
Wangseja Yong Ju terlihat sedang mengurusi dokumen yang menggunung di ruang kerjanya.
" Hufffft.. " ( menghela nafas berkali - kali )
" Seowu. " ( Menutup lembaran terakhir dengan cepat )
" Ya, Wangseja. Apa yang anda butuhkan ? " ( jawab Seowu mendekati Wangseja Yong Ju )
" Sudah 1 bulan berlalu sejak bercerai nya Hyun Jae dan Adikku. Bagaimana kabar Hyun Ok "
" Nona Hyun Ok ? sepertinya dia tidak apa - apa. Tuan Hyun Jae Juga sudah bergabung dengan pemerintahan sebagai bawahan menteri keuangan. "
" Baiklah, aku akan bertemu langsung dengan Hyun Ok untuk menanyakan kabarnya " ( berdiri merapikan pakaian )
" Tidak bisa Wangseja, beberapa laporan yang banyak itu harus diselesaikan hari ini juga " ( sergah Seowu menghalangi langkah Wangseja Yong Ju )
" Aku bosan membacanya, kebanyakan dari mereka berisi laporan tentang wabah di bagian barat kerajaan. Bukankah dulu sudah mulai membaik ? dan ini malah semakin banyak tambahan korban yang tertular wabah. Aku harus menyegarkan otakku kembali agar bisa berpikir. " ( jelas Wangseja Yong Ju )
" Wangseja, yang mulia Raja sudah memberikan wewenang dan kepercayaan ini untuk anda selama yang mulia raja sakit. Bukankah lebih baik kita bertemu nona Hyun Ok setelah menyelesaikan semua laporan itu ? "
Wangseja Yong Ju tampak berpikir dan memang benar apa yang dikatakan Seowu. Sejak putri Chun Cha di penjarakan di dalam istana yang mulia raja menjadi sakit - sakitan dan menyerahkan sebagian besar urusan kenegaraan kepada Putra Mahkota.
Dengan wajah pasrah akhirnya Wangseja duduk kembali membaca satu persatu laporan tersebut.
*** *** *** *** *** *** ***
" Tuan Zhen, apakah kita tidak jadi kembali ke China besok ? " ( tanya Rui )
Li Jiazhen tampak fokus menulis resep obat untuk Haoming yang sekarang menjadi lumpuh karena hukuman yang diterima nya.
Li Jiazhen menghentikan kegiatannya dan melihat Rui untuk menjawab.
__ADS_1
" Kita akan tunda keberangkatan hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Wabah di bagian barat kerajaan menjadi lebih parah dari sebelumnya. Kasus menular sangat tinggi dan semakin banyak masyarakat yang tertular kekurangan bahan pangan dan obat. Kita akan kesana dan melihat keadaannya. Persiapkanlah apa saja yang akan kita butuhkan nanti "
" Baik tuan Zhen " ( Rui patuh dan segera pergi menyiapkan obat dan bekal lain yang dibutuhkan )
*** *** *** *** *** *** ***
Li Jiazhen dan Rui sudah sampai di bagian barat ibukota. Beberapa mayat menumpuk tergeletak di pinggiran jalan menunggu untuk dikuburkan. Di sebuah gang sempit Li Jiazhen berhenti dan memperhatikan keadaan disekitarnya. Wabah itu menjadi semakin parah daripada 3 bulan lalu awal kejadiannya. Ada yang sedang muntah – muntah di pinggir jalan, ada juga yang sedang memegangi perutnya menahan sakit.
Seorang asisten tabib berpakaian putih kusam berjalan menghampiri mereka dari dalam sebuah balai pengobatan kecil diujung jalan.
“ Tabib Li. Lega sekali melihat anda ada disini. Tolonglah bantu kami lagi, wabah ini semakin parah. Sudah 5000 warga yang tertular dan 4500 diantaranya mati tanpa bisa kami selamatkan. “
“ Baiklah, aku akan membantu sebisanya “
“ Terimakasih Tabib Li “ ( sumringah dan memimpin jalan ke balai pengobatan )
Sesampainya di dalam ruangan tabib Li menyentuh mereka secara langsung dan menanyakan gejala mereka satu persatu. Asisten tabib dan Rui tampak bingung melihat perlakuan tabib Li.
