Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 21


__ADS_3

Plakk


Suara tamparan terdengar sangat nyaring di sebuah ruangan. Seorang pria memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan yang di lakukan oleh orang terdekatnya sendiri. Delon menatap nanar pada Diman sang ayah yang telah menamparnya. Entah apa alasannya hingga Diman menampar Delon begitu keras.


"Kamu keterlaluan Delon, kamu memang pantas mendapatkan semua ini, kamu pantas mendekam di balik jeruji besi"marah Diman. Delon menunduk. Dia tak berani menatap atau membalas perkataan Diman. Delon memang salah. Namun dia memang sejak awal tidak tau jika dia bekerja sebagai kurir narkoba.


"Maaf pak"lirih Delon.


"Maaf kamu bilang? setelah apa yang kamu perbuat selama ini baru kamu minta maaf"sahut Diman marah.


"Dimana otak kamu Delon? disaat Luna tengah hamil anak kamu dan kamu malah enak enakan di club bahkan sampai tidak pulang"lanjut Diman. Delon mengangkat pandangannya yang sedari tadi menunduk. Dia menatap Luna yang menangis di pelukan Niken dengan tatapan sinis.


"Harusnya bapak tanya sama menantu bapak yang sok baik itu, apa yang udah dia lakuin selama Delon kerja"ucap Delon menatap Luna sinis. Luna menatap Delon tak percaya. Bahkan beberapa kali Luna menggelengkan kepalanya.


"Nggak Delon, semua nggak seperti yang kamu lihat"bela Luna.


"Gue lebih percaya apa yang gue lihat daripada apa yang lo katakan"ucap Delon sengit.


"Kamu salah Delon, aku nggak ada apa apa sama mas Fajar_"


"Oo jadi Fajar nama selingkuhan kamu itu"potong Delon.


"Aku nggak selingkuh"ucap Luna dengan terus berderai air mata.


"Terus apa namanya kalau bukan selingkuh? mendua?"ucap Delon sinis.


"CUKUP"bentak Diman.


"Diam kamu Delon kalau kamu nggak tau yang sebenarnya"ucap Diman tegas.


"Bapak yang harusnya diam, bapak yang nggak tau apa apa"bentak Delon. Diman dan Niken tersentak kaget saat Delon membentaknya. Selama ini Delon tak pernah sekalipun berbicara dengan nada tinggi kepada orang tuanya.


"Sudah berani kamu membentak bapak"ucap Diman tak percaya.

__ADS_1


"Sudahlah Lun, tidak perlu kamu menjelaskan apapun pada anak itu, biarkan saja dia mendekam dipenjara"ucap Diman pada Luna.


"Asal kamu tau Delon, Luna sama sekali tidak pernah selingkuh, kamulah yang selingkuh dengan wanita ****** itu"ucap Diman dengan penuh penekanan.


"Kamu bersiap saja menerima surat perceraian"lanjut Diman.


"Luna nggak bakal bisa cerai dari aku pak, Luna hamil anak aku"ucap Delon sombong.


"Iya, Luna hamil anak kamu"ucap Diman.


"Tapi itu dulu, sebelum melakukan hal bodoh hingga membuat Luna kehilangan anaknya"lanjit Diman.


"Ma_maksud bapak?"tanya Delon.


"Luna keguguran"ucap Diman.


Deg


.


.


.


"Maafin Luna buk"ucap Luna terisak.


"Kamu nggak salah nak, ibu yang salah, ibu yang nggal bisa menjaga kamu"balas Rina dengan isakan.


Niken yang sedari tadi melihat pun tak mampu menahan air matanya. Dia juga ikut menangis dipelukan suaminya. Niken tak membela Luna. Namun bukan berarti Niken membela Delon. Disini memang Delon yang salah.


Tadi sepulang dari kantor polisi Diman memang mengajak Luna untuk pulang bersama. Diman mengatakan lebih baik jika Luna tinggal bersama ibunya saja daripada di kampung sendirian. Luna pun tak masalah, dia malah senang jika tinggal bersama ibunya.


"Maafin Luna buk"ucap Luna sambil melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu nggak salah nak, ibu yang salah"balas Rina. Rina mengusap sisa air mata Luna yang ada dipipi. Kini Rina beralih menatap besannya, Diman dan Niken.


"Nak, kamu masuk kamar dulu ya, ibu mau bicara dengan pak Diman dan bu Niken"ucap Rina. Luna terdiam sebelum akhirnya dia mengangguk mengiyakan perintah ibunya.


Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang akan dibicarakan para orang tua. Meskipun sedikit banyak dia tau, namun tetap saja Luna penasaran.


Rina menatap Diman dan Niken secara bergantian saat Luna sudah hilang dari pandangan mereka. Dari tatapannya dapat dilihat jika Rina merasa kecewa dan marah.


"Maaf bu Rina ini memang salah anak kami"ucap Diman.


"Saya minta Delon dan Luna bercerai"ucap Rina tegas.


"Tapi bu Rina, apa tidak kita bicarakan baik baik, ini terjadi karena anak anak salah paham"sanggah Niken.


"Maaf bu Niken, namun saya sebagai seorang ibu tidak rela jika melihat anak perempuan saya bersedih, saya tidak rela melihat anak saya menderita"ucap Rina menahan tangisnya.


"Sekali lagi kami minta maaf atas nama Delon, tapi kami mohom bu Rina, beri Delon kesempatam untuk memperbaiki semuanya"pinta Niken.


"Baiklah, saya beri kesempatam, tapi jika kejadian seperti ini terulang kembali, maaf jika saya membawa kembali anak saya"ucap Rina setelah beberapa saat diam. Rina tak mau egois. Dia juga harus mengerti perasaan Luna yang memang sedari dulu menjalin hubungan dengan Delon.


"Terima kasih bu Rina, kami berjanji akan membuat Delon menyesal dengan perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi"ucap Niken. Sedangkan Diman hanya diam saja. Dia sebenarnya merasa kasian dengan rumah tangga anaknya. Namun memang Delonlah yang salah. Dia ingin membela pun tak bisa. Bahkan di kantor polisi tadi Diman juga mengatakan Luna akan menceraikannya.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya dibalik jeruji besi. Delon duduk termenung dengan beralaskan tikar tipis. Dinginnya lantai tak menjadikan Delon kedinginan. Pikirannya melayang memikirkan kata kata Diman tadi.


Luna Keguguran. Kata itu terus berputar putar di otak Delon. Dia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Diman dan Luna. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang aku lewatkan selama aku tidak pulang? tanya Delon dalam hati.


Tak terasa air mata Delon menetes. Entah apa yang lelaki itu rasakan. Namun rasanya begitu sakit mendengar Luna keguguran. Ingin rasanya Delon kembali dan mendengar penjelasan istrinya itu. Namun semuanya sudah terlambat. Bahkan tak lama lagi dia benar benar akan menjadi seorang tahanan jika sidang perkara dirinya sebagai kurir narkoba sudah selesai.

__ADS_1


Delon tak mampu berkata kata lagi. Bahkan Delon merasa tak punya muka untuk bertemu dengan Luna.


TBC


__ADS_2