
Tak ada yang tau takdir setiap orang. Hari ini kita mungkin masih diatas. Namun besok siapa yang tau? Bisa saja kita terpuruk dan berada dititik paling rendah. Hari ini kita masih bisa menghirup udara. Namun siapa yang tau jika itu adalah hari terakhir kita hidup. Hari ini kita masih hidup dengan bergelimang harta. Namun siapa yang tau jika besok kita akan jatuh miskin. Hari ini kita masih di sanjung dan di elu elukan oleh semua orang. Namun siapa yang tau jika besok kita akan dicemooh oleh orang orang. Takdir tak ada yang tau, kita hanyalah boneka yang sudah diatur oleh sang Maha Kuasa.
Seperti halnya yang Delon alami. Pria remaja yang seharusnya masih duduk di bangku kelas XI SMA itu harus merasakan kerasnya hidup. Ditambah lagi statusnya kini yang sudah menjadi suami alias kepala keluarga. Sekolah saja belum kelar sudah menjadi kepala keluarga. Mau dikasih makan apa anak istrinya nanti? Apalagi Delon tak memiliki pekerjaan. Memang semua itu kesalahan dirinya. Namun semua itu tak luput dari takdir Tuhan.
"Ternyata sesusah ini cari kerja"gumam Delon diperjalanan pulang. Seharian Delon mengitari kota namun tak ada satupun yang mau menerimanya berkerja. Apalagi jika bukan karena pendidikan Delon.
"Andai aku tak berbuat seperti itu dulu, mungkin sekarang aku masih hidup enak"sesal Delon. Menyesal? Tentu saja menyesal. Namun semua itu sudah terlambat. Semuanya sudah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa dikembalikan. Yang bisa Delon lakukan sekarang adalah menjalani dengan ikhlas.
Setelah hampir 30 menit berkendara, tak terasa Delon sudah sampai dirumahnya. Dia segera melepas helm yang dia kenakan dan menghampiri sang istri.
"Delon"ucap Luna tersenyum.
"Masuk dulu yuk, aku baru aja tutup warung"sambung Luna menuntun Delon kedalam rumah. Dapat Delon rasakan jika saat ini Luna tengah bahagia. Tapi karena apa? pikir Delon.
"Mau mandi dulu apa makan?"tanya Luna.
"Gini aja dulu"jawab Delon memeluk Luna. Delon lelah. Dia butuh pelukan Luna untuk sekedar membuatnya tenang kembali.
Luna pun tak masalah, dia membiarkan Delon memeluknya. Dari raut wajanya sepertinya Delon benar benar lelah. Tangan Luna pun membalas pelukan Delon. Bahkan tangan mungil itu bergerak mengusap punggung Delon lembut.
1 menit
3 menit
__ADS_1
5 menit
Delon melepaskan pelukannya saat merasa dirinya lebih tenang. Dia menatap Luna yang tersenyum manis padanya.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Luna. Luna tersenyum senang mendapat perlakuan romantis dari Delon.
"Apa dia rewel hari ini?"tanya Delon. Tangannya terulur mengusap perut rata Luna.
"Tidak, dia anak yang pintar, bahkan ketika aku melayani pembeli di warung pun dia tidak rewel"jawab Luna dengan senyuman. Delon mengangguk kemudian berjongkok di hadapan Luna.
"Jadi anak yang baik dan pintar sayang"ucap Delon di depan perut Luna sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat disana.
Luna tersenyum haru melihat keromantisan Delon. Sungguh, dia tak menyangka Delon akan bersikap seperti ini padanya.
Malam hari Delon dan Luna merebahkan dirinya di ranjang sedehana yang ada di kamarnya. Tak ada kasur empuk seperti di rumah Delon dulu. Namun kembali lagi, Delon harus ikhlas menjalani semuanya. Lalu Luna? Luna sudah terbiasa hidup susah, jadi dirinya tak masalah.
Setelah makan malam selesai, Delon memang menyuruh Luna untuk istirahat. Delon tau Luna lelah karena seharian berjualan. Darimana Delon tau? Luna yang menceritakan. Di meja makan tadi banyak yang Luna ceritakan. Mulai dari bu Ningsih datang, hingga bu Ningsih mempromosikan warung Luna. Luna juga bercerita bahwa hari ini warungnya ramai pembeli.
"Tidurlah, besok kita ke bidan ya, periksa kandungan kamu"ucap Delon. Luna mendongak keatas agar bisa melihat wajah suaminya itu.
"Kenapa?"tanya Delon saat Luna menatapnya.
__ADS_1
"Nggak masalahkan jika kita periksa ke bidan? lain kali kalau aku udah dapet pekerjaan, kita periksa ke dokter spesialis"tanya Delon lagi.
"Nggak apa apa, ke bidan aja"jawab Luna. Delon mengangguk. Dia menundukan wajahnya agar bisa menjangkau bibir mungil Luna yang sedari tadi menggodanya.
Delon mel*mat bibir Luna lembut. Luna yang sudah terbiasa pun membalas l*matan itu. Bahkan Luna dengan sengaja membuka mulutnya membuat lidah Delon lebih mudah mengakses lebih dalam mulut Luna.
Tak sampai disana, tangan Delon sudah aktif membuka setiap kancing piyama milik Luna. Hingga nampaklah gunung kembar Luna yang masih tertutup bra. Tangan Delon segera meraih pengait bra itu dan membukanya hingga terpampang jelas gunung kembar Luna yang sudah polos tanpa kain penutup.
Dengan tidak sabaran Delon meny*sap pucuk gunung Luna hingga membuat Luna mend*sah nikmat. Tangan Delon yang satunya pun senantiasa mer*mas gunung yang sebelahnya. Luna semakin menjadi jadi saat merasakan sentuhan Delon. Namun di balik d*sahannya, Luna ingat sesuatu. Dia segera menjauhlan tubuhnya yang sudah setengah polos itu dari Delon.
"Kenapa?"tanya Delon dengan suara parau.
"Aku pernah cari tau di internet, kalau lagi hamil muda nggak boleh melakukan itu"ucap Luna.
"Boleh sayang, asalkan pelan pelan"ucap Delon dengan menahan hasratnya.
"Kata siapa?"tanya Luna curiga.
"Aku udah cari di internet, dan boleh melakukan asalkan hati hati"ucap Delon.
"Boleh yaa, aku udah nggak tahan"ucap Delon lagi. Luna jadi bingung sendiri. Memang benar yang dikatakan Delon, boleh melakukan asalkan hati hati. Tapi disarankan memang tidak melakukan hubungan intim saat hamil muda. Itu yang Luna dapat dari internet.
Namun melihat Delon yang sudah bergairah, Luna merasa kasian. Apalagi dirinya juga sudah terbakar gairah pula. Akhirnya Luna mengangguk kecil pada Delon dan langsung di sambut c*uman oleh Delon. Dan terjadilah pergelutan panas di atas ranjang.
__ADS_1
TBC