Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 25


__ADS_3

Luna duduk termenung di teras depan rumahnya dengan ponsel yang setia dalam genggamannya. Semenjak pulang kembali kerumah, Luna selalu membawa ponselnya itu kemanapun. Dia selalu berharap Delon menguubunginya. Ya meskipun itu sedikit mustahil.


Luna menghela nafas berat saat ponselnya memang tak ada yang menghubungi. Dia memilih menyimpan ponselnya di saku dan beralih menatap jalanan kecil di depan rumahnya. Banyak orang yang berlalu lalang disana. Hingga pandangan Luna tak teralihkan saat segerombolan remaja berseragam putih abu abu melintas di depan rumahnya.


Ya, mereka adalah teman teman sebaya Luna. Mereka berjalan saling bercengkrama dengan senyum yang begitu bahagia. Seakan tak ada beban di pundak mereka. Sedangkan Luna? Dia sudah tak bisa menikmati masa masa itu lagi. Bahkan kini dia merasa sedang berada dititik terberat dalam hidupnya. Dimana dia hamil diluar nikah hingga harus menikah diusia yang seharusnya Luna masih duduk di bangku SMA.


Ditambah lagi kesalahpahaman yang terjadi dalam rumahnya hingga membuat Luna harus kehilangan calon anaknya. Bahkan belum selesai dengan masalah itu, kini Delon sang suami harus mendekam di penjara. Sungguh berat jalan yang harus Luna alami. Namun Luna tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa pasrah menerima takdir.


Mengingat nama Delon memang membuatnya rindu. Apalagi dia tak bisa mengunjungi pria yang berstatus suaminya itu. Hahh, memang benar kata D*lan, rindu itu berat. Luna benar benar merasakannya sekarang.


"Luna"panggil seseorang yang membuyarkan lamunan Luna.


"Ehh, ibuk"ucap Luna.


"Silahkan duduk buk"ucap Luna sopan.


"Kamu sendirian dirumah?"tanya Niken.


"Iya buk"jawab Luna.


"Emm, kamu ikut ibuk yuk"ajak Niken.


"Mau kemana bu?"tanya Luna.

__ADS_1


"Nanti kamu akan tau"jawab Niken.


"Sekarang kamu siap siap, ibuk tunggu"perintah Niken. Luna pun hanya bisa menganggukan kepalanya. Dia tak berani menolak ajakan ibu mertuanya itu.


.


Selesai berganti pakaian, Luna dan Niken segera beangkat ketujuan yang Luna sendiri tak tau kemana. Luna menatap luar jendela kala mobil yang ia tumpangi melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Lun"panggil Niken.


"Iya buk"jawab Luna.


"Kamu mau kan bersabar menunggu Delon keluar dari penjara?"tanya Niken yang membuat Luna tersenyum.


"Pasti nak, pasti. Delon pasti akan mendengar penjelasan kamu"ucap Nike seraya memeluk Luna.


.


.


.


Disisi lain Delon merasakan sepi. Bukan sepi karena tak ada teman satu selnya. Namun Delon merasakan sepi di hatinya. Luna. Satu nama yang membuat hari harinya begitu berwarna, kini entah dimana. Luna. Nama yang selalu membuatnya semangat bekerja kini sudah tak ada disampingnya.

__ADS_1


Delon memejamkan matanya begitu erat sembari memegang dadanya yang terasa begitu sesak. Luna. Nama itu terus berputar di kepalanya. Ingin rasanya bertemu dengan Luna dan memeluknya erat sembari mengucapkan kata maaf.


"Ya Tuhan, apa aku masih pantas di sebut suami"lirih Delon menunduk. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


Ada sebuah penyesalan dalam hatinya. Ditambah lagi kini dirinya sudah menikahi wanita lain. Bertambah pula rasa bersalah dalam diri Delon.


"Maafin aku Lun"gumam Delon. Delon memejamkan matanya sembari mengatur nafas agar lebih tenang.


"Saudara Delon, ada yang berkunjung"suara polisi itu membuat Delon tersadar. Dengan menghapus sisa air matanya, Delon berjalan keluar sel dengan malas.


Dengan wajah menunduk yang diringi helaan nafas berat, Delon duduk dibangku yang disediakan tanpa melihat siapa yang mengunjunginya. Bahkan karena terlalu malas, Delon tak tau jika orang yang dia rindukan ada didepannya.


"Delon"


Deg deg deg


Jantung Delon berpacu begitu cepat saat mendengar suara yang sangat dia rindukan.


"Nggak mungkin, pasti gue halusinasi"pikir Delon seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Delon"panggil Luna seraya meraih tangan Delon untuk di genggam. Merasa tangannya di genggam oleh seseorang membuat Delon mendongak. Dan betapa bahagianya Delon saat melihat istri kecilnya yang dia rindukan ada di depan mata. Bahkan tanpa permisi air matanya mengalir begitu saja.


"Maafin aku Lun, maaf"ucap Delon seraya membawa Luna kedalam pelukannya. Luna yang mendapat pelukan dari sang suami pun membalas pelukan itu dengan erat. Bahkan Luna juga sudah menangis dalam pelukan suaminya itu. Sedangkan Niken, air matanya juga sudah menetes kala melihat anak dan menantunya saling berpelukan melepas rindu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2