
Delon mengendarai motornya dengan kecepatan standar. Mendengar ucapan Gilang untuk yang kedua kali, Delon mencoba untuk pulang. Dia berharap akan ada kebenaran yang terungkap saat dirinya mencoba untuk berbicara mengenai masalahnya dengan Luna.
Awalnya Delon sempat ragu untuk pulang. Namun berkali kali Gilang meyakinkan hingga akhirnya Delon mau mencoba. Tapi jika kali ini aku merasakan kembali kekecewaan itu, jangan harap aku akan pulang, ucap Delon dalam hati.
Sudah 20 menit Delon berkendara, tinggal beberapa menit lagi sampai dirumah. Namun Delon memilih menepikan kendaraannya sejenak. Dia menetralkan detak jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih cepat. Bahkan dia juga merasakan hatinya berkecamuk dengan pikirannya.
"Apa iya keputusan gue ini bener?"tanya Delon pada dirinya sendiri.
Setelah 5 menit Delon menyakinkan dirinya kembali, kini dia melajukan kembali motornya menuju rumah. Namun lagi dan lagi belum sampai 10 menit Delon berkendara, dia kembali berhenti di depan rumah seseorang. Delon melepaskan helmnya dan memperhatikan 2 orang yang tengah perpelukan didepan teras.
Tangannya terkepal kuat menyaksikan betapa mesranya kedua orang itu saling berpelukan.
"Udah gue duga keputusan ini salah"gumam Delon menahan amarah. Dengan kasar Delon memakai kembali helmnya dan segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Namun bukan untuk pulang, melainkan berbalik arah dan entah pergi kemana.
.
.
.
Dengan perlahan air mata Luna menetes tanpa permisi saat melihat rekaman CCTV dari ponsel Fajar. Beberapa kali dirinya menggelengkan kepala seolah tak percaya.
"Nggak, ini nggak mungkin"lirih Luna.
"Ini nggak bener kan mas, ini bohongkan mas"tanya Luna dengan berderai air mata namun Fajar hanya diam.
"Jawab mas, JAWAB"teriak Luna. Mendengar Luna yang terluhat marah, Fajar mencoba menenangkan Luna dengan memeluknya. Luna pun membalas pelukan Fajar karena memang saat ini dia membutuhkan itu.
__ADS_1
"Maaf Lun maaf, tapi itu semua bener"ucap Fajar memeluk Luna erat.
"Nggak mungkin mas, Delon nggak mungkin seperti itu"lirih Luna dalam pelukan Fajar. Fajar tak menjawab, dia mengusap punggung Luna lembut agar Luna tenang.
Hingga dirasa Luna lebih tenang, Fajar melrpaskan pelukannya dan menuntun Luna untuk duduk.
"Maaf Lun"ucap Fajar.
"Kamu inget waktu aku datang kesini dalam keadaan mabuk?"tanya Fajar.
"Waktu itu aku baru aja pulang kerja, tapi pas di jalan aku seperti liat suami kamu boncengan sama cewek, awalnya aku nggak yakin itu Delon, tapi karena penasaran, akhirnya aku ngikutin mereka"ucap Fajar terjeda.
"Aku ikutin mereka dan ternyata mereka dateng ke club, karena aku udah benar benar penasaran, aku ikut masuk untuk memata matai, dan ternyata bener orang itu Delon, aku takut Delon curiga sama aku waktu itu, karena beberapa kali Delon melihat kearah ku yang cuma duduk diem aja disana, akhirnya aku pesen minuman haram itu untuk melancarkan aksiku, tapi naas, aku malah mabuk dan aku kehilangan jejak Delon"lanjut Fajar.
"Lalu vidio ini?"tanya Luna yang sedari tadi diam.
"Maaf Lun"ucap Fajar.
.
.
.
Seorang pria tengah duduk di sebuah club dengan di temani minuman beralkohol. Ini sudah botol ketiga yang dia minum, namun pria itu seakan tak puas. Delon. Ya, pria itu adalah Delon. Karena rasa amarah yang begitu membuncah, Delon memilih meluapkan amarahnya lewat minuman haram itu.
Niat baiknya yang lagi lagi disambut dengan kekecewaan membuatnya kehilangan akal sehat. Delon terus minum hingga dia benar benar mabuk.
__ADS_1
"Ohh sayang, kenapa kau menghianatiku"racau Delon.
"Kenapa kamu lebih memilih dia dan tak mencariku"ucap Delon meracau namun dengan air mata yang menetes.
Tak jauh dari tempat Delon, Dena yang tengah bersama seorang pria sedari tadi memperhatikan Delon. Dena tau pasti Delon sedang ada masalah.
"Sayang, kamu liatin siapa sihh?"tanya pria yang bersama Dena.
"Ahh, tidak, aku tidak melihat siapa siapa"elak Dena. Pria itu hanya mengangguk.
Dena terus memperhatikan Delon yang terus terusan meracau. Hingga saat Dena melihat Delon akan beranjak, Dena meminta ijin pada pria yang bersamanya untuk ketoilet.
"Delon"panggil Dena.
"Delon, kamu ngapain sampai kayak gini"ucap Dena.
"Hai, kenapa kamu berada disini? kenapa kamu tidak bersama lelaki selingkuhanmu itu saja?"ucap Delon seraya mengusap pipi Dena.
"Hey, sadar sayang"ucap Dena sedikit membentak.
"Kenapa kamu membentakku? aku benarkan? disaat aku seperti ini kamu malah enak enakan bersama pria lain"ucap Delon menangis. Dena yang sudah jengah memilih membawa Delon masuk kedalam kamar yang biasa di sewa oleh pengunjung. Meskipun dengan susah payah, akhirnya Dena berhasil.
"Kenapa kamu membawaku kekamar? kamu ingin bermain bersama ku"ucap Delon seraya mendekati Dena. Bahkan tangan Delon sibuk membuka baju dan celana yang dia kenakan.
Dena pun tak masalah melihat itu. Bahkan dengan senang hati Dena melayani Delon daripada pria tua yang tadi bersamanya.
TBC
__ADS_1