
Keesokan harinya, Pangeran Yong Hwa sedang memperhatikan pelayan pribadi nya belajar bela diri dengan memukul manusia kayu di lapangan berlatih.
" Pangeran, apakah aku sudah bisa ikut bertarung bersamamu ? lihatlah, aku sudah ada sedikit kemajuan " ( menghampiri Pangeran Yong Hwa dengan nafas terengah-engah )
" Kemajuan apanya, sana berlatihlah 5 jam lagi "
" Apa ? Pangeran, aku sudah berlatih sejak pagi.. "
" sshhtt, sana sana jangan ganggu " ( menggerakkan tangan mengusir pelayannya )
Dengan wajah murung ia kembali berlatih. Dan pangeran Yong Hwa melihat ke arah matahari yang mulai semakin terik.
" Hyung, Hyung, Hyung ?!?!? " ( teriak pangeran kecil Ye Jun sembari melambaikan tangan dihadapan wajahnya )
" Ye Jun ? Apa yang kamu lakukan disini ? kenapa tidak belajar. " ( Pangeran Yong Hwa tersadar dan menatap adik kecilnya itu )
" Aku sakit perut, jadi meminta untuk pulang lebih dulu " ( keluhnya dengan wajah lesu dan memegangi perutnya )
" Apa perlu Hyung panggilkan tabib ? " ( cemasnya memperhatikan wajah Ye Jun yang terlihat sangat pucat )
" ah, oh. Tidak perlu Hyung, aku sudah merasa lebih baik setalah berjemur di bawah matahari " ( elaknya tanpa berani menatap )
Pangeran Yong Hwa merasa ada yang janggal kemudian ia mendekat untuk melihat lebih dekat wajah Ye Jun tapi Ye Jun sedikit gugup dan menghindar. Beberapa detik kemudian sontak saja Pangeran Yong Hwa menjewer telinga Ye Jun dengan keras.
" Ooohhh, Pangeran kecil sudah berani berbohong rupanya ? "
" Aaa aduh.. Hyung ! sakit, sakit " ( memukuli tangan Pangeran Yong Hwa )
" *Katakan, kenapa kamu malah membolos belajar "
" Aduh, lepaskan Hyung. Aku benar - benar sakit* ! "
Pangeran Yong Hwa melepaskan tangannya dan menatap Pangeran kecil dengan tajam.
" Uhh, aku tidak menyukai guru Im. Dia hanya mengajarkan omong kosong, aku tidak mengerti apa yang dikatakan. Hyung tahu ? seharian ini dia hanya menceritakan katak yang hidup di tengah kolam bunga teratai, dan dia mulai bersajak dengan gaya konyolnya. Ingin kulempar dengan batu tinta rasanya. " ( mengusap usap telinganya sambil meringis menahan sakit )
" Lalu, bedak siapa yang kamu pakai itu "
__ADS_1
" aah, aku meminta bedak dari dia " ( menunjuk pelayan pribadi di sampingnya )
belum sempat berkata apapun pelayan tersebut langsung bersujud dan memohon ampun atas kesalahannya.
" Hyung, aku yang memaksanya mendandani ku dengan wajah pucat. Dia sangat penurut. " ( cengirnya dengan wajah tak berdosa )
" Sudahlah, bangun dan antar Pangeran kecil ke kediaman " ( menatap pelayan tersebut dan beralih melihat pada Pangeran kecil Ye Jun )
" Lain kali jangan sampai ketahuan. Aku akan memberi pelajaran pada Guru Im itu nanti " ( tersenyum dan menyuruh Ye Jun pergi )
" Baik. Hyung memang terbaik "😁
" Apa Hyung sedang bersedih, Hyung tampak tidak bersemangat " ( balik bertanya mengkhawatirkan Pangeran Yong Hwa )
" hmm. Tidak Hyung hanya sedang memikirkan sesuatu "
" Baiklah, Hyung jangan terus melihat matahari seperti itu nanti mata Hyung berubah jadi gelap "
" haha, bukan mata yang jadi gelap. Tapi penglihatan " ( timpalnya memberitahu Ye Jun )
" hehe, maksudku itu " ( tertawa kecil kemudian pergi karena ibunya telah memanggil dari kejauhan )
--- --- --- --- --- --- ---
" Adik, bisakah kita membicarakan sesuatu " ( berhenti dan berbalik pada Pangeran Yong Hwa )
" Tidak ada yang perlu dibicarakan " ( ungkapnya dengan dingin dan kembali berjalan )
" Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku, apa yang terjadi. Aku tidak akan mengerti kalau kamu tidak mengatakannya "
Pangeran Yong Hwa berhenti dan berbalik menatap kakaknya dengan dingin.
" Ayo kita bicara, ceritakan lah apa kesalahan Hyung padamu adikku " ( mendekat dan menyentuh pundak Pangeran Yong Hwa berusaha membujuk )
" Aku tidak ingin membicarakannya " ( melepaskan tangan Wangseja Yong Ju kemudian memberi hormat dan berlalu pergi begitu saja )
--- --- --- --- --- --- ---
__ADS_1
" Agassi, akan diberikan untuk siapa kotak kue ini ? " ( Boram membawa kotak kue yang sudah dipersiapkan Hyun Ok beberapa hari lalu )
Hyun Ok menatapnya tanpa selera dan mengambil kotak kue tersebut.
" Tadinya ini akan kuberikan untuk si Yong Hwa itu, karena ibu kami sudah meninggal pasti tidak ada yang memasakkan kue beras untuknya di hari festival. Aku hanya sedikit memperdulikannya "
" Pangeran Yong Hwa ? Agassi, jangan seperti ini lagi. Bukankah pangeran Yong Hwa itu sangat kejam ? "
Hyun Ok hanya membalas dengan senyum tipis dan memberikan kotak kue kembali pada Boram.
" Berikan saja untuk siapapun yang lewat di depan rumah "
" Siapapun ? baiklah Agassi. "
Setelahnya Hyun Ok melihat Orabeoni sedang duduk di pondok kecil dekat taman. Dulu mereka sering menghabiskan waktu untuk membicarakan banyak hal disana. Hyun Ok pun menghampiri dan langsung duduk disisi kakaknya.
" Hmmm.. Orabeoni, apakah Orabeoni bahagia menikah dengan putri Chun Cha ? " ( ungkapnya memulai percakapan )
" Iya, orabeoni bahagia " ( tersenyum tipis )
" Tapi, bukankah dulu orabeoni ingin membantu memajukan negara ini dengan menjadi pejabat negeri ? "
" Aah, apakah aku mengatakan hal itu ? " ( imbuhnya terlihat linglung )
" Tentu saja. Besok adalah ulang tahunku, apa orabeoni sudah mempersiapkan hadiah ? "
" Besok ? tentu saja kakak sudah mempersiapkannya "
" Bohong. Orabeoni, apakah Orabeoni tidak Ingat hari kelahiran ku ? ( balasnya dengan emosi )
" *Bukankah kamu mengatakan besok "
" Tidak ! aku hanya mengetes mu* " ( bant
ah Hyun Ok menyudutkan )
" Maaf. sepertinya kakak tidak mengingatnya "
__ADS_1
" Kenapa Orabeoni jadi seperti ini ?! " ( Hyun Ok merasa heran dan beranjak dari tempat duduk meninggalkan Orabeoni nya yang terus menatap ke depan dengan tatapan kosong )
Bersambung..