
" Ashhi, kenapa malah tidur ? apa maksud perkataan tadi ? "
" Hmm, aku sedang berpikir " ( jawabku singkat menenggelamkan diri mencari solusi dari perkataanku beberapa saat lalu )
" Ashhi, Boram merasa khawatir. Kamu tidak sedang memikirkan ide aneh bukan ? " ( tanya Boram khawatir )
Boram hanya harap cemas melihat sikapku yang diam memejamkan mata dengan alasan mencari solusi. Berulang kali ia memperbaiki duduknya dan terus bergerak, sesekali mengintip keluar dari jendela tandu memperhatikan arah matahari bergulir.
" Ashhi, sudah 20 menit berlalu. "
" Aku tahu " ( akupun membuka mataku seketika )
Dengan cepat aku mencari kotak pakaian dari belakang tempat duduk kami, membuka dan mendapati sebuah pakaian luaran yang memiliki tutup kepala.
" Boram, ayo kita bertukar pakaian. " ( titahku cepat )
" Apa ?? ashhi, apa yang akan kamu lakukan ? " ( tatapnya penuh tanya )
" Hah, jangan bilang Agassi sendiri yang akan kembali kesana ? " ( tebak Boram kemudian )
Sejenak kami diam dan saling menatap,
" Boram, kali ini aku tidak ingin kembali terlalu cepat ke Istana. Aku ingin membantu penduduk itu sebisa mungkin. "
" Tidak bisa Agassiiii " ( tolak Boram mentah - mentah )
" Apa yang harus kukatakan nanti pada tuan Yeo ? lalu Wangseja, bagaimana jika ia menanyakan keberadaan mu ? belum lagi segala aktivitas ashhi di istana, kemudian... Bagaimana kalau - kalau Pangeran Iblis itu mencarimu ? "
" Boram, lihat aku. Kamu itu pandai menirukan suaraku, ini tidak akan mempersulit mu. Bilang saja aku sedang ingin menyendiri dikamar beberapa hari. Mengerti ? " ( sergahku menenangkannya )
" Apakah kamu tidak kasihan melihat mereka ? " ( tambahku )
" Kasihan.. " ( jawab Boram lesu )
" Lalu bagaimana jika nanti Agassi tertular ? "๐ฅบ
" Aku sudah punya rencana ku sendiri ". ( balasku mantap )
Tatapku kembali mencoba meyakinkan,
" Baiklah.. " ( setuju Boram pasrah )
kami selesai bertukar pakaian lalu aku mengangguk pada Boram memberi aba - aba untuk mulai.
__ADS_1
" Berhenti ! "
Teriak Boram lantang dan beberapa pengawal yang menemani perjalanan kami juga Jenderal Gwon Hwi menghentikan langkah mendengar suaranya.
" Jenderal Gwon Hwi, aku sudah menemukan siapa yang akan kuutus untuk kembali ke daerah Barat Kerajaan untuk membantu para penduduk. "
Jenderal Gwon Hwi turun dari kudanya dan mendekat ke tandu kami bersiap menerima perintah. Masih dengan tandu yang tertutup Boram terus berbicara.
" Gwon Hwi siap menerima titah anda Putri "
" Aku akan mengutus pelayan pribadiku Boram untuk kembali membantu para penduduk menemukan air bersih "
" Aku akan mengantarnya sampai depan gerbang " ( tawar jenderal Gwon Hwi )
" Tidak perlu, aku ingin kembali secepatnya ke istana. Jika jenderal pergi, siapa yang akan menjaga keamanan ku ? " ( kilah Boram menutupi )
Jenderal Gwon Hwi terlihat sedang berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui rencana kami. Akupun keluar dari dalam tandu memakai pakaian Boram ditambah luaran yang menutupi wajah serta kepala agar tidak ada yang mengenali. Sedikit menunduk memberi hormat akupun berhasil pergi dengan membawa buntalan kain corak bewarna merah berisi beberapa potong baju laki - laki. Tak ada yang curiga. Kamipun berjalan menuju arah yang berlawanan, kubuka pakaian luar penutup untuk membebaskan sesak.
" Aku mempercayaimu Boram " ( gumamku sambil menoleh kembali ke belakang melihat iringan tandu semakin menjauh )
Kulanjutkan kembali langkahku menyusuri jalanan berjejak roda tandu dan beberapa tapak kuda.
Alhasil, akupun malah masih mencari beberapa solusi sepanjang perjalanan.
Setelah berlalu beberapa menit, sampailah aku didepan gerbang. Lengkap dengan samaran seorang laki - laki yang dikenal oleh tabib Li.
