
Selesai makan Delon membuka toko beras yang dia kelola. Dia menimbang beras menjadi kemasan 5 dan 10 kg. Delon sudah mendapat beberapa pelanggan yang minta dikirim beras setiap 3 hari sekali. Ada juga yang minta dikirim dalam partai besar setiap satu minggu sekali. Jadi Delon harus semangat bekerja. Belum lagi warga di kampung yang membeli beras miliknya. Hal itu membuat Delon semakin semangat.
Disisi lain rumah sederhana itu, Luna tengah membereskan bekas alat makan yang baru mereka gunakan. Luna memang sudah biasa melakukan pekerjaan rumah, jadi tak sulit bagi Luna mengerjakan pekerjaan ini.
Selesai mencuci piring, Luna membuatkan kopi untuk Delon.
"Sibuk banget ya?"tanya Luna seraya melatakan nampan berisi kopi dan cemilan.
"Iya, pesenan mulai banyak"jawab Delon tersenyum.
"Minum dulu"ujar Luna seraya menyodorkan kopi buatannya. Dengan senang hati Delon menerima uluran itu.
"Makasih sayang"ucap Delon setelah meneguk kopi buatan Luna.
Luna hanya tersenyum dan mengangguk. Kini dia beralih duduk dan membantu Delon menimbang beras beras pesanan itu. Dengan tangan yang sibuk bekerja, mulut mereka pun juga tak henti hentinya bekerja. Delon dan Luna berbincang layaknya suami istri pada umumnya. Tak jarang juga Delon menggoda Luna yang membuat Luna kesal dan malu.
"Kamu tadi darimana?"tanya Luna di tengah tengah aktivitasnya.
Sejenak Delon menghentikan pergerakan tangannya dan menatap kearah lain untuk menghilangkan kegugupannya.
"Emm, aku habis ambil uang dari pelanggan"bohong Delon.
"Kenapa nggak bangunin aku dulu?"tanya Luna.
"Kamu tidur nyenyak banget, makanya aku nggak tega bangunin"kilah Delon.
__ADS_1
"Udah selesai nih, tidur yuk"ucap Delon mengalihka pembicaraan.
"Beresin dulu ini baru tidur"ujar Luna.
"Udah biarin aja, besok diberesin"sahut Delon.
"Sekarang aku mau beresin kamu diranjang dulu"bisik Delon. Setelahnya Delon menggendong Luna hingga membuat Luna kaget dan mengalungkan tangannya dileher Delon.
Merasa malu dengan ucapan Delon, Luna pun menyembunyikan wajah meronanya pada dada bidang Delon dengan senyum kecil. Delon yang melihat istrinya malu pun tertawa gemas.
.
.
.
Dena mematutkan dirinya didepan cermin terlebih dahulu sebelum keluar. Dirasa sudah sempurna, barulah dia melenggang keluar kos dengan anggun. Dena memesan taksi setelah sampai di jalan raya depan kosnya.
"Ke cafe glory ya pak"perintah Dena pada sopir taksi.
Taksi yang di tumpangi Dena pun melaju dengan kecepatan sedang. Dena pun menikmati perjalannya dengan berkirim pesan pada Delon jika dia sudah dijalan.
.
Di tempat lain Delon juga sudah rapi dan siap. Dia memang menerima tawaran Dena untuk bertemu di luar. Delon berniat menanyakan tentang apa yang dikatakan ibu kos Dena kemarin.
__ADS_1
Delon keluar kamar dan bertemu dengan Luna yang tengah melayani tetangganya yang membeli beras. Dia tersenyum melihat semangat Luna juga sikap Luna yang begitu ramah.
Dengan senyum di bibirnya, Delon menghampiri Luna saat pembeli sudah pergi.
"Jangan terlalu capek"ucap Delon memeluk Luna dari belakang.
"Nggak bakalan capek, tetangga juga belinya nggak banyak, paling 5kg, aku masih kuat kok"ujar Luna mengusap tangan Delon yang melingkar diperutnya.
"Mau kemana? kok udah rapi aja?"tanya Luna.
"Mau antar beras"jawa Delon setengah jujur. Karena memang Delon keluar sekalian mengantarkan beras pada pelanggannya.
"Ya udah sana berangkat, keburu siang"ujar Luna.
"Kiss dulu"ucap Delon tersenyum.
"Ishh, apaan sihh"sahut Luna malu.
"Sayang ayolah, kiss dulu biar semangat"rengek Delon. Luna tersenyum lucu melihat Delon merengek.
CUP
"Udah sana berangkat"ucap Luna menunduk menyembunyikan wajah malunya. Delon pun terkekeh melihatnya. Bahkan dengan jailnya Delon mer*mas pay*dara Luna dan bergegas meninggalkan Luna yang menggerutu.
TBC
__ADS_1