Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 31


__ADS_3

Selesai menghubungi Gilang, Dena segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang dulu di beli Delon untuk Luna. Dena terus mengembangkan senyumnya setelah berbicara dengan Gilang tadi. Tak selang lama, Delon masuk kedalam kamar dengan handuk yang melilit bagian bawahnya saja.


Melihat itu, Dena segera bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati Delon. Delon pun tersenyum dan menyambut Dena dengan sebuah pelukan.


"Aku merindukanmu sayang"bisik Dena lembut. Bahkan dengan sengaja Dena menggigit kecil daun telinga Delon.


Delon yang sudah lama tak mendapatkan sentuhan pun merasakan tubuhnya terangsang. Bahkan dia sampai memejamkan mata merasakan bibir Dena yang mengulum daun telinganya. Terang saja hal itu membuat adii kecil Delon bangun. Delon yang sudah tak tahan pun melonggarkan pelukannya dan langsung menyerang Dena dengan c*uman yang menuntut. Dan jangan lupakan tangannya yang aktif memegang sana sini.


Dena pun merasakan hal yang sama, meskipun dirinya sering melakukannya dengan Gilang, tapi dengan Delon dia merasakan sensasi yang berbeda. Dena pun membalas c*uman Delon dengan ganas. Bahkan tangannya sudah bertengger manja di leher Delon. Hingga suara decapan dan sesapan memenuhi kamar itu memuat keduanya larut dalam permainan yang berakhir di atas ranjang.


Disisi lain Gilang tersenyum licik setelah mengakhiri panggilan telfonnya dengan Dena.


"Tak sia sia aku mengeluarkan Delon dari penjara"ucap Gilang dengan senyum menyeramkan.


Setelah bergelut diatas ranjang selama hampir 1 jam, kini sepasang pasutri itu tengah berbaring dengan nafas yang tak beraturan. Dirasa suda cukup tenang, Delon memiringkan tubuhnya menghadap Dena. Dia menatap tubuh Dena yang polos tanpa sehelai benang. Sampai sampai Delon bersusah payah menelah ludahnya sendiri. Mata Delon memindai semakin kebawah hingga sampailah di perut Dena yang terlihat menonjol.


Delon menatap perut Dena dengan rasa haru. Selama ini Dena selalu mengunjunginya dipenjara namun tak pernah sekalipun Delon memperhatikan perutnya. Ya Tuhan, maafkan kelakuan hambamu ini, batin Delon sambil memejamkan mata.


Dia memberingsut kebawah hingga wajahnya tepat di depan perut Dena. Tentu saja Dena yang merasakan pergerakan scara tiba tiba membuatnya kaget.


"Sayang, kamu mau ngapain?"tanya Dena.


"Sstt, aku mau menyapa baby"jawab Delon. Dia mendekatkan wajahnya pada perut Dena.

__ADS_1


"Hai baby, ini papa, baik baik disana sayang"


CUP


Delon mengecup perut Dena singkat lalu membenarkan kembali posisi tidurnya. Dia menatap Dena yang juga menatapnya.


Cup


"Terima kasih sayang, terima kasih kamu mau berkorban demi kebebasanku"ucap Delon.


"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan itu karena aku sayang sama kamu, dan baby juga sayang sama papanya, dia nggak mau jauh dari papa"ucap Dena dengan senyum manis.


"Terima kasih sayang, terima kasih"ucap Delon seraya memeluk Dena. Dena pun membalas pelukan Delon. Namun Delon tak tau jika saat Dena tengah tersenyum licik.


Di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Luna tengah duduk di teras rumahnya menikmati pemandangam sore hari di desa tempat dia tinggal. Sejuk nan asri. Bahkan Luna sampai memejamkan mata, menghirup pelan udara yang masih bebas polusi. Menenangkan. Sangat menenangkan jika saja pikiran dan hati Luna sedang baik baik saja.


Luna memang sedang tak baik baik saja saat ini. Bukan karena sakit, tapi entah kenapa Luna merasa sangat kahawatir dan cemas pada suaminya, Delon. Dia merasa ada yang terjadi pada Delon.


"Nak"panggil Rina.


"Ibuk"jawab Luna tersenyum paksa.


"Ada apa? ibu lihat kamu sering ngalamun"tanya Rina.

__ADS_1


"Entahlah buk"jawab Luna ambigu.


"Katakan, apa yang membuatmu tak tenang"ujar Rina. Luna menatap Rina ragu, dia tak mungkin semua ini karena Delon, bisa marah nanti.


"Delon?"tebak Rina.


"Maaf buk"ujar Luna menunduk.


Huftt


"Kamu tidak salah nak, wajar kamu memikirkan Delon karena dia suamimu"ucap Rina.


"Tapi ibu tidak mengijinkanmu untuk menjenguknya karena ibu ingin Delon merenungi perbuatannya, sabar nak. Jika sudah saatnya dia akan kembali bersamamu"lanjut Rina yang di jawab anggukan oleh Luna.


Sedari tadi Luna hanya menunduk menaha air matanya agar tak jatuh. Namun sekuat apapun dia menahan, tetap saja menetes.


"Maafkan ibu nak, tapi semua itu ibu lakukan demi kamu Lun"ucap Rina membawa Luna kedalam pelukannya.


Luna pun membalas pelukan Rina erat sambil terus terisak.


"Maaf buk, maafin Luna"ucap Luna.


"Maafin Luna yang terus terusan kecewain ibu"lanjut Luna sambil terisak yang dibalas anggukan oleh Rina.

__ADS_1


TBC


__ADS_2