Realize I Need You

Realize I Need You
Episode 45 - Peperangan Dimulai


__ADS_3

Beberapa hari sejak Hyun Ok menjadi putri mahkota, Wangseja Yong Ju selalu memiliki hari yang cerah [ tersenyum setiap hari ].


" Kelak hal ini akan menjadi kelemahanmu dan membuat para pendukungmu dari partai Geumgo berpaling. Pikirlah baik - baik. Aku mengatakan ini sebagai ayahmu. " ( ujar Yang mulia raja memberikan nasehat kepada Wangseja Yong Ju di balai pertemuan istana )


" terimakasih nasehat mu ayahanda, tapi aku merasa bahagia dan tidak akan mengubah keputusan yang sudah kubuat. " ( jawab Wangseja Yong Ju bersikukuh )


Dan teruslah mereka disana beradu pendapat berdua. Yang mulia raja yang terus mengingatkan dan Wangseja Yong Ju yang tetap teguh dengan pendiriannya.


*** *** *** *** *** *** ***


Disinilah aku, duduk sendiri di pondok pojok yang menghadap kediaman istana putri mahkota sambil menunggu makan siang diantarkan.


" Putri, apa tidak sebaiknya kita makan didalam ? " ( tanya Boram yang berdiri disisiku sejak awal )


" Tidak apa disini Boram, aku ingin menghirup udara segar. hhh " ( jawab Hyun Ok menghela nafas )


" Orabeoni.. Kemana aku harus mencarimu, dimana sebenarnya Orabeoni berada. Setidaknya beritahukan aku atau ayah bahwa orabeoni baik - baik saja. " ( dialog Hyun Ok didalam fikirnya sendiri )


Sepoi - Sepoi udara dingin berhembus membelai kulit. Tampaknya sebentar lagi akan segera datang musim salju. Beberapa pelayan tampak meminta izin dan masuk membawa beberapa nampan makan siang untukku. Mereka lalu meletakkannya di hadapanku, sesuai permintaan, bukan didalam kamar. Setelah dayang yang bertugas mencicipi makanan sudah selesai melakukan tugasnya merekapun berpamitan kembali ke dapur istana.


" Putri, makanlah lebih banyak. Kamu terlihat kurus belakangan ini " ( Boram mengambil sumpit dan memberikannya padaku )


Aku mengiyakannya tanpa menjawab, kumulai ritual makan siang demi menambah nutrisi berpikir.


Disuapan ketiga aku merasa ada yang aneh dengan makanan nya. Rasanya,, seperti menyangkut dikerongkongan, terasa asin dan pahit bersamaan.


Bruhh !! sontak saja aku langsung memuntahkan suapan yang ada di mulut.


" Ada apa Putri ? " ( refleks Boram mengeluarkan sapu tangan dan menyerahkan nya padaku )


Langsung saja kuambil air disisi kiri dan kembali kumuntahkan.


" Airnya asin.. " ( pikirku menyimpulkan )


Saat itu juga muncul sekelabat bayangan saat pangeran Yong Hwa berbalik dengan dingin meninggalkan ku yang tenggelam didasar kolam ikan tempo hari.


" Boram, siapa yang menyelamatkan ku kemarin dari kolam ? " ( tanyaku memastikan pada Boram )


" Apa ?? " ( jawab Boram balik bertanya )


" Aku tidak bisa menjawab hal ini Agassi. Mianhae.. " ( gumam Boram dalam hati )


Flashback..

__ADS_1


Setelah membaringkan Hyun Ok diatas kursi kayu panjang pangeran Yong Hwa mendekati Boram dan mengancamnya agar tidak memberitahukan bahwa dialah yang menolongnya. Jika ketahuan melanggar, maka ia akan menggorok leher Boram dengan belati simpanannya yang paling tajam.


Kembali pada kenyataannya, Boram merasakan bulu kuduknya berdiri dan ketakutannya semakin membesar membayangkan hal itu.


" Alasan apa yang harus kubuat.. " ( gumam Boram menggigit bagian bawah bibirnya )


" Itu.. Boram tidak tahu bagaimana kejadiannya. Saat baru sampai sudah ada Putra Mahkota disitu.. "


" Benarkah ? kamu akan menggigit bibir jika sedang berbohong. " ( balasku menginterupsi )


" Agassiiii.. ?! apakah kamu sudah tidak percaya lagi pada Boram ? kalau tidakpun. Tidak mungkin pangeran Yong Hwa kan yang menyelamatkan mu ? itu benar - benar mustahil. "


" Memang benar. Tidak mungkin jika Pangeran Yong Hwa. Betul - betul mustahil ! "


" Yaa, tentu tidak mungkin " ( timpal Boram cepat diliputi perasaan lega )


Secara tidak sengaja aku menangkap sosok bayangan yang mengintip dari balik tembok dikejauhan. Wajahnya tidak asing. Ya, dia itu dayang yang tadi mencicipi makanan. Terlintas di benakku perkataan pangeran Yong Hwa yang tidak suka aku menjadi Putri Mahkota.


