
Delon duduk di bangku panjang yang ada di halaman rumah Luna. Tepatnya dibawah pohon mangga yang tumbuh lebat dihalaman. Dia sengaja menjauh dari rumah mertuanya hanya demi menerima telfon penting. Telfon penting? Jelas penting bagi Delon, karena orang yang menelfon adalah Dena.
Delon celingukan memandangi sekitar rumah. Takut takut Luna atau mertuanya keluar rumah dan memergokinya sedang telfonan dengan Dena. Dirasa sudah aman, Delon segera menggeser tombol hijau yang tertera pada layar ponselmya yang tadi sudah sempat mati karena terlalu lama tidak dia terima.
"Hallo sayang"ucap Delon lirih.
"..."
"Maaf sayang, aku malam ini menginap dirumah Luna"jelas Delon.
"..."
"Iya sayang, aku besok akan kembali kekota, nanti aku kabari lagi"ucap Delon.
"..."
"Kamu perlu apa?"tanya Delon tersenyum. Meskipun sesekali dia tengok kanan kiri takut takut ada orang.
"..."
"Baiklah baiklah, aku transfer sekarang"jawab Delon.
"Bersenang senanglah kamu sama baby, beli apapun yang kalian inginkan"lanjut Delon dengan senyum manis.
"..."
"Sama sama sayang, love you too"jawab Delon sebelum akhirnya panggilan telfon itu selesai.
Delon segera mengutak atik ponselnya untuk mentrasfer uang untuk Dena. Sejak kepulangan Delon, Diman memang sudah membuka ATM Delon yang sempat ia blokir. Bahkan Diman juga sudah mengembalikan motor sport milik Delon. Dan rencananya besok ketika Delon dan Luna kembali kekota, Diman akan memperbolehkan Delon membawa mobilnya.
__ADS_1
Delon tersenyum saat ada pesan masuk dari Dena yang mengatakan transferannya sudah masuk. Dalam pesan itu bahkan Dena menyematkan emoticon love untuk Delon. Sungguh Delon merasa sangat senang. Dengan segera Delon menyimpan ponselnya dan segera kembali masuk.
Delon masuk pintu utama yang kemudian menguncinya karena sudah malam. Namun belum sempat Delon berbalik, suara Rina membuatnya terkejut.
"Ibu"sapa Delon gugup. Bahkan Delon sesekali memandang arah lain karena takut.
"Darimana kamu malam malam begini Delon?"tanya Rina.
"Ehh, cari angin buk, nggak bisa tidur soalnya"bohong Delon.
"Ya sudah, sana kembali kekamar, jangan tidur terlalu malam, besok kalian harus bersiap kembali kekota"ucap Rina seraya berlalu kekamarnya.
Delon menghela nafas lega saat Rina sudah masuk kekamarnya. Dengan segera Delon masuk kekamar dan melihat Luna yang tertidur membelakanginya. Delon berjalan pelan mendekati Luna.
Sampai di depan Luna, dapat Delon lihat sang istri yang memejamkan mata dengan damai. Sungguh sebenarnya Delon tak tega menyakiti Luna kembali. Namun bercerai dengan Luna pun Delon enggan. Dia sangat mencintai Luna. Kalau cinta mengapa Delon mendua? Hahh, sungguh Delon hanya ingin bertanggung jawab saja dengan Dena yang kini hamil anaknya.
.
.
.
Disisi lain dipusat perbelanjaan dikota, Dena dan Gilang berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Senyuman terus terukir di bibir mereka. Setelah mendapatkan transferan uang dari Delon tadi, Dena segera mengajak Gilang untuk berbelanja. Seperti itulah Dena, hanya menghabiskan uang dengan berbelanja.
"Sayang, makan dulu yuk, aku laper"rengek Dena.
"Baiklah, apapun untuk tuan putri dan baby"sahut Gilang dengan senyum manis.
Mereka berjalan menuju food court di mall itu. Sesampainya di food court, Dena dan Gilang segera mencari tempat duduk dan memesan makanan. Sembari menunggu makanan siap, mereka tak henti hentinya melempar senyum. Bahkan tangan kedua saling bertautan diatas meja.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya besok Delon sudah kembali"cicit Dena.
"Secepat itu?"tanya Gilang.
"Ya, tadi dia kasih kabar kalau besok dia akan kembali kesini"jawab Dena.
"Sendiri?"tanya Gilang memicing.
"Tentu saja tidak, dia kesini bersama istri sialan itu"jawab Dena kesal.
"Justru itu menguntungkan buat kita sayang"ucap Gilang yang membuat Dena bingung.
"Maksudnya?"tanya Dena tak paham.
"Dengar, dengan adanya Luna disini, pasti Delon tidak mungkinkan menyuruh kamu buat tinggal bareng dirumah itu"ucap Gilang yang diangguki oleh Dena.
"Dengan begitu kamu bisa minta dibelikan rumah oleh Delon, pasti Delon akan mengabulkannya"lanjut Gilang.
"Apa kamu yakin sayang?"tanya Dena ragu.
"Sangat yakin, Delon tidak akan membiarkan Luna tau kalau kamu juga istrinya"jawab Gilang.
"So, dengan kamu meminta rumah baru, Luna nggak akan tau masalah ini"lanjut Gilang yang langsung disambut senyuman oleh Dena.
"Kamu benar sayang"sahut Dena tersenyum senang.
"Pasti dong, Gilang"sombong Gilang. Sedangkan Dena hanya mendengus melihat wajah songong Gilang. Untung saja makanan mereka sudah sampai, jika tidak mungkin Dena sudah mencium wajah songong Gilang agar berganti wajah mesum.
TBC
__ADS_1