
Malam semakin larut, kebanyakan orang memilih untuk mengistirahat diri. Memilih untuk tidur nyenyak sebelum esok kembali beraktivitas. Namun hal itu tak berlaku untuk dua sejoli yang tengah asik pergumul di atas ranjang.
Delon dan Dena tengah asik mendesah tanpa mau ada yang mengalah. Meskipun Delon melakukannya karena mabuk, namun Dena tetap menikmati permainan Delon. Bahkan Delon sering menyebut nama Luna di tengah tengah desahannya pun tak membuat Dena berpaling.
Setelah hampir 1 jam bergelut di atas ranjang tanpa busana, mereka sama mengerang panjang pertanda keduanya sama sama mencapai puncak. Delon yang kelelahan langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Dena yang masih sibuk mengatur nafas. Tak butuh waktu lama, Delon sudah menjemput alam mimpi.
Berbeda dengan Dena, gadis itu tengah tersenyum menatap Delon yang terlelap. Perlahan Dena mengusap lembut pipi Delon dan mengucupnya singkat.
"Terima kasih sayang"bisik Dena sebelum akhirnya memeluk Delon dan ikut menjemput alam mimpi.
Ketika dua insan yang baru saja melakukan pergumulan itu terlelap, segerombolan polisi tengah melakukan razia di club yang Delon kunjungi malam ini. Polisi yang sudah masuk segera memeriksa setiap ruangan. Dalam club itu ada 5 kamar, dari kamar 1 sampai 3 kosong. Nun di kamar 4 dan 5 ada yang menggunakan. Termasuk Delon dan Dena. Delon dan Dena tertangkap basah tidur tanpa menggunakan busana. Dan akhirnya mereka dibawa ke kantor untuk pemeriksaan.
.
.
.
Diman dan Niken baru saja menyelesaikan acara makan malam mereka. Hanya berdua. Ya, semenjak Diman mengirim Delon kekampung setelah menikah, rumah besar itu hanya ditempati oleh dua orang saja. Sepi.
Sebenarnya beberapa kali Niken mencoba bicara pada sang suami agar menyuruh Delon dan Luna kembali dan tinggal bersama mereka saja. Namun Diman tak pernah mau, Diman bilang bahwa itu adalah hal yang paling memalukan. Mendengar ucapan suaminya memang membuat Niken sakit hati, namun apalah daya, dia tak mampu membantah ucapan suaminya itu.
__ADS_1
Selesai makan malam Niken menemani Diman yang fokus pada buku buku di depannya. Sebagai seorang juragan beras, Diman selalu memantau kinerja anak buahnya. Dan dirinya sendiri yang turun tangan mengecek semuanya. Namun saat Diman tengah fokus pada pekerjaannya, ponselnya berdering hingga mengalihkan perhatiannya.
"Hallo"ucap Diman.
"..."
"Ya benar, saya orang tua Delon"ucap Diman.
"..."
"Baiklah, saya kesana"ucap Diman lalu mematikan panggilan itu. Niken sejak tadi mengamati ekspresi wajah sang suami yang terlihat marah saat menerima telfon.
"Ada apa pak?"tanya Niken.
"Delon kenapa pak?"tanya Niken bingung.
"Anak mu itu sudah berbuat hal memalukan, dan sekarang dia ada dikantor polisi"ucap Diman marah.
"Apa pak? kantor polisi?"tanya Niken tak percaya.
"Sudahlah buk, sekarang kita kesana"ucap Diman. Niken pun hanya mengangguk dengan perasaan berkecamuk.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Delon, batin Niken. Dengan terburu buru Niken dan Diman bersiap menyusul sang anak.
.
.
.
Di kamarnya, Luna bersandar di ranjang dengan pandangan lurus kedepan. Hampa. Kosong. Itu yang Luna rasakan saat ini. Semenjak Delon tak pernah pulang, Luna memang melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun tak bisa dipungkiri, hatinya merasa kehilangan. Ditambah lagi sang jabang bayi yang sudah lebih dulu kembali pada sang pencipta sebelum mereka bertemu.
Setiap hari Luna selalu berusaha menghubungi Delon. Namun tak pernah ada jawaban. Ingin bertanya pada mertuanya apakah Delon pulang, namun Luna tak berani. Ingin mencari sendiri pun Luna tidak tau mencari dimana. Jika saja Luna tau dimana tempat kerja Delon, mungkin dia akan menemukan titik terang.
Sebenarnya Fajar pernah menawari Luna untuk mengantarkannya ke club yang pernah di datangi Delon. Namun Luna tak mau. Alasannya karena dia memang belum sepenuhnya percaya jika Delon melakukan hal seperti itu. Apalagi dulu saat disekolah Delon adalah anak yang rajin dan tak pernah terlibat dalam hal hal yang menjerumus seperti itu. Padahal Fajar sudah menunjukan rekaman CCTV pada Luna, namun Luna masih belum sepenuhnya percaya.
Air mata Luna menetes kala mengingat rekaman CCTV itu. Apa benar itu Delon? Apa iya Delon melakukan hal seperti itu? dan masih banyak lagi pertanyaan di benak Luna. Luna menghapus air matanya dan bersiap untuk tidur. Dia memilih tidur lebih awal berharap ketika dirinya bangun nanti, Delon sudah kembali.
Namun belum sempat Luna memejamkan mata, suara ketukan pintu membuatnya harus bangun lagi.
"Jam 9"gumam Luna. Dengan langkah pelan Luna berniat membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang malam malam begini.
Ceklek
__ADS_1
Deg
TBC