
Malam hari Luna tengah duduk di atas kasur empuknya sambil terus memandangi ponselnya. Dia terlihat gelisah juga khawatir. Bahkan sesekali Luna melihat keluar jendea kamarnya seperti sedang menanti seseorang.
"Udah jam 10"gumam Luna. Luna kembali menyambar ponselnya untuk menghubungi seseorang. Tentu saja suaminya yang dia hubungi, siapa lagi kalau bukan Delon.
Sedari tadi Luna memang sedang menunggu Delon yang ijin keluar dengan alasan mengantar beras pada konsumen. Luna pun mengijinkan karena memang menyangkut pekerjaan. Namun sekarang sudah jam 10, ya kali ngantar beras ke satu tempat saja sampai selarut ini. Padahal Delon sudah keluar dari rumah sejak pukul setengan tujuh.
Luna semakin dibuat gelisah saat panggilannya tak ada jawaban dari Delon. Dia benar benar khawatir Delon melakukan kesalahan yang sama seperti kala itu. Dan jika benar itu terjadi, aku tak akan memaafkannya, pikir Luna.
Akhirnya dengan rasa khawatir yang teramat sangat, Luna memilih menunggu di luar rumah saja. Meskipun keadaan sudah malam, berkat penerangan lampu yang memadai membuat malam itu tak begitu gelap. Luna berdiri mondar mandir didepan rumah seperti setrikaan saja. Entah sampai jam berapa Luna akan melakukan hal itu. Hemm.
.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah kos sederhana. Delon tengah memeluk Dena mesra. Setelah beberapa hari tak bertemu, membuat keduanya merasakan rindu. Dena pun membalas pelukan Delon erat. Seolah dia juga merasakan kerinduan yang besar pada lelaki yang berstatus suami sirinya itu.
Ya, tadi siang saat Delon tengah mengawasi para karyawan yang menurunlan beras, ponselnya tiba tiba berdering dan muncul nama Dena disana. Untung Luna sedang tidur siang, jadi Delon bisa bebas bertelfonan dengan Dena. Dengan dalih anak yang dia kandung merindukan papanya, akhirnya Delon mengiyakan ajakan Dena. Dan disinilah Delon berada. Di kos tempat tinggal Dena dulu.
"Sayang aku kangen sama kamu"ucap Dena manja.
"Aku juga kangen sayang, sama baby juga"balas Delon seraya mengusap perut Dena yang membuncit.
"Hallo baby, nakal nggak waktu di tinggal papa"ucap Delon seraya berjongkok tepat di depan perut Dena.
"No papa, baby nggak nakal, baby anak baik"sahut Dena dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Dan Delon pun terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Delon berdiri dan mengajak Dena untuk duduk di tepian kasur. Mereka saling menatap lekat seakan melepaskam kerinduan.
"Kenapa?"tanya Dena.
"Kenapa apanya?"tanya Delon balik.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?"tanya Dena lagi.
"Cantik"ujar Delon.
"Gombal"cibir Dena.
"Beneran sayang, kamu cantik"ucap Delon yakin.
Cup
Delon mengecup pipi Dena singkat lalu memeluknya dari samping. Dena pun tersenyum mendapat perlakuan manis dari Delon.
"Sayang, kapan kamu mau beliin rumah?"tanya Dena.
"Sabar dulu sayang, aku bisa aja beliin sekarang, tapi pasti nanti bapak bakal curiga dong kalau aku pakai uang sebanyak itu. Kan nggak mungkin aku bilang buat modal, sedangkan saat ini aku udah dimodalin bapak"jelas Delon.
"Ya masak aku cuma tingal di kos sempit gini, padahal Luna bisa hidup enak sama kamu"sahut Dena cemberut.
__ADS_1
"Jadi ceritanya cemburu nihh"goda Delon.
"Ishh, ya iyalah, aku kan juga istri kamu, bahkan aku lagi ngandung anak kamu, masak cuma minta rumah aja nggak dibeliin"rajuk Dena.
"Atau aku harus temuin Luna dulu biar kamu beliin aku rumah"ancam Dena.
"Jangan dong sayang"sanggah Delon.
"Aku janji bakal beliin kamu rumah, tapi nggak sekarang"ucap Delon meyakinkan.
"Beri aku waktu 3 bulan"lanjut Delon.
"1 bulan"tegas Dena.
"2 bulan"tawar Delon.
"No, 1 bulan atau aku temui Luna"ancam Dena.
"Oke oke, 1 bulan lagi, aku pasti beliin kamu rumah"pungkas Delon. Mengalah sajalah, daripada ketahuan Luna, pikir Delon.
"Yeee, makasih sayang"ucap Dena senang. Bahkan tanpa segan Dena mencium pipi Delon berkali kali.
"Iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu"ujar Delon seraya mencubit hidung Dena gemas. Sedangkan Dena hanya memanyunkan bibirnya sebal.
__ADS_1
TBC