
Perjalanan pertama yang terasa panjang, demi kedudukan ? ataukah jabatan ? kekuasan ? ataukah kekayaan dan ketenaran. Segala pertanyaan itu terus berputar dikepalaku, menghantam hati nurani yang dipaksa bersembunyi dibalik dinding kepura-puraan.
Tidak pernah terbayang bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang Putri Mahkota dan dituntut banyak hal untuk mempertahankan posisi tersebut. Bukan untuk siapapun, aku menerima titah Raja untuk sejenak menjauh dari kehidupan istana sembari berharap bahwa ayah akan segera menemukan Orabeoni.
Kami sampai di desa bagian Barat Kerajaan dalam keadaan panas terik saat itu, melintasi gurun kecil yang tertutup debu pekat sebelum berhenti di perbatasan Desa yang diisolasi dari daerah luar. Jenderal yang ikut mengantar melapor kepada prajurit yang berjaga atas kedatangan kami.
" Aku Jendral Gwon Hwi utusan yang mulia raja. Kami datang membawa bahan pangan, buka gerbangnya ?! " ( sambil mengeluarkan papan nama Jenderal Gwon Hwi dari saku bajunya )
Lalu seorang prajurit melongok dari atas gerbang sambil berteriak memberi isyarat pada anak buah lainnya " Buka Gerbang ! "
Setelah menunggu beberapa menit
Griiieettt.. Pintu kayu besar yang berat terbuka perlahan dan keluarlah beberapa prajurit dari dalam menghampiri kami.
" Terimakasih kepada Jenderal yang sudah mengantarkan bantuan untuk kami " ( Ucap Sang prajurit yang terlihat sebagai pemimpin )
Setelah berbincang Jenderal Gwon Hwi menyuruh prajurit untuk menurunkan beberapa karung makanan dari kereta kuda dibelakangku.
" Putri, kita tidak bisa masuk. Jadi sampai disini saja kita mengantarkan bantuan untuk mereka. " ( Lapor Jenderal Gwon Hwi mendekat di samping jendela kereta kuda )
" Baiklah " ( balasku sambil melirik Desa yang dibatasi tembok besar dari dunia luar )
Tanpa disangka seorang tabib yang memakai penutup wajah keluar dari balik gerbang dan memanggil Jenderal Gwon Hwi.
__ADS_1
Setelah jenderal Gwon Hwi kembali menghampiri mereka terdengar tengah membicarakan masalah air bersih yang tidak ikut kami kirim dari ibukota.
" Tabib Li ? " ( gumamku pelan menyadari sosoknya )
Terus saja kudengar perselisihan mereka yang mengatakan kekurangan air bersih karena sumber air utama tercemar dan tidak adanya sumber air cadangan.
" Asshi mengenal seseorang disana ? " ( tanya Boram penasaran )
" Aku yakin kalau dia adalah tabib Li yang membantuku menyelamatkan Orabeoni "
" Tabib Li yang pernah Asshi ceritakan ? "
" Ya " ( jawabku singkat )
Terdengar suara ricuh dan beberapa perkelahian dari balik gerbang. Griieettt,, brakk!! bantingan pintu itu cukup keras disertai beberapa warga yang menerobos keluar ingin kabur dari dalam. Sontak saja mereka yang sedang berbincang melihat lalu Para prajurit menahan agar mereka masuk kembali ke dalam.
" Tolong kami, kami sangat kehausan. Setidaknya biarkan kami minum duluan air yang mereka bawa ?!! " ( teriak warga histeris )
" Tuan ! aku tidak sakit, tolong biarkan aku keluar saja dari sini ! " ( sergah lelaki muda berumur kira-kira 30 tahunan )
Pengantar bantuan diwarnai kericuhan warga yang memaksa keluar dengan berbagai alasan. Kulihat seorang ibu paruh baya yang menggendong putranya seorang diri, lusuh dan kurus dengan bibir pucat pecah-pecah.
" Ashhi, bukankah kita tidak membawa persediaan air ? hanya bahan pangan., " ( tambah Boram ikut mengintip dari balik tirai penutup tandu )
__ADS_1
Kisruh terus berlanjut dan seorang lelaki berperawakan tua mengancam siapa saja yang keluar akan ditebas lebih dulu. Serentak mereka merasa takut dan memelototi si lelaki tua tersebut tak berdaya.
" Iya, tidak ada yang melaporkan pada istana bahwa mereka juga kekurangan pasokan air bersih, ini benar-benar aneh " ( balasku pelan )
" Mereka terlihat lelah namun tidak bisa beristirahat. Dan yang sehatpun tidak diperbolehkan untuk keluar dari desa. Ternyata hidup itu rapuh. " ( hatiku membatin melihat keadaan para warga yang mengkhawatirkan )
" Kami tidak membawa pasokan air karena tidak mengetahui sebelumnya kalau disini kekurangan air ?! " ( Teriak Jenderal Gwon Hwi menjelaskan )
Banyak dari mereka para warga menelan kembali harapan pahit. Kemudian tabib Li melirik ke tandu kami dan dengan cepat tirai ditutup.
" Jangan sampai tabib Li tahu aku adalah yang tempo hari menyamar menjadi Orabeoni " ( gumamku pelan menenangkan degup jantung yang semakin cepat )
" Sepertinya istana mengutus seorang yang penting untuk mengantarkan bantuan ini. Lalu, kita tanyakan saja saran apa yang bisa utusan itu berikan ? " ( jelas Tabib Li melihat ke arah tandu yang ditempati oleh ku dan memutus suasana tegang saat itu )
Suasana hening sejenak dan Jenderal Gwon Hwi berjalan ke tandu untuk menanyakan pendapat ku langsung.
" Putri, apakah anda ada saran ? " ( bertanya dari luar tandu )
Hening kembali menjalar, dari mereka yang putus asa oleh keadaan menunggu jawabanku yang menggantung diudara.
" Aku akan mengutus seseorang untuk membantu menemukan air bersih untuk mereka. Tunggulah setengah jam setelah kita kembali ke ibukota " ( jawabku pada jenderal Gwon Hwi pelan )
" Agassi, apa maksudnya itu ? " ( tanya Boram terkejut )
__ADS_1
Jenderal Gwon Hwi pun menyatakan usulanku dengan jelas, setengah jam lagi setelah tandu kembali ke ibukota kami mengutus seseorang untuk membantu menemukan air bersih.
🌬️ Bersambung..