Realize I Need You

Realize I Need You
Episode 52 - Tetaplah Disisiku


__ADS_3

Tanpa sadar, lama sudah aku melihat keadaan warga yang menyedihkan. Hingga tak disengaja tatapan kami saling bertemu di perempatan jalan depan Balai Desa pengobatan.


" Hyun Jae ? " ( tanya tabib Li yang baru saja keluar )


" Tabib Li, kenapa kamu ada disini juga ? " ( tanyaku berpura - pura tak tahu )


" Ah, pertanyaan yang sia-sia. Tentu saja kamu disini untuk mengobati mereka semua "


Tabib Li hanya tertawa ringan sembari menjawab


" Yah, kamu sudah tahu jawabannya "


" Apa yang kamu lakukan disini ? "


" Eh, ah, itu. Aku diutus oleh Putri Mahkota untuk membantu mencari persediaan air bersih dibagian Barat Kerajaan. "


Tabib Li tampak diam dan sedang berpikir.


" Ooh, kenapa aku tidak melihatmu tadi didalam rombongan ya ? "


" Benarkah ? aku dibarisan paling belakang tadi. Sudahlah, jangan dibahas. Aku pendek, tentu saja kamu tidak melihatku. " ( jawabku mengalihkan )


" Baiklah, sudahi saja. Senang melihat mu disini. Ayo, aku akan mengantarmu ke tempat istirahat lebih dulu "


Tawar tabib Li menepuk pundakku dan kami berjalan bersisian.


" Tidak, bukankah masalah air tidak bisa ditunda ? aku akan mulai langsung melakukan tugasku "


" Kamu tidak lelah ? "


" Lelah, tapi putri mahkota sudah mempercayakan tugas ini padaku. Aku harus bisa membantu secepatnya. "


" Baiklah " ( tabib Li tersenyum puas )


Setelah meninggalkan beberapa tugas kepada tabib lokal dan perawat, Tabib Li ikut mengantar ku dan Pemimpin Desa melihat keadaan sumur sumber air minum. Kami menuju sebuah sumur timba yang ditutupi penutup kayu dekat tembok.


" Ini adalah sumber air minum kita satu-satunya. " ( jelas pemimpin Desa )


Sambil memerintahkan salah seorang menimba air dari dalamnya.


" Air itu sudah tercemar. " ( tambah tabib Li berbicara )


Akupun menoleh sejenak kemudian memperhatikan seember air yang diletakkan dibibir sumur. Tidak bisa dikatakan layak, airnya terlihat kotor dan terdapat beberapa pasir serta campuran lain yang tidak diketahui.


" Air ini memang tidak layak untuk dikonsumsi. Apakah benar-benar hanya satu sumur ini saja yang ada ? " ( tanyaku pada pemimpin Desa dan tabib Li )


Pemimpin Desa memperlihatkan ekspresi enggan yang sulit kumengerti, seperti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Lain halnya dengan tabib Li yang seperti terus mewaspadai setiap gerak gerik pemimpin Desa.


" Ehem ! " ( tegurku membuyarkan lamunan mereka berdua )


" Apakah ada sumur lagi selain ini ? "


Sontak saja mereka kembali sadar dengan keadaan dihadapannya saat ini.


" Ada, tapi Sumur itu sudah kering seminggu yang lalu. " ( tukas tabib Li mendahului pemimpin Desa )

__ADS_1


Detik berikutnya pemimpin Desa membawa kami melihat keadaan sumur yang satu lagi. Yang satu ini sejajar dengan tanah sekitar tanpa dinding yang tinggi. Ditutupi beberapa pelepah yang mengering. Srek srekk., tabib Li menyingkirkan semua pelepah tersebut.


Akupun mendekati dan melihat kedalamnya, benar-benar sudah mengering tanpa sedikitpun air.


" Sudah tidak ada airnya lagi, kenapa kalian keras kepala sekali. Kita pakai saja air dari sumur yang tadi, tinggal dibersihkan sedikit dan masak lebih lama. sudah aman. " ( Jelas pemimpin Desa kesal )


Aku dan Tabib Li yang sedang berjongkok pun serentak melirik pemimpin Desa yang tetap berdiri angkuh dengan heran.


" Akhh, sudahlah. Masih ada urusan yang harus kulakukan. Kalian lanjutkan saja sibuk disini. " ( menepuk bajunya kasar dan meninggalkan kami begitu saja )


" Dia terlihat mencurigakan " ( kata tabib Li melihat kearahku )


" Iya, Seperti nya begitu " ( tambahku mengangguk )


" Hmmm " kami menghela nafas bersamaan melihat sumur kering yang terbentang menganga dihadapan.


" Tabib Li, kamu juga mencurigakan. "


" Apa ? " ( tanya tabib Li setengah terkejut mendengar pernyataanku )


Iapun menoleh menatap ku menunggu perkataanku selanjutnya.


