
Memasuki gerbang istana kami disambut dengan barisan para menteri beserta pejabat. Wangseja Yong Ju berjalan bersisian disampingKu dan kami berjalan perlahan menuju altar suci.
" Pengangkatan Putri Mahkota Yeo Hyun Ok akan segera dimulai.. " ( teriak pemimpin upacara disudut kiri )
Segala tradisi pengangkatan telah selesai, Wangseja Yong Ju tampak tersenyum lembut diakhir upacara. Aku kemudian melihat ayah sudah mengenakan pakaian rapih di barisan paling depan para pejabat. Kami saling menatap memastikan keadaan masing - masing.
" Ayah.. " ( Hyun Ok tersenyum lega melihat ayahnya berada dibarisan )
Lalu tanpa sengaja tatapan ini bertemu mata Pangeran Yong Hwa yang duduk disamping seorang pangeran kecil Ye Jun. Wajahnya terlihat sangat dingin sambil menggenggam gelas yang retak ditangannya. Pangeran Yong Hwa terus menatapKu tajam seperti ingin menelan hidup - hidup saat itu juga.
" Ah, apa ini. Aku merasa merinding dia melihatku seperti itu " ( gumam Hyun Ok merasakan perasaan aneh didalam hatinya )
" Kenapa aku merasa seperti sedang ketahuan berselingkuh " ( Bicaranya pelan membayangkan kedekatan mereka selama ini )
Iringan Wangseja Yong Ju mengantar ku ke sebuah bangunan khusus putri mahkota untuk tempat tinggalku di istana. Aku mengalihkan pandangan berbalik dari Pangeran Yong Hwa yang terus menatap tajam dari kejauhan.
Bangunan ini terlihat sangat besar untuk kutinggali seorang diri, halaman nya juga sangat luas dan terdapat kolam teratai berukuran sedang di tengahnya, dilengkapi jembatan kayu sebagai penengah, kolam teratai ini seperti sebuah tempat hayalan yang tidak akan pernah kutempati.
Aku tidak nyaman dengan semua kemewahan ini.
*** *** *** *** *** *** ***
" Bagus sekali, aku mencarinya kemana mana tanpa istirahat selama ini dan dia datang tiba - tiba menjadi putri mahkota ? " ( gelas ditangannya pun pecah dan melukai tangan )
" Oh, Hyung ?! tanganmu tidak apa - apa ? " ( tanya pangeran kecil Ye Jun yang duduk disampingnya )
Pangeran Yong Hwa berdiri dan meninggalkan tempat acara tersebut tanpa berkata apapun.
" Ada apa dengan pangeran Yong Hwa, kenapa dia cemberut sejak putri mahkota memasuki gerbang istana " ( kata selir Raja, ibu dari Pangeran Ye Jun yang sedari tadi memperhatikan perubahan emosi Pangeran Yong Hwa )
Pangeran Yong Hwa pergi kembali ke kediaman nya sambil berusaha menahan amarah di dalam dirinya.
" Pangeran, Selir Jun Yi datang " ( kata pelayan nya datang dari belakang )
__ADS_1
Saat berbalik Selir Jun Yi sudah berdiri di bangunan kecil membawa sebuah kotak kayu. Pangeran Yong Hwa menghampirinya.
" Ada apa ibu selir datang kemari "
" Hhhhh,, jangan langsung seperti itu. Setidaknya persilahkan dulu orang lain duduk "
Selir Jun Yi pun duduk lebih dulu setelah memerintah Pangeran Yong Hwa untuk ikut duduk. Ia mulai membuka sebuah kotak kayu yang berisi obat dan perban.
" Kemarikan tanganmu "
" Tidak perlu " ( jawab pangeran Yong Hwa ketus )
" Kamu ini, kenapa bisa emosi sampai melukai diri sendiri " ( omel selir Jun Yi sambil meraih tangan pangeran Yong Hwa dengan paksa dan mengobatinya )
" ehem ?!.. aku tidak emosi. Aduh, jangan ditekan terlalu keras. " ( keluh pangeran Yong Hwa saat tangan nya mulai dibalut perban )
" Aku sudah merawatmu dari kecil, tidak mungkin tidak tahu perubahan ekspresi mu saat melihat putri mahkota itu memasuki altar suci. Segalanya memang dilakukan terburu - buru. Apakah kamu mengenal putri mahkota sebelumnya ? "
Pangeran Yong Hwa diam tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan ibu Selir Jun Yi.