" Aku adalah orang utusan Putri Mahkota yang tadi mengantar bantuan " ( ucapku pada salah satu prajurit penjaga )
" Siapa namamu ? "
" Yeo Hyun Jae " ( menunjukkan plakat nama Orabeoni yang selalu kubawa kemanapun )
" Lumayan, setidaknya mereka menepati ucapannya " ( batin si prajurit berbicara )
" Baiklah, mohon Bantuannya "
" Nee " ( balasku mengangguk )
Iapun membuka gerbang dibantu teman nya yang ikut berjaga saat itu.
Griieettt.. Gerbang dibuka kecil sesuai ukuran tubuhku dan mereka membiarkanku masuk.
__ADS_1
Pemandangan pertama yang tersuguh di hadapanku adalah beberapa rumah kumuh, berantakan, dan keadaan seluruh desa yang dipenuhi asap. Udara kering begitu terasa menyelimuti. Beberapa warga ada yang dibiarkan bergeletak dijalan karena fasilitas perawatan yang penuh. Makanan yang terlihat kotor, sambil mengamati aku terus berjalan mencari letak balai pengobatan. Tak lama ekor mataku menangkap pemandangan lain, seorang ibu yang duduk memeluk 2 orang anak sembari menyanyikan sebuah lagu.
๐ต" Gwenchanayo๐ถ,, semuanya akan baik - baik saja.. gwenchanayo,๐ถ segalanya akan segera membaik.."๐ถ ( ucap si ibu bersenandung dan diikuti oleh kedua anaknya pelan )
Rasanya, seakan ikut teriris mendengar nyanyian mereka.
๐๐๐๐๐๐๐
" Wangseja, anda belum sarapan sejak pagi. Ini beberapa kudapan yang kubawa dari dapur istana " ( tawar Seowu menghampiri Wangseja Yong Ju yang sedang duduk termangu sendiri di depan kediaman putra Mahkota )
" Aku sedang tidak ingin, letakkan saja disitu. " ( jawab Wangseja singkat )
Tiba - tiba saja Raja sudah berdiri dibelakang Seowu dan memperhatikan tingkah putra pertamanya dengan kesal.
" Apakah kamu berniat tidak akan makan selamanya ?! " ( bentak Raja dengan nada tinggi )
Wangseja Yong Ju pun terkejut dan menoleh ke asal suara, melihat sang ayah yang sudah merah padam.
" Yang mulia "
" Aku tidak ingin mendengar rengekanmu ! " ( potong Raja dan mengambil duduk didepan nya )
" Aku bersedia pergi kesana sendiri, kenapa ayah malah mengutus Hyun Ok yang seorang wanita lemah kesana ? ke daerah berbahaya dibagian Barat Kerajaan ? "
Raja hanya menghela nafas kasar mendengar pertanyaan impulsif dari Wangseja Yong Ju.
" Kamu tidak akan bisa melindungi ia terus disisimu, dia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Kamu tau ? akibat perbuatanmu itu, partai pendukungmu banyak yang mengeluh. Ingatlah, kamu dibesarkan untuk menjadi seorang Raja. Jangan perlihatkan perasaan dan perhatianmu pada siapapun atau bersiaplah mereka akan membuat petisi untuk menurunkan posisi Putra Mahkota darimu. Jika tidak seperti itu, mereka akan memburu orang yang kamu sayangi agar mereka bisa mengendalikanmu. Itu yang kamu inginkan ?! " ( ucap sang Raja semakin tak tahan meluapkan emosinya pada Wangseja Yong Ju )
Wangseja Yong Ju terdiam setelah mendengar kenyataan yang dipaparkan secara gamblang begitu saja oleh Raja.
" Aku tidak tahu akan bagaimana hidupku. " ( kata Wangseja membatin )
Terbayang dalam ingatannya bagaimana ia dibesarkan sedari kecil menjadi Putra Mahkota, calon Raja masa depan yang akan memegang tampuk kekuasaan berikutnya. Menerima segala pelajaran yang lebih ketat dibanding adik - adiknya, siang malam membahas laporan dan sistematika mengatur kerajaan, kehidupan tanpa teman yang harus ditebusnya sejak kecil. Semuanya adalah demi menjadi Raja, impian yang dipilihkan dari mendiang ibunya Ratu terdahulu. Segala pengorbanan yang tentu belum sebanding untuk dikorbankan hanya demi seorang wanita yang dicintai.
" Mollayo " ( jawab Wangseja menunduk tak berdaya )
Perasaan bersalah atas Hyun Ok dan ketidakrelaan atas posisi Putra Mahkota mengalir diotaknya yang mulai bimbang.
" Pikirkan baik - baik perkataan ku. " ( kata Raja memperingati Wangseja Yong Ju kemudian beranjak meninggalkannya sendiri )
Tanpa mereka sadari Pangeran Agung Yong Hwa menguping pembicaraan dibalik bilik tipis dengan ekspresi kecewa.
__ADS_1
๐ฌ๏ธBersambung..