
Setiap pasangan pasti menginginkan hubungan yang baik baik saja, romantis dan saling percaya. Kepercayaan memang sebuah kunci langgengnya sebuah hubungan. Jika kita saja tak percaya dengan pasangan kita, tidak mungkin hubungan kita akan berjalan dengan baik.
Itulah yang dirasakan Delon saat ini. Dia sendiri menciptakan kebohongan pada Luna namun Luna yang ingin menjadi seorang istri yang baik percaya dengan apa yang dikatakan Delon. Delon yang sampai menikah siri pun Luna tak tau. Semua itu masih dikemas rapi oleh Delon.
Meskipun beberapa kali Luna bertanya kemana dirinya keluar dan sempat membuatnya gugup, Delon akan menciptakan kebohongan baru. Dan Luna dengan mudahnya percaya. Jika bukan karena balas budi, Delon tak akan mau melakukan semua ini.
Delon menghela nafas panjang saat mobil yang dia kendarai berhenti di parkiran cafe. Dia seakan enggan untuk menemui Dena. Namun demi sebuah kebenaran, Delon terpaksa turun.
"Oke, lo bisa tanyain hal itu sama Dena"gumam Delon menyemangati dirinya sendiri.
Delon segera masuk ke cafe yang masih terlihat sepi itu. Maklum sepi, karena memang masih pagi. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dena. Hingga matanya menatap wanita hamil duduk di pojok cafe dengan melambaikan tangannya.
Delon segera menghampiri wanita hamil yang tak lain Dena. Sampai di meja yang ditempati Dena, Delon segera duduk berhadapan dengan Dena. Wajah Delon terlihat tak bersahabat. Sedangkan Dena memasang senyum manisnya.
"Kenapa ngajak ketemu diluar?"tanya Delon.
"Ya kan aku bosen di kos terus"jawab Dena santai.
"Bosen di kos terus? bukanya kemarin kamu keluar dan nggak bilang sama aku?"tanya Delon mengintimidasi.
"Kemarin aku cari rujak, baby lagi pengen rujak, eh nggak taunya yang di jalan depan kos lagi libur, jadi aku cari ketempat lain"ujar Dena tenang. Delon memicingkan matanya menatap Dena. Dia seakan tak percaya dengan ucapan Dena.
Huftt
Terdengar helaan nafas panjang oleh Delon. Dia seperti ingin marah namun ada sesuatu yang mengganjal hingga dirinya tak bisa marah pada Dena.
"Oke aku percaya"ucap Delon.
"Katanya mau ada yang diomongin? apa?"tanya Delon.
"Aku mau pulang kampung"jawab Dena.
"Kenapa?"tanya Delon.
"Kenapa apanya?"tanya Dena bingung.
"Enggak, maksud aku di kampung kan kamu nggak punya siapa siapa"ucap Delon.
__ADS_1
"Aku kangen ibu sama bapak, aku cuma pengen pulang kerumah yang dulu aku tinggali sama almarhum ibu bapak"jelas Dena.
"Berapa lama?"tanya Delon.
"1 minggu mungkin"jawab Dena.
"Ya udah, kamu boleh pulang kampung, tapi aku nggak bisa antar"putus Delon.
"Iya nggak apa apa, aku bisa pulang sendiri kok"ujar Dena tersenyum.
"Ya udah, aku balik ya, masih ada beras yang harus aku kirim"pamit Delon.
"Lho kok langsung balik?"tanya Dena bingung.
"Ya iya lah, kan ngomongnya udah"jawab Delon.
"Tapi kan uang yang buat aku pulang kampung belum"ucap Dena kesal.
"Kan kemarin udah aku kirim, masa udah minta lagi"ujar Delon dengan dahi berkerut.
"Yang kemarin udah habislah buat belanja"jawab Dena santai.
"Delon, uang 10jt di belanjain juga cuma dapet dress 1 kali"kesal Dena.
"Astaga Dena, jadi tiap hari kamu minta uang cuma buat gaya gayaan"ucap Delon tak habia fikir.
"Gaya gayaan apa sihh, itu tu namanya fashion Delon"ujar Dena.
"Lagian uang segitu buat kamu juga gampang"lanjut Dena santai.
"Uang segitu emang gampang, tapi aku masih dalam pengawasan bapak, kalau sampai bapak tau pengeluaran aku membengkak, pasti bapak curiga"geram Delon.
"Tinggal jawab aja Luna yang minta buat belanja, gitu aja repot"santai Dena.
"Astaga Dena, kamu itu_"
"Sudahlah, kamu emang nggak kayak Luna yang pandai mengelola uang, kamu cuma tau cara habisin uang"lanjut Delon kesal.
__ADS_1
"Lhoo, kok kamu jadi bandingin aku sama Luna"ucap Dena tak terima.
"Aku nggak bandingin kamu sama Luna, aku bicara fakta"jawab Delon menahan emosi.
"Sudahlah, kamu emang nggak tau terima kasih, aku yang kamu rusak sampai aku hamil anak kamu, aku yang udah relain ambil tabungan aku buat bebasin kamu dari penjara, dan ini balasan kamu"ucap Dena marah.
"Kalau emang kamu udah nggak sayang sama aku dan anak kita, lebih baik kita cerai, tapi jangan salahkan aku jika aku mendatangi Luna dan mengatakan yang sebenarnya"lanjut Dena mengancam.
Delon terdiam mendengar ucapan Dena. Dan hal itu membuat Dena tersenyun licik. Ternyata benar ucapan Gilang, Luna adalah kelemahan Delon, batin Dena.
"Oke, aku kirim uang"putus Delon setelah beberapa saat diam.
"Terima kasih sayang"ucap Dena tersenyum senang.
.
.
.
Disisi lain, Diman yang tengah mengecek laporan keluar masuk beras yang dipegang Delon pun tersenyum. Ternyata anaknya itu berubah menjadi lebih pekerja keras. Tak sia sia aku memberinya modal, pikir Diman.
Diman memang belum melepas Delon untuk mengelolanya sendiri. Delon masih dibantu oleh orang yang Diman percaya untuk mengelola usahanya itu. Dan orang itulah yang memberikan informasi tentang kemajuan usaha yang dipegang Delon.
Kini Diman beralih mengecek pengeluaran uang dari hasil kerja Delon. Diman terlihat mengerutkan keningnya meluhat deretan angka yang ada didepannya itu.
"Pri, kenapa modal awal yang tertera dengan modal saya berikan berbeda?"tanya Diman pada orang kepercayaannya yang bernama Supri itu.
"Maaf pak, sepertinya memang mas Delon tidak langsung menggunakan uang yang bapak berikan ,mas Delon hanya menggunakan 50% dari yang bapak beri"jawab Supri.
"Kenapa memangnya?"tanya Diman.
"Mas Delon menggunakannya sedikit demi sedikit karena memang dia masih pemula, dia takut jika usaha yang dia jalankan tidak berjalan sesuai rencana, makanya mas Delon menggunakan uang itu sedikit deki sedikit"jelas Supri.
Diman menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dia kembali membaca laporan keuangannya itu dari awal sampai akhirnya. Memang bagus untuk Delon yang masih pemula. Bahkan dengan modal yang tak seberapa, pemasukan yang Delon hasilkan sangat baik.
Diman tersenyum melihatnya. Dia merasa bangga pada anaknya yang mau berubah menjadi lebih baik itu. Ahh, tidak tau saja kau Diman jika separuh uang yang kamu beri digunakan Delon untuk memanjakan Dena. Jika tau, ahh entahlah apa yang akan Diman lakukan
__ADS_1
TBC