Selir Jun Yi telah selesai membalut luka Pangeran Yong Hwa dan kini tengah duduk menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
" Hh, aku tidak cemburu. Aku memang mengenalnya. Dia tidak lebih dari mainanku. " ( jawab Pangeran Yong Hwa )
" Mainan ?. Hhhh, aku tahu kamu masih trauma dengan kejadian masa kecilmu. Tapi hati wanita tidak pantas untuk dijadikan mainan apalagi bahan bercandaan. Sudah waktunya aku pergi " ( Selir Jun Yi menutup pembicaraan dan beranjak pergi )
" Ibu Selir. " ( panggil Pangeran Yong Hwa menghentikan langkah selir Jun Yi )
Selir Jun Yi berhenti dan menoleh kebelakang.
" Seberapa dekat anda dengan ibuku ? "
Raut selir Jun Yi pun berubah serius tapi sendu dan memutar arahnya kembali menghampiri pangeran Yong Hwa.
" Yang mulia Ratu telah menyelamatkan seluruh keluarga ku. Walau dari luar dia terlihat kejam dan kamu tidak mengerti segala hal yang telah dilakukannya, tapi dia sangat peduli.. "
__ADS_1
" walau sangat peduli tidak mungkin sampai tega membunuh anaknya sendiri " ( balas Pangeran Yong Hwa memotong perkataan selir Jun Yi )
" Pangeran, kamu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi saat itu. Apapun yang terlihat buruk diluar, tidak selalu buruk pula kenyataan nya. Bukankah kamu sedang mencari tahu kembali kasus kematian ibumu 12 tahun yang lalu ? berhati - hatilah pada yang mulia Ratu yang sekarang. " ( terang selir Jun Yi menasehatinya )
" Aku tahu. Terimakasih sudah mempedulikan ku " ( balas Pangeran Yong Hwa ketus dan pergi begitu saja )
Selir Jun Yi pun hanya tersenyum dengan sisa air mata yang menggenang. Terkenang kembali diingatannya saat upacara kematian Ratu terdahulu. Setahun kemudian selir Jun Yi memilih mengakhiri hubungan dengan kekasihnya dan memutuskan untuk menjadi selir agar bisa terus menjaga pangeran Yong Hwa.
*** *** *** *** *** *** ***
Di kediaman Putri Mahkota Hyun Ok :
" Agassi, Tuan Yeo ada diluar ingin bertemu " ( Boram datang dari luar memberitahu )
" Persilahkan masuk " ( jawab Hyun Ok tidak sabar )
Ayah masuk kemudian memberi hormat kepada gelar putri mahkota namun aku segera beranjak dan melarangnya.
" Tidak perlu begitu ayah " ( menahan tangan Tuan Yeo )
" Apa ayah baik - baik saja ? "
" Ayah baik - baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu mendadak menjadi putri mahkota tanpa proses seleksi kerajaan ? " ( tanya tuan Yeo cemas )
" Aih, baru kali ini Hyun Ok melihat wajah cemas ayah yang biasanya selalu terlihat tenang " ( goda Hyun Ok mencoba mengalihkan topik )
" Ayah bertanya serius. Uhukk "
Melihat ayah dengan wajah yang pucat dan batuk akupun langsung mengambil air hangat yang ada diatas meja dan memberikannya pada ayah.
" Ayah, minum air hangat dulu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekarang kita hanya perlu mencari Orabeoni. " ( menyodorkan segelas air hangat )
Ayah pun meminumnya perlahan dan menanyakan permasalahan beberapa hari yang lalu sampai sekarang. Setengah jam berlalu tanpa terasa aku telah menceritakan semua hal pada ayah. Tampak wajahnya yang lelah bertambah kerut cemas dan khawatir. Sekarang semuanya sudah semakin rumit dan tidak bisa dihindari lagi. Aku yang sudah menjadi Putri Mahkota tidak bisa lagi sembarangan dalam berperilaku.
Kami pun memikirkan segala hal upaya yang bisa dilakukan untuk mencari Orabeoni. Tidak ada sedikit pun petunjuk mengenai menghilangnya orabeoni selain tujuannya ke kantor menteri keuangan negara.
__ADS_1
🌬️ Bersambung..