
Sisi lain istana, ruangan kerja Putra Mahkota terlihat sederhana. didalam nya terdapat banyak dokumen yang berisi masalah wabah di bagian barat kota, pajak yang semakin meroket di daerah ibukota, dan lain – lain. Dokumen itu berantakan di atas meja.
Wangseja terlihat tengah duduk menghadap keluar melalui sebuah jendela memperhatikan pohon sakura yang sedang bermekaran, semilir angin yang berhembus perlahan membawa aroma lembut bunga sakura.
“ Wangseja, apa yang sedang anda pikirkan ? “ ( pelayan pribadinya Seowu yang sejak tadi di sebelahnya terus memperhatikan putra mahkota dengan khawatir)
“ Hufffft, tidak Seowu. Aku hanya lelah “
“ yang mulia wangseja sebaiknya beristirahat dulu baru melanjutkan lagi nanti “
Wangseja Yong Ju melirik kembali ke meja kerja nya dan menghela nafas.
“ bukan karena ini. Seowu, aku merasa di benci oleh adikku sendiri setelah kecelakaan ratu terdahulu. Seperti orang bodoh, hanya aku yang tidak tahu apa yang terjadi dahulu. Ayah dan Yong Hwa bahkan tak berniat menceritakan sedikitpun. “
“ kenapa tidak tanyakan saja pada pangeran Yong Hwa yang mulia wangseja.. “
“ kamu tahu sendiri dia tidak pernah mau berbicara lama – lama denganku, dia... Selalu saja menghindar seakan ada sesuatu yang menyakitkan jika diceritakan. Tapi aku tak mengerti bukan kalau dia tidak menceritakan nya ? “
“ wangseja.. pangeran agung bahkan dibiarkan bebas membunuh sejak saat itu, aku takut.. suatu saat nanti dia akan berusaha merebut posisi putra mahkota, jika anda tidak bertindak tegas sejak saat ini. “
“ Hentikan Seowu !!, Bagaimana pun juga dia adalah saudara kandungku, tidak mungkin dia berpikir seperti itu. Tutup mulutmu ! “
Seowu pun langsung berlutut meminta maaf.
“ Maafkan saya Wangseja, saya hanya salah berbicara “ ( menunduk dalam-dalam )
“ hahhh.. sudahlah, persiapkan keperluan seperti biasa. Kita akan menyelidiki pajak di daerah ibukota diam – diam “
“ Baik Wangseja, saya undur diri “ ( Seowu pun pergi dengan cepat )
__ADS_1
Setelah nya Wangseja Yong Ju dan pengawalnya sudah berjalan ditengah tempat ramai pasar menyatu dengan masyarakat sekitar. Dia melihat sebuah toko pemerintah yang bertugas memungut pajak dari masyarakat, ada beberapa orang mencurigakan yang masuk. Berpakaian biasa tak berseragam pejabat pemerintah. Mereka pun memperhatikan dari jauh. Baru setelah orang – orang tadi keluar ia mengikuti di belakangnya.
“ Wangseja, jangan mengikuti sepertinya ini berbahaya “ ( saat di tengah jalan )
“ dasar Seowu, kamu yang akan membuatku dalam bahaya memanggilku seperti itu diluar istana !! “ ( sergahnya dengan emosi yang tertahan berjaga agar tetap sunyi dan aman )
“ Maafkan hamba tuan muda, tapi sepertinya ini berbahaya. Ayo kita kembali dan suruh mata – mata istana yang mengawasi “
“ sebelum mengutus mata – mata istana tentu saja kita sudah kehilangan jejak mereka. Sudah, kita ikuti saja dulu diam – diam “
“ baik tuan muda “ ( menunduk )
Saat sampai disebuah gang sempit mereka berbalik dan bertanya kepada putra mahkota seperti sudah tahu diikuti sejak awal.
