
Disepanjang perjalanan menuju rumah Luna, Delon terlihat lebih banyak diam. Mereka memilih jalan kaki karena memang jarak rumah yang dekat. Delon merasa lega karena mereka jalan kaki. Bisa sedikit lebih lama, pikirnya. Padahal jarak tempuhnya hanya 10 menit dengan jalan kaki.
"Delon, kamu kenapa diam aja?"tanya Niken.
"Ehh, nggak apa apa kok buk"jawab Delon gugup. Niken hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Delon. Mungkin dia gugup akan bertemu Luna, pikir Niken.
Setelah 10 berjalan kaki, kini Delon dan kedua orang tuanya sudah sampai didepan rumah Luna. Delon menatap rumah sederhana yang terlihat sepi itu dengan perasaan tak karuan.
"Pak, Buk, balik aja yuk, kayaknya nggak ada orang deh, sepi gini"ucap Delon gelisah.
"Ishh, kamu itu, gugup kok sampe segitunya, kamu tenang dong Delon"ujar Niken.
"Delon nggak gugup buk, cuma, kayaknya rumahnya nggak ada orang buk, sepi gini"sanggah Delon. Rumahnya memang terlihat sepi, Luna yang menyetrika di kamarnya dan Rina yang mencuci di kamar mandi yang terletak di belakang rumah membuat suasana rumahnya terlihat sepi.
"Coba ibu ketuk pintunya"usul Diman.
"Iya pak"jawab Niken lalu mengetuk pintu rumah milik besannya itu.
Tok tok tok
Ketiganya masih menunggu didepan pintu. Namun belum ada tanda tanda ada kehidupan dirumah itu.
"Tuh kan buk, mending kita pulang aja"bujuk Delon.
"Sabar Delon, kita tunggu dulu"jawab Niken.
"Ketuk lagi buk"ujar Diman yang diangguki oleh Niken.
Tok tok tok
__ADS_1
Ceklek
"Eh, buk, pak"sapa Luna sambil menyalami kedua mertuanya. Dia belum sadar jika di antara mertuanya itu ada seseorang yang dia rindukan.
"Mari ma_"
Deg
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di rumah sederhana di pinggiran kota. Dena tengah bergelayut manja dilengan Gilang. Ya, Dena menelfon Gilang untuk datang kerumah yang ia tempati dengan Delon karena kangen. Dan Gilang pun yang juga merindukan kekasihnya itu tentu saja langsung datang. Apalagi saat ini Delon tengah berada dirumah kedua orang tuanya. Bebas sudah Dena dan Gilang beduaan.
"Sayang, aku kangen"ucap Dena manja.
"Nanti kamu ikut aku pulang ya"ajak Gilang.
"Baiklah, aku juga nggak betah disini sempit, panas"keluh Dena.
"Makanya kamu minta beliin rumah baru dong sama Delon"ujar Gilang.
"Kamu tenang saja sayang, setelah Delon kembali kesini, aku akan memintanya"jawab Dena tersenyum senang.
"Bagus, jangan sia siakan pria bodoh itu"ucap Gilang tersenyum licik.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya?"tanya Dena.
__ADS_1
"Gampang, cukup kamu baik baik dengan dia, dan jangan biarkan dia lari dari anak yang ada di kandungan kamu"jawab Gilang dengan senyum menyeringai.
"Itu pasti sayang"sahut Dena semangat.
"Apa baby rewel saat berdekatan dengannya?"tanya Gilang.
"No, dia pintar sayang. Bahkan dia seakan mendukung rencana kita"jawab Dena senang.
"Kamu pintar baby"ucap Gilang seraya mengelus perut Dena lalu menciumnya sekilas.
.
.
.
Kembali pada Luna. Wanita itu masih diam mematung di depan mertuanya dan suaminya. Suami? Ya, Luna masih berusaha mencerna apa yang ada didepannya saat ini. Mengapa Delon ada disini? tanya Luna. Bukan Luna tak senang jika Delon disini. Namun Luna belum tau apa yang terjadi hingga Delon ada didepan matanya.
"De_Delon"lirih Luna. Delon mendongak. Dia menatap Luna yang sudah berkaca kaca.
"Delon"panggil Luna lagi seraya memeluk Delon erat. Dan jangan tanyakan, air matanya sudah tumpah saat ini.
Delon mematung saat Luna memeluknya. Ingin rasanya Delon membalas pelukan ini. Namun tangannya seakan kaku tak dapat bergerak. Bahkan lidahnya seakan kelu untuk berbicara.
"Delon, ini beneran kamu"lirih Luna seraya mendongak menatap wajah Delon.
Delon hanya mengangguk menjawab pertanyaan Luna. Terang saja Luna langsung memeluk Delon lagi. Delon pun sekarang juga membalas pelukan Luna meskipun sedikit kaku.
Niken sudah menangis melihat anak dan menantunya saling berpelukan. Sedangkan Diman menenangkan istrinya sambil menatap haru kedua insan yang saling melepas rindu ini.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
TBC