
" Dimana pangeran agung Yong Hwa ? "
" Pangeran sudah pergi sedari subuh dengan terburu - buru, putri. " ( jawab dayang yang sedang membersihkan kamarnya )
" Benarkah ? " ( tanyaku sembari tersenyum )
Setelah menanyakan keberadaan nya akupun kembali bersama Boram.
" Ashhi, akhirnya sumber masalah kita berkurang satu " ( bisik Boram dengan nada bahagia )
" Yaa, " ( balasku memejamkan mata lega )
" Kenapa dia pergi dengan terburu - buru ? " ( gumamku pelan )
Sesampainya Di kediaman Putri Mahkota, Kasim pendamping yang mulia raja membawa gulungan kertas berwarna emas dan beberapa pelayan lain juga tentara istana sudah ramai menunggu kami di halaman depan. Mereka menoleh menunggu kedatangan kami.
" Tuan Puteri Mahkota, terimalah titah dari yang mulia Raja " ( teriaknya tegas )
Serentak Aku dan Boram duduk memberi hormat dan bersiap mendengarkan titah yang akan diturunkan.
" Bagian Barat Kerajaan Joseon mengalami wabah dan membutuhkan bantuan pangan secepatnya. Dengan ini aku sebagai Raja, telah disepakati bersama beberapa menteri dan pejabat istana akan mengirim Putri Mahkota Hyun Ok sebagai utusan ke daerah tersebut untuk mengantarkan bantuan juga sekaligus membuktikan cintanya kepada tanah air dan jabatan yang sekarang sedang didudukinya. Kami Harapkan Putri Mahkota akan membantu negara menolong masyarakat yang terkena wabah dan akan berangkat Seminggu lagi terhitung mulai dari hari ini. S E L E S A I " ( teriaknya mengakhiri titah Raja )
" Kami menerima titah yang mulia Raja " ( balasku dan kemudian Boram mengambil gulungan titah dari yang mulia raja )
Iringan Kasim beserta tentara istana pun pergi mengundurkan diri.
### ### ###
Keesokan paginya Wangseja Yong Ju mendatangi kami dengan raut wajah khawatir.
" Hyun Ok, kamu akan menerima titah itu begitu saja ? "
" Tentu saja Wangseja, aku tidak punya hak untuk menolak keputusan ini. "
Wangseja Yong Ju menghela nafas berat.
" huftt.. Ini salahku, seharusnya aku mengabulkan keinginanmu untuk mengundurkan diri dari posisi putri mahkota begitu kamu memintanya. " ( renung Wangseja Yong Ju mengingat kembali kejadian - kejadian dulu saat Hyun Ok beberapa kali meminta untuk mengundurkan diri dari posisi Putri Mahkota namun selalu ditolak olehnya )
" Jangan menyalahkan dirimu Wangseja, aku dan keluargaku sangat berterima kasih atas pertolongan mu. Dan mungkin, inilah harga yang harus kubayar karena menjadi putri mahkota tanpa melalui prosedur istana. "
" Aku merasa seperti mengirim mu ke kematian. " ( keluhnya kesal )
Akupun menahan tawa mendengar perkataan yang dikatakan oleh Wangseja Yong Ju.
" Aku hanya bertugas mengantarkan bantuan sampai ke bagian Barat Kerajaan, bukan untuk ikut tinggal disana Wangseja. " ( jawabku menenangkan )
Seperti tersadar dengan kata - kata yang ada didalam surat titah yang mulia raja, Wangseja Yong Ju hanya mengangguk malu sembari tersenyum.
" Hyun Ok, kamu tidak tahu sudah seberapa dalam aku jatuh hati. Aku akan berusaha melindungi mu. " ( gumam Wangseja Yong Ju dalam hati )
### ### ###
Di tempat lain, bagian barat kerajaan. Tabib Li masih sibuk menangani para korban wabah yang sedang berbaris terbaring menunggu antrian untuk diperiksa.
" Tabib Li, kesediaan pangan sudah semakin menipis. Kita tidak bisa hanya mengandalkan tanaman disekitar untuk dimakan. "
__ADS_1
" Bagaimana dengan bantuan dari kerajaan? "
" Kabarnya mereka akan berangkat Seminggu lagi, ditambah perjalanan yang juga memakan waktu seminggu. Diperkirakan mereka baru akan sampai dalam waktu setengah bulan. "
" Hhmm. Masalah wabah ini adalah urusan mendesak, kenapa mereka masih menunggu seminggu lagi untuk berangkat kesini. "
Selesai memeriksa seorang dan menuliskan resep obat untuk diberikan kepada asisten tabib Li Jiazhen beranjak dan memeriksa pasien berikutnya. Diikuti Pengawal pribadinya yang terus menyampaikan laporan.
" Aah, itu kita juga tidak tahu. Kabarnya masih banyak yang sedang dipersiapkan. Mereka juga akan membawa obat-obatan. "
" Lalu kita harus tetap bertahan sampai mereka sampai. "
" Tuan Zhen, jangan sampai anda tertular atau nyonya tabib akan membunuhku begitu kita kembali ke Jiangnan " ( Refleks Rui melihat penampilan Li Jiazhen )
" Hhfff.. Lalu kenapa mereka yang sudah membaik kembali sakit lagi. "
" Uhmmm.. itu, karena sumber air yang baru kita temukan beberapa hari lalu sudah kering, para warga kembali meminum sumber air yang biasa digunakan. "
Li Jiazhen menghela nafas kasar kemudian tampak berubah semakin kesal mendengar jawaban Yu Xiao.