“ siapa kalian !. Kenapa mengikuti kami ! “ ( sungut pria bertubuh tambun dan mengeluarkan sebuah belati )
2 orang disampingnya pun telah bersiap dengan posisi siaga. Tanpa menunggu aba - aba salah seorang diantaranya meniup sebuah peluit dan menit berikutnya orang – orang mereka berdatangan dari berbagai sudut mengepung keduanya berjumlah kurang lebih 30 orang.
“ Hah !! Alasan yang tidak masuk akal “ ( timpal seseorang yang bertubuh tambun )
“ Serang mereka !! “
“ Tunggu, pria sejati tidak main keroyok bukan. Ayo kita satu lawan satu jika kalian memaksa “ ( sergah wangseja Yong Ju dengan senyum puas sambil memikirkan jalan keluar )
“ Seowu, ayo kita kabur. Aku punya rencana. Kamu ikuti kata - kataku “. ( Bisik Wangseja Yong Ju pada Seowu sembari sedikit mendekat )
“ baik, saya siap Tuan muda “ ( balasnya memberikan persetujuan )
“ baiklah. siapapun majulah duluan. Lawan Seowu. Hati – hati nyawa kalian melayang karena dia adalah menteri perang ! “ ( teriak Wangseja Yong Ju memasang tampang percaya diri tinggi sambil mendorong Seowu ke depan )
" *cuihh, menteri perang ? baiklah kita lihat kemampuanmu !. semuanya, serang mereka ! "
__ADS_1
" kurang ajar. Dia main curang rupanya " ( gumam Wangseja sambil menelan ludah* )
Seowu pun tiba - tiba bingung dengan perkataan Putra Mahkota,
“ A a apa, apa maksud tuan muda ?? “ ( wajahnya memperlihatkan kebingungan dan tangannya bergetar memegang pedang membayangkan harus melawan mereka semua seorang diri )
Sebelum sempat dijawab orang mencurigakan tersebut memulai serangannya, pria terdekat bertubuh tambun mengarahkan belati dan berhasil di tangkis oleh Seowu, sebelah kiri mendekati dan Seowu pun berputar ke sisi sebelahnya beradu pedang kemudian menendang telak bagian perut. Empat orang di belakang terlihat akan menyerang Wangseja Yong Ju. Seowu pun berlari kemudian berteriak
“ Tuaann Mudaaa ?!, Awas di belakang ! “
Seowu melompat ke arah tuan muda dengan mengacungkan pedang
“ Haaa “ ( Wangseja Yong Ju sontak saja langsung berjongkok mengamankan diri )
“ dasar Seowu ! Apa dia mau membunuhku ?! “ ( umpatnya dalam hati menahan kesal )
Saat melihat kesempatan Wangseja Yong Ju langsung melarikan diri dari gang lain yang terlihat kosong tanpa halangan orang – orang tadi.
cringg, brakk buaghh. Pertarungan semakin sengit.
“ Wangseja, ternyata ini rencanamu. Kenapa kamu bilang aku menteri perang “ ( tangis Seowu dalam hati tanpa air mata )
Sementara Seowu terus berkelahi, Wangseja berlarian dari gang satu ke gang lain melarikan diri dan dikejar oleh beberapa orang. Melihat sebuah rumah produksi kain ia pun masuk bersembunyi di dalam.
“ sssttt, Wangseja, yang mulia putra mahkota ??!! “ ( terdengar suara teriakan pelan dari arah lain di rumah tua sebelah gedung tersebut )
Wangseja pun menoleh dan melihat seorang gadis melambaikan tangan menyuruh ia menghampiri. Seakan tak percaya Wangseja diam keheranan.
“ kenapa gadis itu tahu identitas ku, apakah dia mata – mata ratu ? “ ( gumamnya dalam hati )
Tanpa disadari orang – orang tadi menemukan tempat persembunyian Wangseja. Saat mau menyerang tiba – tiba saja gadis itu sudah ada di sampingnya lalu menarik tangannya berlarian sejauh mungkin.
__ADS_1
Bersambung..