Ranjang PENYESALAN

Ranjang PENYESALAN
BAB 28


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Sudah satu minggu sejak Delon melarang mengunjungi setiap hari, sudah satu minggu itu pula Dena tak pernah datang. Wanita yang tengah hamil itu duduk bersantai di balkon kamar menikmati sinar matahari pagi dengan ditemani secangkir teh.


Sebenarnya Dena merasa senang saat Delon melarang dirinya mengunjungi setiap hari. Namun demi sebuah misi yang tengah ia jalankan, Dena menyempatkan diri untuk mengunjungi Delon 1 atau 2 kali saja dalam seminggu.


Dena yang terlahir dari keluarga sederhana yang kini hanya tinggal seorang diri membuat dirinya rela melakukan apapun demi mendapatkan uang. Bahkan dengan menjual diri.


"Sayang"sapa Gilang sambil memeluk Dena dari samping.


Cup


"Udah seselai?"tanya Dena yang di jawab anggukan oleh Gilang.


"Aku mau bicara serius sama kamu"ucap Gilang.


"Kenapa honey?"tanya Dena.


"Aku akan membebaskan Delon"ucap Gilang.


"Maksudnya?"tanya Dena bingung.


"Ya aku akan membebaskan Delon karena menunggu 2 tahun terlalu lama sayang"ucap Gilang.


"Selama Delon bekerja kita yang menikmati hasilnya, bahkan polisi hanya tau jika Delon kurir narkoba tanpa tau siapa orang di balik semua itu. Jika Delon semakin lama di penjara kita nggak bisa hidup senang"lanjut Gilang.


"Tapi itu nggak mudah Gilang"ucap Dena.


"Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya"ucap Gilang seraya memeluk Dena.

__ADS_1


Gilang tersenyum kala mengingat bagaimana dirinya bisa bertemu denga Delon. Delon yang kala itu bingung mencari pekerjaan dengan gampangnya Gilang mengelabuhi anak remaja itu.


Awalnya Gilang sempat tidak yakin jika Delon mencari kerja, apalagi jika dilihat dari penampilannya Delon seperti masih anak sekolah. Namun melihat Delon yang bersungguh sungguh mencari kerja, Gilang langsung menawarkan pekerjaan yang langsung di terima Delon. Tentu Gilang sangat senang saat itu, apalagi Delon masih remaja lebih mudah dibodohi, pikir Gilang.


Tapi ternyata dugaan Gilang kala itu memang benar, Delon sangat mudah dibodohi. Bahkan Delon tak pernah bertanya apa sebenarnya paket yang dia kirim setiap harinya. Padahal jika dilihat dari banyaknya paket yang dia kirim dan gaji yang dia terima, tentu saja itu membuat curiga. Namun Delon yang membutuhkan uang dan pekerjaan tak berfikir sampai disana.


Gilang tersenyum menyeringai mengingat itu semua. Apalagi nanti saat dirinya berhasil membebaskan Delon. Dia akan sangat mudah mendapatkan uang dari Delon yang ternyata anak seorang juragan.


.


.


.


Pagi hari Luna sudah dibangunkan oleh suara ayam yang berkokok saling bersahutan. Dengan langkah gontai, Luna berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri. Pagi pagi seperti ini ibunya sudah berangkat bekerja sebagai buruh cuci, jadi Luna hanya dirumah sendiri.


Disela sela kenikmatan Luna sarapan, seseorang mengetuk pintu rumah Luna. Dengan sedikit tergesa gesa, Luna berjalan membukakan pintu.


"Hai"sapanya saat Luna muncul dibalik pintu.


"Ma_mas Fajar"ucap Luna terbata.


"Mas Fajar ngapain disini?"tanya Luna.


"Aku nggak disuruh masuk dulu gitu?"tanya Fajar balik.


"Ehh, maaf mas, tapi aku dirumah sendiri"ucap Luna tak enak hati.

__ADS_1


"Aku mengerti"paham Fajar. Dan pria itu memilih duduk di kursi kayu yang ada diteras rumah Luna. Dan Luna pun ikut duduk disamping Fajar namun masih dengam batas aman.


"Mas Fajar ngapain kesini?"tanya Luna.


"Aku nganter ibu kerumah mang Diman, ada perlu, jadi sekalian mampir"jawab Fajar jujur dan Luna hanya mengangguk.


"Lun, boleh aku bertanya?"tanya Fajar.


"Tanya apa mas?"tanya Luna.


"Tentang Delon"lirih Fajar. Luna menunduk sambil memainkan jari jarinya.


"Maaf mas"lirih Luna.


"Untuk?"tanya Fajar.


Huftt


"Maaf mas, bukan aku tidak menghargai usaha mas Fajar buat dapetin bukti tentang Delon dan wanita itu, tapi keputusan ku sudah bulat mas"ucap Luna.


"Aku memberi Delon kesempatan untuk berubah, dan semoga 2 tahun dia dipenjara bisa membuatnya sadar dan berubah"lanjut Luna.


"Lalu ibumu?"tanya Fajar penasaran. Tak mungkin seorang ibu akan memaafkan begitu saja saat anaknya dikhianati oleh suaminya, pikir Fajar.


"Ibu hanya menurut keputusanku saja mas"jawab Luna. Terdengar helaan nafas Fajar. Dia memang menaruh hati pada Luna. Namun saat tau Luna sudah bersuami, Fajar mencoba memendamnya. Tapi saat tau kelakuan Delon, membuat Fajar gencar kembali mendekati Luna.


Namun mendengar ucapan Luna barusan, lagi lagi Fajar hanya bisa menerima keputusan wanita yang dia cintai. Fajar tak ingin egois dan ambisius untuk cintanya, dia tak ingin menyakiti orang lain.

__ADS_1


TBC


__ADS_2