" hah, ini pasti perbuatan pangeran Yong Hwa " ( kataku pelan sambil tersenyum pasrah )


" Putri, ayo kita kembali saja kedalam. Boram akan mengambilkan air yang benar "


" Putri, Agassi, kamu sebenarnya mau memanggilku dengan yang mana ? " ( keluh ku pada Boram )


" Panggil saja Agassi saat kita masih berdua, kalau didepan orang lain kamu boleh memanggilku Putri. Jangan sampai kamu dihukum karena melanggar aturan nantinya. " ( tegasku memberi penjelasan pada Boram )


*** *** *** *** *** *** ***


" Bagaimanapun, apakah dia memakannya ? "


tanya pangeran Yong Hwa kepada dayang yang baru saja masuk untuk melaporkan tugasnya.


" Iya pangeran agung, Putri Mahkota memuntahkan makanannya dan tidak jadi makan. Ia kembali ke kamarnya saat itu juga. "


" uhm. Bagus. Lalu, apa kamu membiarkan dirimu ketahuan mengintip mereka ? "


" Ehh, iya pangeran. Sepertinya tadi kami saling tatap. Dan aku sengaja membiarkan Putri Mahkota melihatku "


" Bagus sekali. Itu yang paling penting. Baiklah, kamu boleh pergi. " ( usir pangeran Yong Hwa setelah memberikan imbalan )


" Aneh sekali, pangeran agung menyuruhku mengerjai Putri Mahkota dengan syarat harus ketahuan. Kalau tidak ada jaminan selamat aku tidak mungkin mau melakukannya. Benar - benar tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. " ( gumam sang dayang dalam hati sambil berjalan pergi )


*** *** *** *** *** *** ***

__ADS_1


Di tempat lain, berkumpul anggota klan dari partai Seoin di tempat tersembunyi. Mereka terlihat sedang merencanakan sesuatu.


" Bagaimana ? apakah kamu sudah mengirim beberapa orang lagi ke bagian barat kerajaan ? " ( tanya pemimpin )


" Tentu tuan, 2 orang saja cukup. Aku sudah mengirim mereka seminggu yang lalu dengan membawa bibit penyakit baru, 7 hari lagi mereka akan sampai disana dan wabah akan meledak kembali di daerah tersebut. " ( seringainya licik )


" Tapi kudengar ada seorang tabib hebat disana, dan wabah sudah mulai membaik " ( timpal salah seorang yang lain )


" Kita baru saja mengirim bibit penyakit baru, tidak ada gunanya walau mereka mau menyembuhkan berapa banyak warga ! " ( jawabnya tersulut emosi )


" Betul sekali, sudahlah. Jangan sampai bertengkar " ( tambah yang lain lagi )


" Ekhem !! sudah. Sekarang pastikan saja kita tidak meninggalkan jejak sehelaipun " ( lerai si pemimpin menengahi )


*** *** *** *** *** *** ***


Ditempat lain Wangseja Yong Ju sibuk dengan urusan kerajaan, salah satunya memikirkan daerah barat kerajaan yang terjangkit wabah. Setelah membaik beberapa kali malah kembali memburuk. Terus berulang hingga membuatnya berpikir ini pasti perbuatan manusia.


Hingga tidak terdengar kabar bahwa Putri Mahkota Hyun Ok sakit karena tercebur ke kolam ikan.


" Selir Jun Yi datang ingin menghadap.. " ( teriak Kasim dari luar pintu )


Wangseja memperbolehkan nya masuk.


Selir Jun Yi membawa serantang makanan dan tonik kesehatan untuknya mengingatkan nya agar tetap menjaga kesehatan.


" Ibu Selir, ada apa anda kemari ? " ( tanyanya setelah mereka duduk )


" Aku mengantar beberapa camilan dan tonik. Tetap jaga kesehatan mu Wangseja, walaupun banyak pekerjaan. "


" Ahh, terimakasih ibu selir " ( jawabnya setelah membuka rantang tersebut )


" Bagaimana dengan para warga yang terjangkit wabah dibagian barat kerajaan. Apakah sudah ada perkembangan ? "


" ah iya, aku hampir saja lupa. Mendiang ibuku Ratu terdahulu dan ibu selir berasal dari daerah dan memiliki partai pendukung yang sama. Tentu saja ibu selir kemari karena khawatir dengan kampung halaman bukan.. "


" Ya. Tentu saja. " ( Jawab selir Jun Yi menampilkan senyum lembut khas seorang ibu )


*** *** *** *** *** *** ***


Keesokan harinya Putri Mahkota Hyun Ok Kembali mendapat kesialan. Bagian bawah sepatunya terdapat kotoran, kemudian saat berjalan kembali setelah belajar pembelajaran Naemyeongbu dari kepala dayang istana roknya tersangkut sebuah paku yang menempel ditiang. Paku mendadak yang muncul entah dari mana asalnya.


🌬️Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2