
Luna yang sudah selesai dengan urusan makan pagi serta membersihkan diri, segera membuka warung. Meskipun pikirannya kalut memikirkan Delon, Luna tetap berusaha berfikir positif. Tadi selesai mandi, Luna mencoba menghubungi Delon namun tidak bisa. Berkali kali Luna mencoba menelfon suaminya itu, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban dari seseorang yang dia pikirkan. Hanya suara operator saja yang menjawab Luna.
Tak ingin berfikir yang tidak tidak, Luna memilih untuk membuka warung saja. Berharap otaknya bisa berjalan sebagai mana mestinya. Luna membuka gembok warung miliknya. Setelah berhasil Luna berniat menyimpan gembok itu di gantungan yang terbuat dari paku. Karena letaknya yang sedikit tinggi, membuat Luna harus berjinjit agar bisa menggapainya.
Namun karena memang tinggi badan Luna yang tak seberapa juga pikirannya yang masih kalut, Luna malah tergelincir.
Bugh
"Auwss"rintih Luna. Dia memegangi perutnya yang sedikit kram. Dia juga merasakan kakinya yang terasa sangat sakit. Seperti keseleo.
"Auwss"rintih Luna saat dirinya mencoba untuk berdiri. Dia celingukan untuk mencari bantuan.
"Tolongg"teriak Luna tertahan karena merasakan perut bagian bawahnya semakin sakit.
"Auwss, bertahan sayang"lirih Luna sambil memegangi perutnya.
"TOLONGGG"teriak Luna.
Dijalan depan rumah Luna, Fajar yang memang berniat mendatangi Luna mendengar suara teriakan minta tolong. Fajar menyerngitkan keningnya heran saat dia tak melihat dimana orang yang meminta tolong itu.
"TOLONGG" Seketika Fajar menoleh kearah rumah Luna.
"Luna"teriak Fajar saat melihat Luna terduduk sambil memegangi perutnya.
"Auwss, mas tolong mas"lirih Luna. Bahkan air matanya sudah jatuh entah dari kapan.
"Oke oke, kamu tenang ya"ucap Fajar. Dia segera menggendong Luna membawanya masuk kedalam rumah.
Sampai di dalam, Fajar berniat merebahkan Luna di sofa ruang tamu. Namun belum sempat Fajar merebahkan Luna, seseorang lebih dulu membuka pintu. Dan hal itu sukses membuat Fajar dan Luna menoleh.
"Delon"ucap Luna.
"Delon, ini nggak seperti yang kamu kira"ucap Luna saat Delon hanya diam di depan pintu. Luna berniat turun dari gendongan Fajar, namun karena kakinya memar juga perutnya sakit, Luna malah terjatuh.
"Delon"teriak Luna.
__ADS_1
"DELONNN"teriak Luna lagi. Luna menatap Delon yang berbalik mengendari motornya dengan kencang.
"Delon"lirih Luna dengan berderai air mata.
.
.
.
Delon mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan beberapa kendaraan lain yang menklaksonnya bahkan meneriakinya, Delon terus melajukan motornya kencang.
Setelah meninggalkan wanita yang tak dia kenal di club tadi, Delon berniat pulang dan meminta maaf pada Luna. Namun apa yang dia dapat saat sampai dirumah? Delon malah melihat istrinya digendong oleh pria lain. Sakit. Ya, Delon sakit hati melihatnya. Punya niat baik ingin minta maaf malah dia yang merasa dikecewakan.
"AaaaHhhh"teriak Delon saat berhenti dipinggir jalan yang sepi.
"Lo bodoh Delon ,bodoh, nggak seharusnya lo pulang, nggak ada yang peduli sama lo"teriak Delon.
"Bahkan istri lo sendiri berkhianat, buat apa lo mau minta maaf"marah Delon pada dirinya sendiri. Air mata yang sedari tadi dia tahan kini sudah mengalir deras. Kecewa? Tentu saja Delon kecewa. Selama menjalin hubungan dengan Luna, tak sekalipun dari mereka yang berkhianat. Hanya kali ini saja Delon yang mabuk dan membuat kesalahan karena meniduri wanita lain tapi Delon berniat meminta maaf. Namun apa yang dia dapat saat sampai dirumah. Hanya sebuah kekecewaan.
.
.
.
Seorang wanita terbaring lemah di brankar dengan mata yang masih setia terpejam. Luna. Setelah dirinya terjatuh dan Delon salah paham karena dirinya di gendong oleh pria lain, kini gadis cantik itu tengah terbaring lemah. Fajar yang melihat Luna pingsan secara tiba tiba langsung membawanya ke puskesmas terdekat.
Sesampainya disana Luna segera ditangani oleh dokter yang berjaga. Dan betapa shocknya Fajar saat tau Luna keguguran. Fajar yang memang tidak tau Luna hamil tentu saja kaget. Dokter mengatakan bahwa janin yang baru seukuran biji kedelai itu harus di keluarkan dengan cara di kuret. Karena jika tidak akan membahayakan Luna sendiri. Awalnya Fajar bingung harus berbuat apa. Namun karena bertaruh nyawa seseorang, Fajar berani mengambil keputusan.
Fajar duduk di kursi sebelah ranjang Luna. Karena dia tak tau harus menghubungi siapa, jadi Fajar menunggu saja sampai Luna sadar. Dia menatap wajah Luna yang terlelap. Meskipun sedikit pucat, namun tak mempengaruhi kecantikannya. Tangan Fajar terangkat membelai pipi mulus Luna. Pelan, bahkan sangat pelan. Fajar tak ingin membuat Luna terganggu.
Eughh
Mendengar Luna melenguh, Fajar segera menyingkirkan tangannya dari pipi Luna.
__ADS_1
"Ma_mas Fajar"lirih Luna.
"Iya Lun, ini aku"ucap Fajar.
"Minum dulu"ucap Fajar lagi seraya membantu Luna untuk minum.
"Aku kenapa ada disini mas?"tanya Luna mengamati ruangan sekitar.
"Tadi kamu pingsan jadi aku bawa kesini"jawab Fajar.
"Pingsan"gumam Luna. Ingatan Luna kembali pada kejadian pagi tadi. Dirinya jatuh dan toling Fajar. Namun naasnya Delon malah salah paham.
"Delon, suami aku mana mas"panik Luna.
"Lun, Luna, kamu tenang dulu"ucap Fajar menenangkan.
"Aku nggak bisa tenang mas kalau Delon masih salah paham"marah Luna.
"Iya aku tau, tapi kondisi kamu masih lemah"ucap Fajar.
"Nggak mas, aku udah sehat"ucap Luna sedikit berteriak. Bahkan Luna mencoba untuk turun dari ranjang. Padahal kakinya masih bengkak dan memar
"Kamu jangan nekat Lun"cegah Fajar.
"Aku harus jelasin ke Delon mas"teriak Luna emosi.
"Aku tau tapi nggak sekarang"ucap Fajar masih sabar.
"Terus kapan mas? sampai Delon benar benar marah sama aku baru aku jelasin"marah Luna.
"Kamu baru aja siuman Lun, bahkan kamu baru aja di kuret"teriak Fajar tak kalah emosi.
Deg
TBC
__ADS_1