
Cuaca siang hari ini nampak tak terlalu panas. Matahari yang tertutup awan hitam menandakan jika akan turun hujan. Namun cuaca ini sangat disukai oleh Delon. Dengan semangat dia menarik gas motornya mengantarkan paket. Kalau nggak panas kayak gini kulit gue nggak bakalan item, batin Delon.
Hari ini Delon hanya mengantarkan 2 paket saja namun jaraknya cukup jauh, hampir di pusat kota.
"Jalan X nomer 09"ucap Delon. Delon segera turun sambil menenteng paket.
Tok tok tok
"Permisi, paket"ucap Delon. Tak berselang lama seorang pemuda yang usianya tak jauh beda dari Delon keluar da menerima paket itu.
"Terima kasih"ucap Delon seraya menerima amplop coklat dengan isi yang terluhat tebal dari si pemesan.
Delon menyimpan uang itu dalam tasnya kemudian kembali melajukan motornya kembali kekantor karena tadi adalah paket terakhir yang Delon kirim.
Selama perjalanan pulang, Delon memikirkan kembali kata kata Gilang yang menyuruhnya pulang. Menemui Luna dan membicarakan baik baik yang sebenarnya terjadi. Ingin rasanya Delon pulang, tapi lagi dan lagi egonya masih tinggi. Hingga akhirnya Delon memutuskan untuk kembali kekantor saja.
Sampai dikantornya ternyata Delon bertepatan dengan Gilang yang baru saja sampai.
"Baru sampai mas?"tanya Delon.
"Iya, lo juga?"tanya Gilang balik dan dibalas anggukan oleh Delon.
"Mau kemana setelah ini?"tanya Gilang seraya berjalan beriringan dengan Delon.
"Capek mas, mau istirahat aja di kantor"jawab Delon.
"Lo bener bener nggak mau pulang?"tanya Gilang.
"Sorry, bukan gue ikut campur urusan lo, tapi menurut gue lo mesti pulang deh, lurusin apa yang sebenarnya terjadi, apalagi akhir akhir ini lo sering main bareng Dena, takutnya istri lo tau dari orang lain kan tambah berabe"lanjut Gilang menasehati.
__ADS_1
"Gue nggak tau mas, gue bingung harus gimana, dalam lubuk hati gue yang paling dalam gue pengen pulang, tapi saat inget kejadian itu, gue bener bener kecewa kak"ucap Delon setelah beberapa saat diam.
"Sekarang gue tanya, selama kalian menjalin hubungan, pernah nggak Luna bikin lo kecewa? marah?"tanya Gilang. Delon menggeleng.
"Pernah Luna bohong sama lo?"dan lagi lagi Delon menggeleng.
"Huftt, jangan cuma karena amarah sesaat lo jadi kayak gini, pulang, temuin istri lo, ajak bicara baik baik, gue yakin kalian cuma salahpaham"ucap Gilang seraya menepuk bahu Delon pelan.
.
.
.
Ditempat lain Luna yang merasa tubuhnya sudah lebih fit memilih untuk membuka warung yang beberapa hari tutup. Selain mencari rejeki, Luna juga berharap dengan kesibukannya ini membuatnya sedikit bisa mengesampingkan Delon walau hanya sebentar.
Sebenarnya sejak kejadian hari itu Luna masih terus memikirkan Delon. Jelas memikirkan Delon suaminya. Apalagi Delon pergi karena salah paham dan sampai sekarang tidak pulang. Dihubungi pun tak bisa
Luna mengusap perutnya, dimana sang javang bayi pernah singgah disana. Air mata Luna menetes tanpa permisi. Anak yang tak bersalah harus kehilangan nyawa karena dirinya ceroboh. Bahkan anak itu belum sempat melihat betapa indahnya dunia.
"Maafin mama sayang"ucap Luna lirih sembari melihat langit yang sedikit mendung. Luna memejamkan matanya sesaat, memanjatkan doa untuk anaknya yang sudah lebih dulu tiada.
.
"Lun"seketika Luna membuka mata saat mendengar yang memanggilnya.
"Eh, mas Fajar"ucap Luna seraya megusap sisa air matanya.
"Kamu kenapa nangis Lun?"tanya Fajar yang menuntun Luna duduk dikursi teras rumah Luna.
__ADS_1
"Ehh, aku nggak nangis kok mas, aku cuma kelilipan"elak Luna.
"Beneran?"selidik Fajar.
"Bener mas"jawab Luna.
"Mas Fajar ngapain kesini?"tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
"Kebetulan lewat, terus mampir"jawab Fajar. Luna hanya menganggukan kepalanya saja.
"Em Lun, apa suami kamu sama sekali nggak pulang?"tanya Fajar hati hati. Luna hanya menggeleng pelan. Bahkan Luna sudah menunduk saat Fajar bertanya tentang Delon.
"Kamu nggak mau cari suami kamu itu?"tanya Fajar lagi.
"Aku nggak tau mas, nomer telfonya nggak bisa aku hubungi, aku juga nggak tau tempat kerja Delon"jawab Luna.
"Kalau aku bilang Delon sering ke club sama cewek, kamu percaya?"Luna langsung menoleh kearah Fajar dengan tatapan tajam.
"Mas Fajar jangan menjelek jelekan Delon ya, aku nggak suka"ucap Luna kesal.
"Aku nggak jelek jelekin Delon, aku bicara fakta"ucap Fajar.
"Udah deh mas, nggak usah jelek jelekin Delon, aku yang lebih tau gimana Delon"ucap Luna tegas.
"Kalau aku punya bukti, apa kamu juga ngga percaya?"tanya Fajar.
"Ini, aku punya bukti Lun"lanjut Fajar seraya menyodorkan ponselnya pada Luna.
Awalnya Luna ragu, namun karena dirinya tau betul seperti apa Delon, Luna mengambil ponsel Fajar dan mulai memutar vidio yang ternyata rekaman CCTV.
__ADS_1
Deg
TBC