
Delon mengendarai motor yang ia pakai waktu di kampung dulu dengan kecepatan sedang. Karena hari sudah larut malam, jadi jalanan begitu lenggang. Bahkan waktu tempuh Delon yang seharusnya 30 menit bisa ia tempuh dalam waktu 20 menit saja.
Kini Delon sudah sampai di depan rumahnya. Dan betapa terkejutnya Delon saat melihat Luna berdiri diteras rumah. Apa yang Luna lakukan malam malam begini, pikir Delon.
Delon segera turun dari motornya dan menghampiri Luna.
"Luna, kamu ngapain diluar, ini udah malam?"tanya Delon.
"Aku nungguin kamu"jawab Luna sambil menguap karena sudah sangat mengantuk.
Delon tertegun mendengar jawaban Luna. Ternyata Luna menunggunya sejak tadi. Padahal dirinya pamit hanya untuk mengantarkan beras pada konsumennya. Namun itu semua ternyata hanya alasan belaka. Ya Tuhan, ampuni hamba karena terus terusan berbohong, ucap Delon dalam hati.
"Maaf ya, tadi habis nganter beras, aku muter dulu cari warung warung, siapa tau mereka mau ambil beras dagangan dari kita"kilah Delon.
"Iya, nggak apa apa"jawab Luna tersenyum.
"Yang penting sekarang kamu udah pulang, aku khawatir kamu kenapa kenapa dijalan, aku juga takut kamu ketemu wanita lain"lirih Luna.
Tubuh Delon menegang kala Luna mengucapkan wanita lain. Apa Luna tau kalau aku masih berhubungan denga Dena? Apa mungkin Luna sudah tau semuanya? banyak pertanyaan di benak Delon. Bahkan keringat sudah memnasahi pelipisnya. Namun Delon menenangkan diri agar dirinya tak gugup.
"Ya nggak lah"kilah Delon.
"Kamu udah kasih aku kesempatan, dan itu nggak mungkin aku sia siain"lanjut Delon meyakinkan. Luna pun tersenyum mendengarnya.
"Yuk masuk istirahat, aku capek banget"ajak Delon yang di jawab anggukan oleh Luna.
__ADS_1
Luna menunggu Delon memarkirkan motornya ditempat yang tersedia. Setelah selesai, dengan senang hati Luna mengandeng lengan Delon memasuki rumah mereka. Delon pun tak masalah akan hal itu. Bahkan Delon membalasnya sengan mencium pucuk kepala Luna singkat.
Sesampainya di kamar mereka segera merebahkan diri diatas kasur empuk. Sungguh nyaman. Hingga akhirnya mereka memilih memejamkan mata dan menjemput mimpi.
Tak ada anu anu sebelum tidur antara pasutri muda itu. Luna yang masih trauma kehilangan, sedangkan Delon tak mau Luna melakukannya dengan terpaksa. Jadilah hanya tidur saling memeluk saja sudah cukup.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain, Gilang segera keluar dari tempatnya sembunyi dan mulai masuk di sebuah kos sederhana. Kos siapa lagi kalau bukan Dena. Sebenarnya Gilang sudah sejak tadi sampai, tapi sat tau Delon ada disana, Gilang memilih untuk bersembunyi dulu di tempat yang tak jauh dari tempat kos Dena.
"Apa yang baru saja kamu lakukan dengan pria bodoh itu?"tanya Gilang menyelidik.
"Apa yang aku lakukan? tentu saja aku tak melakukan apa apa"jawab Dena enteng.
"Ck, sudahlah, jangan bohong sayang, kamu pasti habis anu kan sama Delon"selidik Gilang.
"Ngapain aku main sama pria bodoh sedangkan disini sudah ada kamu"jawab Dena manja. Bahkan kini Dena sudah menyingkap selimut yang sedari tadi menutupu tubuhnya itu.
Gilang dibuat terpana kala menatap Dena berbaring dengan lingerin tipis berwarna merah yang melekat ditubuhnya. Dengan senyum dibibirnya, Gilang melangkahkan kakinya mendekati Dena. Saat sampai di depan Dena, Gilang segera mengungkung tubuh Dena.
"Kamu sengaja menggodaku sayang"bisik Gilang tepat di telinga Dena.
__ADS_1
"Aku bukan menggoda kamu sayang, tapi aku sudah mempersiapkan ini untukmu"balas Sena berbisik.
Gilang tersenyum menyeringai kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Dena dan mulai melahapnya. Dena pun membalas c*uman dan l*matan Gilang tak kalah panas. Hingga terjadilah penyatuan panjang di malam hari itu.
.
Setelah hampir 1 jam Gilang dan Dena melakukan penyatuan. Kini mereka sama sama merebahlan tubuhnya menatap langit langit kamar kos.
"Sayang"panggil Dena yang di jawab deheman oleh Gilang.
"Kamu tau, Delon bakal beliin aku rumah"lanjut Dena senang.
"Beneran?"tanya Gilang seraya bangkit dan duduk bersandar.
"Bener sayang, 1 bulan lagi, dia bakal beliin rumah"jawab Dena antusias.
"Kenapa mesti nunggu sebulan?"tanya Gilang tak tau.
"Ya memang itu maunya, dia nggak mau bapaknya mikir yang nggak nggak kalau dia beliin rumah aku sekarang"jelas Dena. Gilang pun mengangguk mengerti.
"Baiklah, nggak masalah, dan setelah ini kita harus bisa menguasai semuanya"ucap Gilang seraya memeluk Dena.
"Pasti sayang, kita akan terus hidup enak tanpa harus bekerja"sahut Dena.
TBC
__ADS_1