Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 47


__ADS_3

Sepulang dari mall, Luna membereskan barang barang yang ia belanja. Ahh, bukan bukan, bukan Luna yang berbelanja. Melainkan Delon yang memaksa Luna membeli ini dan itu. Luna yang tak bisa menolak pun hanya bisa pasrah. Meskipun kebanyakan barang yang memilih adalah Delon.


Saat Luna tengah fokus pada belanjaannya, tiba tiba sebuah tangan melingkar diperutnya. Hal itu sontak membuat Luna kaget.


"Bentar aja gini, kangen"rengek Delon. Luna pun tersenyum dalam hati mendengar rengekan Delon. Meskipun raganya seolah belum sepenuhnya menerima Delon, namun dalam lubuk hatinya dia merasa senang saat Delon bermanja manja padanya.


Luna pun melanjutkan aktivitasnya yang hampir selesai itu dengan Delon yang menempel di punggungnya. Meskipun sedikit canggung, namun Luna tak protes dalam hal itu. Hingga Luna selesai pun Delon masih setia nemplok di punggung Luna.


"Delon, mau sampai kapan kayak gini"ucap Luna.


"Aku masih kangen sayang"ucap Delon dengan mata terpejam. Luna pun menoleh sedikit memperhatikan Delon yang begitu manja padanya.


"Tapi aku capek kalau gini terus"ucap Luna lembut. Bahkan tangannya terulur mengusap kepala Delon yang ada di bahunya.


"Pindah di kasur yuk"ajak Luna tersenyum.


Mendengar kata kasur, seketika mata Delon terbuka dengan senyum mengembang di bibirnya. Otaknya pun sudah melalang buana membayangkan yang enak enak.


"Ayo"jawab Delon semangat.


"Mau aku gendong apa sendiri?"tanya Delon yang membuat Luna mengerutkan dahinya.


"Kenapa di gendong? kan aku bisa jalan sendiri ke kasur"ujar Luna polos.

__ADS_1


"Biar romantis sayang"bisik Delon.


Lalu tanpa aba aba Delon segera mengangkat tubuh Luna ala brydal style. Terang saja Luna yang tak siap langsung menjerit tertahan dengan tangan yang spontan melingkar di leher Delon.


"Delon kamu apa apaan sihh"ujar Luna menahan senyum. Karena sebenarnya dia merasa senang dengan perlakuan Delon ini.


Bukannya menjawab, Delon malah tersenyum dan membawa Luna keranjang yang berkasur empuk. Dengan hati hati Delon menurunkan Luna dengan posisi telentang.


Delon tak langsung bangkit kala Luna sudah sepenuhnya diatas kasur. Dia malah mengungkung tubuh Luna yang ada dibawahnya. Luna pun terlihat gusar dengan apa yang dilakukan Delon. Bahkan jantungnya terpacu sangat cepat saat ini. Dia tak mampu melakukan apapun selain mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Sayang, lihat aku dong"ucap Delon lembut seraya meraih dagu Luna agar menatapnya.


Mereka beradu tatap dalam. Sangat dalam. Luna pun terbuai dengan tatapan itu. Bahkan saat Delon memajukan wajahnya, Luna reflek memejamkan matanya siap menerima apa yang akan di lakukan oleh Delon.


Luna yang merindukan sentuhan Delon pun langsung menerima apa yang Delon berikan. Bahkan tanpa segan Luna membalas l*matan Delon dengan tangan yang sudah mengalung di leher Delon. Keduanya larut dalam balutan n*fsu. Hingga terjadilah pergulatan panas disiang hari yang terik itu.


.


.


.


Di tempat lain Dena tengah uring uringan karena panggilan telfonnya tak di jawab oleh Delon. Dena menjadi berfikir yang tidak tidak pada pria yang berstatus suami sirinya itu.

__ADS_1


"Gimana sayang?"tanya Gilang.


"Belum bisa"gerutu Dena.


"Tenang dulu, mungkin dia sedang kangen kangenan sama istrinya"tenang Gilang.


"Mereka kan sudah lama nggak ketemu"lanjut Gilang.


"Kamu jangam bikin aku tambah hancur dong"kesal Dena.


"Lohh, kenapa emang? benerkan apa yang aku bilang mereka lama nggak ketemu"ujar Gilang.


"Ya nggak usah bahas gituan juga"sungut Dena.


"Kenapa? jangan bilang kamu ingin"goda Gilang.


"Apaan sih, nggak jelas"elak Dena.


"Bilang aja sayang kalau pengen"ucap Gilang seraya mendekat.


Dena yang sudah tau apa yang akan Gilang lakukan pun sudah bersiap. Dia nenyimpan ponselnya di atas meja dan siap menerima serangan dari Gilang. Hingga terjadilah pergulatan panas pula di antara keduanya.


Mereka sama sama mengingkan. Hingga mereka melupakan kekesalannya pada Delon meskipun hanya sejenak.

__ADS_1


TBC


__ADS_2