
Pagi hari Luna terbangun lebih dulu. Dia melihat jam yang menempel dinding yang menunjukan pukul 5 pagi. Luna menoleh kesamping, menatap wajah Delon yang masih nyaman dengan tidurnya. Tak ingin menganggu waktu istirahat suaminya, Luna memilih untuk segera turun dari ranjang untuk mempersiapkan sarapan.
Luna berjalan kedapur mengecek ada apa saja di kulkas. Dan ternyata hanya ada telur dan beberapa sayuran. Itu pun sudah agak layu.
"Lumayanlah, masih bisa dipakai"gumam Luna seraya mengambil kol dan sawi.
Luna segera mencuci beras dan menanaknya. Dia akan membuat nasi goreng saja. Mudah dan praktis. Sambil menunggu nasi matang, Luna menyiapkan bumbu nasi goreng dan sayuran akan dia pakai. Setelah semuanya selesai dan nasi sudah matang, Luna segera mengambil wajan untuk memasak nasi goreng.
"Akhirnya selesai"ucap Luna sambil menyajikan dua piring nasi goreng buatannya.
Luna beranjak menuju kamar untuk membangunkam Delon. Namun saat sampai didepan pintu kamar, samar samar Luna mendengar Delon tengah berbincang dengan seseorang. Karena penasaran, Luna membuka sedikit pintu kamarnya untuk melihat. Dan ternyata Delon tengah berbicara melalui panggilan telefon.
Luna menatap Delon yang membelakanginya sambil berusaha mendengarkan apa yang Delon ucapkan. Karena posisi Delon yang berada di dekat jendela dan suara Delon yang sengaja dibuay lirih, Luna kesusahan menguping pembicaraan Delon dengan orang di balik telefon itu.
Namun karena rasa penarasan, Luna membuka pintu kamar itu lebih lebar lagi. Tapi siapa sangka, ternyata tindakan Luna itu membuatnya ketahuan menguping. Sontak Luna tersentak kaget. Delon yang mendengar suara pintu terbuka pun langsung menoleh. Sama halnya dengan Luna, Delon pun sama terkejutnya.
"Lu_Luna, kamu ngapain disitu"tanya Delon gugup.
"Emm, a_aku mau panggil kamu buat sarapan"jawab Luna sama gugupnya.
"Ahh iya, aku segera keluar"ucap Delon seraya menyimpan kembali ponselnya di atas meja yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Luna pun mengangguk dan segera kembali kemeja makan. Tak butuh waktu lama Delon pun sudah duduk di meja makan berhadapan dengan Luna. Mereka sama sama makan dalam diam. Delon yang memikirkan apa Luna mendengar pembicaraannya, sedangkan Luna yang memikirkan dengan siapa Delon telfonan. Ahh, sudahlah, suatu saat nanti kalian pasti akan tau.
.
.
.
Berbeda dengan suasana rumah Delon yang diselimuti kecanggungan, di sebuah kos sederhana terlihat dua insan tengah bergelung dibawah selimut dengan tubuh polosnya. Siapa lagi kalau bukan Gilang dan Dena.
Semalam setelah menghabiskan malam yang panjang, Gilang sengaja menginap di kos Dena. Sebanarnya Gilang sudah mengajak Dena untuk tinggal dirumahnya, namun demi rencana berjalan lancar, Dena memilih untuk tinggal dikos saja.
Dena menggeliat kecil seraya mengerjapkan matanya perlahan. Dia mengusap perutnya yang sudah buncit itu.
Dia menatap Gilang yang masih memejamkan mata. Akhirnya Dena memutuskan untuk membangunkan Gilang. Gilang yang merasa terganggu pun mulai mengerjapkan matanya.
"Kenapa sayang?"tanya Gilang dengan suara khas bangun tidur.
"Aku laper"rengek Dena. Mendengar rengekan sang kekasih, Gilang segera bangkit dan mulai memakai pakaiannya.
"Mau mandi dulu atau mau cari sarapan sekarang?"tanya Gilang.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Gilang bertanya seperti itu mengingat semalam mereka menghabiskan malam yang panjang dengan bercinta. Tak mungkinlah bangun tidur langsung keluyuran.
"Mandi dululah, lengket semua badan, capek pula"ucap Dena seraya memunguti pakaiannya dan segera beranjak kekamar mandi.
Di kos Dena kamar mandinya hanya ada 3, jadi harus mengantri dengan penghuni kos lainnya. Beruntung, karena hari ini hari Minggu jadi penghuni kos lainnya belum ada yang mengantri. Mungkin mereka masih menikmati mimpi indah mereka.
Dena segera masuk kekamar mandi begitu pula dengan Gilang yang juga masuk kamar mandi sebelah Dena. Mereka menyelesaikan acara mandi cukup kilat karena perut yang sudah meronta minta makan.
Selesai mandi keduanya segera mencari makan untuk sarapan. Dena mengajak Gilang membeli bubur ayam saja di dekat kos dan Gilang pun setuju saja.
"Sayang, apa nanti Delon akan datang?"tanya Gilang seraya berjalan menuju si penjual bubur ayam.
"Iya, dia mengantarkan uang bulanan, kenapa?"tanya Dena.
"Yaa, aku nggak bisa lama lama dong sama kamu"ucap Gilang merajuk.
"Ishh apaan sihh, kamu tenang saja, setelah Delon memberi aku uang, kita jalan jalan, aku bosen di kos terus"ucap Dena seraya menggerutu.
"Emm, baiklah, aku menurut saja sama kamu"ucap Gilang seraya menarik pinggang Dena mendekat.
Dena tersenyum seraya membenarkan kumis palsu yang menempel di bawah hidung Gilang. Gilang pun tersenyum menatap Dena penuh damba. Memang setelah penangkapan Delon kala itu, Gilan selalu mengenakan kumis dan rambut palsu saat keluar rumah agar polisi tak mengenalinya.
__ADS_1
Dan benar saja, sampai saat ini polisi belum menemukannya. Apalagi Gilang menggunakan nama samaran. Bahkan Gilang juga membuat berita yang seolah olah dirinya melarikan diri di luar pulau.
TBC