Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 45


__ADS_3

Gilang dan Dena berjalan menjauh dari Luna. Sesekali Gilang menoleh kebelakang memastikan apakan ada yang mengikuti mereka. Dena pun hanya pasrah mengikuti kemana Gilang membawanya. Karena sebenarnya dia masih syok setelah bertemu dengan Luna tadi.


Gilang menghentikan langkahnya saat sampau di food court mall tersebut. Dia menoleh kesana kemari memastikan keadaan aman.


"Kamu duduk dulu, aku pesen minum bentar"ucap Gilang yang di angguki oleh Dena.


Dena menunggu Gilang yang tengah memesan minum sambil mengatur detak jantungnya. Dia benar benar tidak menyangka bakal bertemu Luna disini. Untung hanya bertemu Luna, bagaimana jika Luna bersama Delon, bisa kacau semuanya. Dena memejamkan matanya sesaat sambil menghela nafas berat.


"Minum dulu sayang"ucap Gilang seraya memberikan es jeruk pada Dena.


Dena pun menerimanya dan langsung meneguknya hingga tinggal setengah gelas saja.


"Gimana bisa tadi ketemu sama Luna?"tanya Gilang penasaran. Dena menggeleng.


"Aku juga nggak tau, tiba tiba dia nyamperin aku pas aku lagi liat liat baju"jawab Dena jujur.


"Dia sendiri aja kan?"tanya Gilang lagi.


"Nggak tau juga, yang aku tau dia tadi sendirian nyamperin aku"jawab Dena.


"Oke, kita tenang dulu, aku yakin Luna nggak sendirian kesini, pasti dia sama Delon"ucap Gilang.

__ADS_1


"Terus kita gimana dong"panik Dena.


"Kamu tenang aja, Luna nggak akan cerita sama Delon kalau dia ketemu kamu tadi, apalagi aku tadi terus nyamperin kamu, pasti dia yakin kalau aku suami kamu"sahut Gilang menenangkan.


"Kamu yakin?"tanya Dena ragu.


"Aku yakin sayang, sekarang mending kita pulang aja, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan"ucap Gilang yang langsung diangguki oleh Dena.


Sebenarnya Dena masih ingin shoping da jalan jalan. Namun rasa takut bertemu Delon dan Luna, Dena hanya pasrah saja. Yang penting baginya adalah sumber uangnya tak hilang.


.


.


.


Sebenarnya bukan Luna yang ingin berbelanja. Namun Delon lah yang memaksa. Delon memang sengaja melakukan hal itu, karena dia merasa pilih kasih pada kedua istrinya. Meskipun Luna tak tau apa yang ada dalam pikiran Delon.


Kini Delon dan Luna duduk di salah bangku di food court menunggu makanan yang dia pesan. Delon masih fokus pada ponselnya sibuk membalas pesan. Sedangkan Luna hanya menatap Delon yang terlihat serius dengan ponselnya itu.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?"tanya Delon saat merasa Luna memperhatikannya.

__ADS_1


"Nggak apa apa"elak Luna.


Huftt


Delon menghela nafas berat lalu menyimpan ponselnya di atas meja. Tangannya terulur menyentuh punggung tangan Luna yang ada di atas meja.


"Kamu kenapa? nggak nyaman sama keberadaanku?"tanya Delon lembut. Luna terdiam. Bagaimana bisa Delon berfikiran seperti itu? Meskipun Luna memaafkan perbuatan Delon dulu, namun jujur saja, Luna masih takut hal itu terulang lagi.


"Jujur aja, aku nggak apa apa"ucap Delon lagi.


"Maaf"lirih Luna menunduk.


"Nggak apa apa, aku paham perasaan kamu, maaf ya, perbuatan aku dulu membuatmu tak nyaman"ucap Delon tulus.


"Aku udah maafin kamu, hanya saja_"ucap Luna terhenti.


"Hanya saja, aku masih takut"lanjut Luna lirih.


"Maaf aku membuatmu takut"ucap Delon tertunduk.


Hening. Tak ada percakapan setelahnya. Namun tangan Delon masih setia menggenggam tangan Luna. Hingga tautan tangan itu terlepas saat pesanan mereka sampai.

__ADS_1


"Makan dulu yuk, abis itu pulang"ucap Delon yang di angguki oleh Luna.


TBC


__ADS_2