
"Kamu hamil?"tanya Delon seolah tak percaya.
"Iya, aku hamil anak kamu"jawab Dena senang. Delon menggelengkan kepalanya pelan. Dia seolah tak percaya ucapan Dena.
"Nggak, kamu pasti bohongkan"elak Delon.
"Aku serius Delon, aku hamil"ucap Dena.
"Kamu nggak seneng aku hamil?"tanya Dena.
"Jelas lah, mana mungkin aku senang kamu hamil sedangkan aku punya istri"ucap Delon.
"Ya udah kamu ceraikan aja istri kamu itu"sahut Dena santai.
"Kamu gila, aku nggak bakal ceraiin Luna"bentak Delon.
"Jadi kamu lebih pilih istri kamu yang selingkuh itu daripada aku"ucap Dena sedikit membentak.
"Jaga ucapan kamu Dena, Luna sama sekali nggak pernah selingkuh"ucap Delon tegas.
"Lalu apa yang kamu ceritakan sama aku waktu itu? Hahh"ucap Dena.
"Bahkan kamu sendiri yang datang pada ku hingga kita melakukan hubungan"lanjut Dena. Delon terdiam. Ingatannya kembali pada saat dirinya pulang dan melihat Luna yang berada dalam gendongan Fajar.
Bahkan saat itu tanpa Delon tau yang sebenarnya, dia memilih pergi dari rumah dan kembali pada Dena. Hingga hubungan keduanya berlanjut sampai saat ini.
"Sudah ingat"ejek Dena.
"Maaf Dena, tapi aku nggak bisa tanggung jawab sama anak yang ada dalam kandungan kamu"ucap Delon.
"Nggak bisa gitu dong, kamu mau enaknya aja tapi nggak mau tanggung jawab"bentak Dena.
"Bukan begitu Dena, aku nggak bisa cerai sama Luna"sanggah Delon.
__ADS_1
"Jadi karena wanita itu"ucap Dena.
"Baiklah jika kamu nggak mau tanggung jawab, tapi jangan salahkan aku jika aku datang kerumah mu"sambung Dena.
"Jangan nekat kamu Dena"sentak Delon.
"Kalau kamu nggak mau orang tuamu tau, nikahin aku"ancam Dena.
"Baiklah, tapi jangan pernah sekalipun kamu menemui keluarga ku"putus Delon setelah beberapa saat diam. Dena tersenyum penuh kemenangan. Dia benar benar senang saat Delon mau menikahinya.
"*Nggak masalah buat aku, yang penting sekarang aku bisa dapetin Delon*"batin Dena tersenyum licik.
.
.
.
Hari hari Luna jalani seperti biasanya meskipun raut wajahnya masih menyimpan banyak kesedihan. Namun bisa bersama dengan ibunya, membuat Luna sedikit merasa bahagia.
"Iya buk"jawab Luna seraya menghampiri Rina yang baru saja pulang bekerja.
"Ibuk sudah pulang?"tanya Luna.
"Sudah, pekerjaan ibuk sedikit hari ini"jawab Rina yang di balas anggukan oleh Luna.
"Lun"panggil Rina serius.
"Iya buk, kenapa?"tanya Luna.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?"tanya Rina. Luna terdiam. Semalam Rina menanyakan perihal Delon. Luna yang memang masih sangat menyayangi Delon pun tak ingin bercerai. Meskipun nantinya Delon seorang mantan narapidana tak menjadi masalah bagi Luna.
Apalagi masalahnya kemarin karena kesalahpahaman. Dan baik dirinya maupun Delon belum ada yang membicarakan hal itu. Luna memang harus bersabar menunggu Delon sampai Delon keluar dari penjara.
__ADS_1
"Lun, apa kamu yakin?"tanya Rina lagi dan Luna mengangguk kecil.
Huftt
"Baiklah, ibuk hargai keputusan kamu"putus Rina.
"Tapi selama Delon dipenjara, jangan sekalipun kamu mengunjunginya, biarkan dia merenungi kesalahannya selama ini, dan jika waktunya tiba, ibuk akan menerima dia berada disisimu kembali"sambut Rina.
"Terima kasih buk"ucap Luna sambil memeluk Rina.
"Sudahlah, sekarang kamu istirahat aja"ucap Rina. Luna mengangguk dan memilih masuk kekamarnya.
Luna duduk di ranjang sederhana miliknya dengan tatapan lurus kedepan. *Selama Delon dipenjara, jangan sekalipun kamu mengunjunginya*. Kata kata itu terus berputar dibenak Luna.
"Apa aku bisa"gumam Luna.
Delon akan mendekam dipenjara selama 2 tahun. Dan selama 2 tahun itu Luna tak bisa menemui suaminya itu. Luna tersenyum miris, bagaimana bisa seorang istri tak bisa mengunjungi suaminya yang berada dipenjara. Bisa saja Luna diam diam datang, tapi jika ketahuan Rina. Ahh, Luna tak tau apa yang akan ibunya lakukan padanya.
"Sabar Luna, kamu pasti bisa"ucap Luna menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Sesuai ucapan Delon yang akan menikahi Dena, hari ini akan ustad yang akan menikahkan mereka secara siri. Setelah obrolannya dengan Delon tempo hari, Dena langsung menyiapka syarat syarat agar dirinya bisa menikah dengan Delon. Bahkan Dena juga meminta bantuan polisi di rutan untuk menjadi saksi.
Kini Dena sudah siap dengan kebaya sederhana juga riasan yang sangat sederhana. Sementara Delon mengenakan jas yang dipinjami oleh polisi disana.
Dena terus mengembangkan senyum dibibirnya. Bahkan tak luntur sedikitpun dari bibirnya. Dia merasa sangat sangat senang bisa menjadi istri Delon meskipun siri. Tak apa sekarang masih istri siri, karena suatu saat Delon akan menjadi milik ku seutuhnya, gumam Dena dalam hati.
Berbeda dengan Dena, Delon merasa bersalah pada kedua orang tuanya juga mertuanya. Apalagi dengan Luna. Delon merasa dirinya tak tau terima kasih. Setelah apa yang di lakukan ibunya, juga Rina dan Luna yang berbaik hati memberinya kesempatan. Delon benar benar merasa bersalah. Namun dirinya tak tau harus berbuat apa saat ini. Mengingat dirinya yang masih berstatus tahanan membuatnya tak bisa leluasa bergerak.
__ADS_1
TBC