berteriak.
"Ya buk"jawab Delon berteriak pula.
Huftt
Dengab langkah pasti Delon menghampiri kedua orang tuanya yang ternyata menunggu didepan kamarnya.
"Sudah?"tanya Niken.
"Sudah buk"jawab Delon. Niken mengangguk dan segera mengajak suami dan anaknya itu mengunjungi rumah besannya.
TBC
__ADS_1