" Kenapa masih meminum air itu, kan sudah kularang ! cari lagi sumber air yang lain ! " ( bentak Li Jiazhen )
" Itu.. Kepala Desa yang memerintahkan untuk mengambil air dari sumur " ( jawab Rui menciut takut )
" Dimana dia ?! " ( Li Jiazhen mengibaskan lengan baju dan segera beranjak pergi mencari kepala desa diikuti Rui dari belakang )
Tampak Kepala Desa sedang berbincang - bincang dengan beberapa pengawal.
Emosi kini semakin tidak terkendali ditengah situasi yang semrawut. Li Jiazhen mengambil ember air minum dari sumur dan melemparnya dihadapan kepala desa serta pengawal.
" Tabib Li, apa yang sedang anda lakukan ?! "
" Bukankah sudah kukatakan cari sumber air minum lain. Kenapa masih mengambil air dari sumur umum ? "
" Ah, emm " ( dengan gelagapan Kepala Desa mencoba menjawab )
" Tabib Li, tidak mudah mencari sumber air di desa kami. Sebagian nya adalah dataran tinggi. Jadi kami memutuskan untuk tetap mengkonsumsi air minum dari sumur yang biasa kami gunakan. "
" Kalau begitu sembuhkan saja mereka sendiri. Tidak perlu meminta bantuanku ! " ( bentak Li Jiazhen )
" Kepala desa, begini. Bukankah tabib Li sudah mengatakan air sumur itu yang menjadi penyebab wabah, itulah sebabnya kami melarang untuk minum dari air sumur. " ( Bujuk Rui maju melerai sebelum pertengkaran semakin panas )
" Kami juga punya pikiran, apakah lebih baik mati karena wabah atau mati karena kehausan ? tabib Li, dulu kami mendengarkan mu karena wabahnya belum meluas, sekarang sudah meluas sampai ke desa sebelah. Aku juga punya hak memutuskan pendapat. ! "
" Baiklah, Obati saja mereka sendiri ! " ( Wajah Li Jiazhen berubah semakin merah padam dan pergi meninggalkan mereka ).
" Tuan Zhen ?!? " ( Teriak Rui dalam hati ).
" Mereka ini. Keadaan sudah begini masih sempat beradu argumen. " ( kata Rui geram dalam hati )
Seminggu sudah lewat dan persiapan telah selesai. Kami pun sudah memulai perjalanan sejak 8 jam yang lalu. Diiringi 8 kereta kuda.
Boram sedang duduk disebelahku sembari tertunduk menahan kantuk dan lelah seharian duduk.
" Boram, perhatikan posisimu " ( tegurku menyikut tangannya )
__ADS_1
" Arasseo Pangeran, Boram tidak akan mengatakan nya. " ( katanya dalam tidur )
" Tch, Boram ?! " ( menyentil keningnya kuat )
" Aduhh,, Ashhiiii ?! Aku sangat lelah dan mengantuk. Jangan ganggu ?! " ( protes Boram setelah terbangun )
" Kau ini.. "
" Pengawal ! Kita istirahat disini selama 15 menit "
Pengawal yang disamping tandu merespon dengan memberikan aba - aba berhenti. Kami keluar dari tandu untuk meluruskan badan, setelah melebarkan kain dan terlentang dengan nyaman melihat pemandangan langit.
15 menit berlalu tanpa bising.
" Boram, katakan apa yang sedang kamu sembunyikan dariku. "
" Eumm.. Putri, apa yang anda katakan. Aku sedang tidur.. "
" Lalu apakah itu arwahmu yang menjawab ? " ( memiringkan badan menghadap Boram )
Merasa ketahuan Boram Bangun dan duduk, disusul aku yang juga duduk menunggunya mengakui sesuatu.
" Putri, apa yang mau ditanyakan ? " ( mengalihkan pandangan )
" Tentang perkataan mu sewaktu melindur saat di dalam tandu. Apa yang kamu sembunyikan ? "
" Apa yang Boram katakan, Boram tidak ingat. "
" Kamu menyebut pangeran agung Yong Hwa " ( tegasku menelisik )
" Ahh, Ashiii.. Boram tidak menyembunyikan apapun. "
" Ooh, Jadi kamu sekarang membela Pangeran agung Yong Hwa ? Kalau begitu aku akan mengirim mu jadi pelayan disampingnya. " ( menyilangkan tangan sambil menatap tajam kepada Boram )
" Aku melihat pangeran agung Yong Hwa mencium Ashhi ?! " ( jawab Boram lantang )
" Kamu.. shhtt ! " ( menutup mulut Boram dengan kuat )
" Opp. " ( angguk Boram mengerti )
" Jelaskan. Apa maksudmu dia me, me,, menciumku. "
" Haihh.. waktu ashhi tercebur ke kolam teratai, Boram melihat pangeran agung Yong Hwa sedang menekan dada dan mencium.. " ( Jawab Boram tanpa menyelesaikan perkataannya )
" Dasar Bodoh. Itu bukan ciuman. Jadi yang menyelamatkan aku bukan Wangseja Yong Ju melainkan Pangeran agung Yong Hwa ? "
" Um um " ( angguk Boram mengiyakan )
" Putri,,. kenapa wajahmu bersemu merah ? " ( tanya Boram dengan polosnya )
" Disini panas, sudah. Ayo kita segera berangkat. " ( berjalan kembali kedalam tandu )
" Panas ? " ( kata Boram kemudian melihat langit dan keadaan sekitar yang terlihat mendung )
Kereta kuda kembali melanjutkan perjalanan nya.
__ADS_1
🌬️Bersambung..