
Delon tersenyum saat membuka mata wajah cantik Luna ada di dalam pelukannya. Bahkan tangan mungil Luna juga memeluknya erat. Senyuman itu semakin merekah saat mengingat bagaimana percintaan mereka tadi setelah sekian lama tak saling menjamah.
Delon mengecup kening Luna sekilas sebelum dirinya beranjak dari tempat tidur. Dengan hati hati Delon menyingkarkan tangan Luna yang berada di perutnya. Setelah berhasil, Delon segera memunguti pakaiannya dan memakainya.
Delon tersenyum kearah istrinya yang masih terlelap sebelum akhirnya dia keluar dari kamar dengan membawa ponselnya. Delon duduk di depan tv sambil meminkan ponselnya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat banyak panggilan tak terjawab dsri Dena. Bahkan pesan yang Dena kirim pun begitu banyak.
Delon segera membuka satu persatu pesan yang kirim oleh istri sirinya itu. Lagi lagi dia mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang dikirim oleh Dena. Dengan segera dia menghubungi Dena namun tak ada jawaban. Bahkan Delon juga mengirim pesan namun tak ada balasan.
Tanpa memikirkan penampilannya, Delon bergegas mengambil kunci motornya dan berlalu meninggalkan rumahnya. Hanya satu tujuan Delon. Kos tempat tinggal Dena. Dia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sekitar 20 menit perjalanan, Delon sudah sampai didepan kos Dena yang terlihat sepi. Delon bergegas turun dan membuka pintu kos Dena. Namun tak bisa karena ternyata di kunci. Delon berusaha menghubungi Dena menanyakan keberadaannya. Tapi lagi lagi tak bisa.
Delon celingak celinguk di sekitar kos Dena, berharap ada orang yang bisa dia tanyai keberadaan Dena. Hingga tatapan Delon tertuju pada seorang ibu paruh baya yang tak lain adalah pemilik kos ini.
"Permisi bu"ujar Delon.
"Ehh, iya mas, ada apa?"tanyanya.
"Maaf, saya mau tanya, apa ibu melihat Dena?"tanya Delon.
"Maksud masnya Dena yang tinggal di sana?"tanya sang pemilik kos sambil menunjuk tempat kos Dena.
"Iya bu benar, apa ibu melihatnya?"tanya Delon.
"Wah saya nggak tau mas, terakhir saya lihat tadi pagi dia beli bubur ayam di depan sama laki laki"sahut sang pemilik kos.
"Laki laki?"tanya Delon memastikan.
"Iya mas, sepertinya pacarnya atau pria yang menghamilinya mas, soalnya kelihatan deket banget"jawab ibu kos.
"Maaf kalau boleh tau mas ini siapanya Dena ya?"tanya ibu kos.
"Ehh, sa_saya temannya, iya teman"gugur Delon. Ibu kos pun mengangguk tanda mengerti.
"Ya sudah bu, saya pamit dulu, biar nanti saya hubungi Dena saja"pamit Delon.
"Iya mas silahkan"ucap ibu kos.
__ADS_1
"Pesan saya jangan terlalu dekat sama Dena mas, dia sepertinya bukan wanita baik baik"lanjut ibu kos itu.
"Maksud ibu?"tanya Delon bingung.
"Maaf ya mas, bukan saya melarang mas berteman dengan Dena, tapi Dena itu bukan cewek baik baik mas, Dena itu sering bawa pulang temen cowoknya"jelas ibu kos. Delon terdiam mencerna perkataan pemilik kos itu.
Kalau Dena sering membawa pulang teman prianya, kemungkinan bayi itu bukan anak ku. Ada sekelebat pikiran itu di otak Delon. Dia bahkan terlihat melamun hingga tak mendengar ibu kos terus terusan memanggilnya.
"Mas"sentak ibu kos.
"Mas nya malah ngalamun"ujar ibu kos.
"Hehe, maaf bu"ucap Delon tak enak.
"Iya mas nggak apa apa, saya permisi masuk dulu ya mas, mau masak"pamit ibu kos.
"Iya bu, silahkan"jawab Delon.
Delon kembali ke kos Dena dan duduk di kursi depan kos itu. Dia masih memikirkan perkataan ibu kos tadi. Dia bingung harus percaya siapa.
Huftt
.
.
.
Dena merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah bercinta. Dia mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan itu. Namun seketika Dena menegakan tubuhnya dsn bersandar di ranjang saat ingat Delon belum bisa dihubungi.
"Kenapa sayang?"tanya Gilang.
"Mau coba hubungi Delon lagi, siapa tau udah bisa"jawab Dena sambil mengutak atik ponselnya.
Dena membelalakan matanya saat melihat panggilan dan pesan dari Delon. Bahkan Dena sampai menjerit kaget saat membaca pesan Delon yang mengatakan akan ke kosnya.
"Kenapa sayang? ada apa?"tanya Gilang panik.
__ADS_1
"Delon, dia dateng ke kos aku"panik Dena.
"Apa"ucap Gilang kaget.
"Oke oke, tenang dulu, jangan panik, kasihan baby"ucap Gilang menenangkan Dena.
"Oke, udah tenang?"tanya Gilang yang di angguki oleh Dena.
"Sekarang pakai baju dulu, terus aku antar ke kos"ucap Gilang.
Mereka berdua segera memkai baju masing masing. Setelah selesai barulah Gilang mengantarkan Dena kembali ke kos.
Gilang menghentikan mobilnya di tempat yang agak jauh dari kos Dena. Tentu saja hal itu dia lakukan agar tak ketahuan Delon. Setelah Dena turun, Gilang segera melajukan mobilnya menjauh.
Dena jalan dengan sedikit tergesa gesa dengan satu tangan yang memegangi perut buncitnya. Saat hampir sampai di kos, seseorang memanggilnya. Dan ternyata dia adalah sang pemilik kos.
"Ada apa bu?"tanya Dena.
"Tadi ada yang nyariin kamu"ucap ibu kos.
"Siapa bu?"tanya Dena.
"Aduh ibu lupa tanya namanya, yang jelas cowok"jelas ibu kos.
"Ciri cirinya seperti apa bu?"tanya Dena dengan jantung yang berdetak tak karuan.
"Ganteng, putih, tingginya sekitar 170.an, dan umurnya hampir sama kayak kamu"jelas ibu kos.
Mendengar penjelasan ibu kos, jantung Dena berdetak semakin tak karuan. Dia yakin bahwa yang dimaksud ibu kos itu adalah Delon.
"Te_terus sekarang dia dimana bu?"tanya Dena.
"Udah pulang, katanya mau hubungi kamu aja"jawab ibu kos.
"Ya udah bu, makasih infonya"ucap Dena yang diangguki oleh pemilik kos.
Dena masuk kedalam kosnya dengan perasaan bimbang. Dia bingung harus mengatakan apa jika Delon bertanya. Bahkan Dena hanya melamum memikirkan Delon di atas kasur.
__ADS_1
TBC