
Seperti apa yang di ucapkan semalam. Kini sepasang pasutri muda itu tengah berada di rumah bidan desa yang mereka tinggali. Mereka tau letak rumah bidan tersebut berkat bertanya kepada bu Ningsih. Bahkan bu Ningsih juga ikut mengantar.
"Kalau dilihat dari HPHT, usia kandungannya sudah memasuki minggu ke-8, jika ingin tau pastinya bisa di periksakan untuk USG ke dokter spesialis"ucap bidan itu tersenyum ramah.
"Ini saya beri vitamin, jangan lupa diminum"lanjut bidan itu.
"Terima kasih bu bidan, kami permisi dulu"pamit bu Ningsih di ikuti oleh Delon dan Luna.
Kini mereka tengah berjalan kaki menuju rumah. Karena memang jarak yang tak jauh, mereka memilih jalan kaki saja. Bu Ningsih dan Luna terlihat tengah mengobrol di depan. Sedangkan Delon berjalan di belakang kedua wanita itu sambil menenteng kresek berisi vitamin yang diberi oleh bidan tadi.
Delon terigat ucapan bidan tadi yang menyarakan untuk USG. USG? pasti biayanya mahal. Pikir Delon. Darimana dapat uang jika pekerjaan saja Delon tak punya. Sedangkan warung Luna baru sehari jalan. Uang yang di beri Diman pun tinggal sedikit karena sudah dipakai untuk modal berjualan.
Delon bertekad untuk segera mendapatkan pekerjaan. Ya, apapun pekerjaannya Delon tak masalah. Yang penting dia bisa menabung untuk biaya USG dan persalinan Luna nanti.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, kini mereka sudah sampai didepan rumah Delon. Sedangkan bu Ningsih sudah pulang kerumahnya.
"Lun, aku keluar dulu ya"pamit Delon.
"Mau kemana"tanya Luna.
"Aku mau cari kerja lagi, siapa tau hari ini beruntung"jawab Delon tersenyum. Luna tersenyum pilu mendengar jawaban Delon yang begitu semangat. Ya Tuhan, mudahkanlah urusan suami hamda. Doa Luna dalam hati.
"Kamu jaga rumah ya, kalau capek nggak usah buka warung dulu, jangan lupa vitaminnya di minum"ucap Delon menasehati.
"Iya pasti aku minum"jawab Luna. Delon mengangguk lalu jongkok di depan perut Luna.
"Sayang, jangan nakal ya, jagain mama, doain papa juga ya biar cepet dapet kerja"ucap Delon lalu mengecup perut Luna singkat.
"Aku berangkat ya"pamit Delon lalu mengecup kening Luna singkat. Luna tersenyum dan mengangguk pada suaminya itu.
__ADS_1
Luna berdiri menatap motor Delon yang semakin menjauh. Dirinya bisa melihat betapa Delon begitu semangat untuk mencari kerja. Aku juga harus semangat, tekad Luna. Dengan senyum, Luna bergegas membuka warung semoga ramai pembeli.
.
.
.
Di tempat lain, Delon yang sudah sampai kota berhenti untuk istirahat sebelum berkeliling mencari pekerjaan. Delon sebenarnya tak tau harus kemana lagi untuk mencari pekerjaan. Pasalnya dia sudah berkeliling hampir keseluruh kota. Namun karena tak ingin membuat Luna kepikiran, Delon rela walau dengan susah payah.
Dirasa cukup melepas penat, Delon membayar minuman yang dia beli dan segera melajukan motornya. Namun belum sempat Delon melajukan motornya, seseorang terlebih dulu memanggilnya.
"Iya mas, ada apa?"tanya Delon.
"Bisa minta tolong antar saya ke jalan xx?"tanya pria itu. Delon tampak berfikir, dirinya ingin mencari pekerjaan tapi orang itu memintanya untuk memgantarkan kesuatu tempat.
"Tapi saya bukan tukang ojek"ucap Delon.
"Nanti saya bayar lebih"lanjutnya. Bayar? Delon kembali memikirkan tawaran pria asing itu. Dirinya butuh pekerjaan. Akhirnya tanpa pikir panjang Delon mengiyakan tawaran pria asing itu.
Delon melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju lokasi yang di maksud pria asing itu. Tak sampai 15 menit, mereka sudah sampau tujuan.
"Tunggu saya, saya cuma sebentar"ucap pria itu dan segera berlalu. Delon memperhatikan pria yang barusan dia antar. Pria itu memasuki sebuah rumah kecil yang cukup sepi. Bahkan seperti tak berpenghuni. Tak ingin menerka nerka, Delon hanya acuh saja. Yang terpenting dirinya mendapatkan upah setelah pria itu kembali.
Benar saja, pria asing itu kembali menghampiri Delon yang duduk diatas motornya.
"Apa kamu bisa mengantar saya lagi? lokasinya tak jauh dari sini"tanya pria itu.
"Maaf mas, tapi saya harus mencari pekerjaan"tolak Delon.
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak sekolah?"tanyanya.
"Tidak mas"jawab Delon jujur.
"Kenapa?"tanya pria itu penasaran. Delon diam. Dia binging harus menjawab apa. Tak mungkin dia menceritakan apa yang dia alami. Bisa di cemooh banyak orang nanti.
"Ahh sudahlah, itu tidak penting"ucap pria itu.
"Apa kamu mau bekerja di tempat saya?"tantanya.
"Bekerja apa mas?"tanya Delon.
"Sebagai kurir"jawabnya.
"Tapi ijazah saya cuma SMP, bahkan saya tidak memiliki SIM"ucap Delon.
"Tak masalah, nanti kamu kebagian yang daerah kampung saja, tak akan banyak polisi berazia"ucap pria itu.
"Bagaimana?"tanyanya.
"Boleh mas, kapan saya kerja?"putus Delon. Dia tak tau harus mencari pekerjaan apalagi. Jadi ketika ada orang yang menawarinya kerja, langsung saja dia mau. Apalagi hanya sebagai kurir, cukup membawa paket dan mengantarkannya kepada pembeli. Mudah bukan?
"Mulai hari ini, nanti saya antar ke kantornya"ucapnya.
"Ahh iya, nama saja Gilang"ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Saya Delon mas"jawab Delon.
"Oke, Delon. Sekarang antar aku dulu ke jalan Xz, baru nanti aku antar ke kantor"ucap Gilang. Dengan semangat membara Delon mengantarkan Gilang kealamat yang dituju.
__ADS_1
TBC