“ Tuan, penyakit ini menular. Apakah tidak apa – apa anda menyentuh mereka langsung ? “ ( tanya Rui khawatir )
“ Baik “ ( balas asisten tabib sambil mendekat bersiap mendengarkan arahan tabib Li )
“ Gejala mereka semua adalah sama. Mual, muntah, mengalami kram dibagian perut. Dan yang paling umum adalah gejala diare yang parah hingga menyebabkan dehidrasi. Perhatikan apakah tinja yang dikeluarkan cair dan berwarna pucat keputihan seperti susu atau air cucian beras ? “
“ Benar sekali tabib Li banyak dari mereka yang mengadukan gejala ini dan perubahan pada tinjanya. “
Kemudian tabib Li mengajak mereka untuk memeriksa semua sumber air, makanan, dan kebersihan lingkungannya.
“ tabib Li. Ada apa sebenarnya, kenapa anda memeriksa semua hal ini ? “ ( tanya asisten tabib penasaran )
“ Ini adalah wabah Kolera “ ( terang tabib Li menyimpulkan )
__ADS_1
“ Kolera ? “
“ Ya. Sebelumnya aku belum bisa mengidentifikasi karena wabah masih belum terlalu parah. Tapi sekarang, jika dilihat dari Sumber air, makanan dan lingkungan disini. Aku yakin ini adalah Kolera. “
Tabib Li mengambil air sumur dan memperhatikannya, bahan makanan, dan menunjuk lingkungan desa yang kotor.
“ Wabah Kolera berasal dari bakteri bernama sama. Biasanya bakteri kolera hidup dialam bebas. Seperti sungai, danau, atau sumur. Sumber utama penyebaran bakteri kolera adalah air dan makanan yang terkontaminasi bakteri kolera. Karena itu, makanan yang kalian konsumsi harus dicuci sampai bersih dan dimasak matang jangan setengah matang apalagi mentah. “
Berikutnya mereka pun mengunjungi dan mengecek persediaan makanan di dapur umum balai pengobatan. Li Jiazhen menunjuk makanan itu dan asisten tabib yang terus mencatat ucapan tabib Li.
“ Jenis makanan yang dapat menjadi sarana penyebaran utama bakteri kolera adalah makanan laut seperti kerang dan ikan. Sayuran dan buah – buahan. Biji – bijian seperti beras dan gandum. “
“ Bersihkan mereka 3 kali dan masak hingga benar – benar matang “ ( titahnya pada orang yang bertugas menjaga bahan pangan )
Mereka yang ada disana pun menurut dan mengikuti semua yang diperintahkan oleh tabib Li.
Setelah semuanya ia menyuruh para polisi atau tentara kerajaan untuk membersihkan desa tersebut. Mengubur para mayat dan memperdalam galian hingga 2 meter.
Hasilnya desa tersebut menjadi sedikit lebih bersih. Li Jiazhen tampak mendesah berat memperhatikan para warga yang kompak ikut membersihkan dan melakukan semua yang disuruh olehnya.
“ Hahhh “ ( Melihat pemandangan didepannya dengan resah )
“ Tuan Zhen, bukankah wabah ini akan segera berlalu. Kenapa anda masih terlihat khawatir ? “ ( tanya Rui yang melihatnya terus menarik nafas berat )
“ Aku tidak yakin. Mungkin ini adalah perbuatan manusia dan mereka rakyat biasa adalah korban dari gejolak politik. “
“ Kenapa bisa seperti itu ? “ ( Rui sedikit terkejut mendengar Li Jiazhen mengatakan hal itu )
“ Meskipun di dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi sehari – hari terdapat bakteri kolera, orang yang mengonsumsi makanan tersebut tidak langsung terkena penyakit kolera. Dibutuhkan bakteri kolera dalam jumlah yang banyak di dalam makanan atau minuman untuk membuat seseorang terkena penyakit kolera. Pasti ada yang sengaja mencemarkan sumber air atau makanan di desa ini. “
Rui membulatkan matanya setelah mengerti apa yang dijelaskan oleh Li Jiazhen.
__ADS_1
“ Anda betul tuan Zhen, Mereka benar – benar semakin parah setelah beberapa bulan sejak kita meninggalkan desa ini sebelumnya. “ ( respon Rui sambil menghitung waktu melalui jarinya )
Bersambung..