" Bukankah kamu banyak yang harus dikerjakan ? kenapa sedari tadi terus mengikuti ku ? "


" Ah iya, aku hanya khawatir " ( tabib Li menghentikan bicaranya dan melihat keadaan sekeliling sebelum melanjutkan )


" Khawatir ? " ( tanyaku menunggu penjelasan tanpa sadar ikut menoleh kesana kemari )


" Aku yakin ini bukan wabah biasa, melainkan kesengajaan dari seseorang. "


" Kemari. " tabib Li merangkul pundakku dan kami berbicara lebih dekat. Rasa tak nyaman berdekatan dengan lawan jenis yang tetap harus kusembunyikan dibalik pakaian seorang laki-laki hanya bisa kubenamkan rapat - rapat.


" Pertama, aku sudah kemari beberapa bulan yang lalu dan keadaan sedikit membaik. Lalu air sumur yang semulanya jernih berubah menjadi keruh setelah aku kembali kemari lagi karena mendengar wabah yang semakin memburuk. Kedua, gelagat aneh dari beberapa orang disekitar sini. Ketiga, mereka terlihat lebih tenang dan tidak tertular wabah. " ( bisik tabib Li pelan )


" Jadi, tabib Li sudah mencurigai beberapa orang disini ? "


" Ya. " ( jawab tabib Li yakin )


" Karena itu, tetaplah disisiku. Aku akan melindungi mu. "


Kalimat terakhir yang dikatakan oleh tabib Li sukses membuatku merasa bahwa keadaan ini lebih buruk daripada bencana alam biasa.


Dengan arti lain, mereka bebas membunuh siapa saja melalui alibi tertular wabah kolera.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Keadaan di Istana Kerajaan :


~Wangseja Yong Ju


" Seowu, apakah Putri Mahkota sudah kembali ? "


" Seharusnya sedang dalam perjalanan, Wangseja. " ( jawab Seowu )


" Baiklah "

__ADS_1


Wangseja Yong Ju kembali duduk dengan resah yang masih bergumul di benaknya. Kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan urusan Istana.


" Yang mulia Raja dataaanggg... " ( teriak Kasim didepan pintu masuk )


Serentak Wangseja Yong Ju dan Seowu berdiri memberi hormat. Raja mengambil tempat duduk Putra Mahkota dan duduk dengan raut wajah kusut.


" Bagaimana penyelidikanmu tentang Wabah dibagian Barat Kerajaan ? " ( tanya Raja mengawali pembicaraan )


" Menjawab Yang mulia. Aku belum menemukan penyebab yang pasti, dari kabar yang dibawa mata - mata kerajaan wabah disebabkan oleh keadaan Desa yang kotor "


" Hufft. Aku tidak percaya wabah yang semula mulai membaik malah semakin parah. Kudengar mereka sudah mengadakan pembersihan besar- besaran diseluruh daerah. "


" Ini memang masih menjadi misteri sampai sekarang. "


" Lalu, bagaimana dengan masalah bandit gunung yang mencuri dana untuk bantuan wabah ? "


" Lapor yang mulia, aku sudah memeriksa semua bandit gunung. Namun tidak ada yang mencurigakan atau meninggalkan bukti sedikit pun ditempat kejadian. "


" Ayah, kalau boleh aku akan keluar istana agar bisa menyelidiki lebih leluasa. " ( tambah Wangseja Yong Ju meminta persetujuan Raja )


" Baiklah. Akan tetapi, tetap jaga keselamatan mu. Seowu, Kamu harus lebih waspada untuk melindungi Putra Mahkota "


" Baik, yang mulia. " ( dengan cepat Seowu menjawab )


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


" Uaaaaakhhhhhhh " Profesor yang menjadi guru dari pangeran kecil Ye Jun berteriak dengan histeris begitu tanah yang dipijak ambruk dan ia terjatuh ke dalam lubang yang telah digali. Sebuah Baskom berisikan air yang dibawanya kemana - mana terlempar lebih jauh sementara kura - kura didalamnya ikut terjatuh menimpa kepala si profesor dengan keadaan tempurung dibawah.


" Aduh. " ( refleks nya mengaduh )


Sedangkan pangeran kecil Ye Jun tampak menahan tawa dan terus duduk di meja belajarnya tenang.


" Pangeran, ii i i ini... " ( Kasim pendamping pangeran kecil Ye Jun tergagap tanpa bisa berbuat apa-apa )


" Ssttt "


Isyarat pangeran kecil Ye Jun kepada Kasim pribadinya dan drama pun dimulai.


" Haaaa " pangeran kecil Ye Jun berakting terkaget-kaget dan kemudian menghampiri melihat ke sisi lubang.


" Guru, anda baik - baik saja ? apa yang terjadi, aneh sekali. Wahh,, Kenapa bisa ada lubang sebesar ini disini. "


Sejenak profesor kemudian menyadari tingkah pangeran kecil Ye Jun.


" Pangeran kecil, aku tahu ini pasti ulahmu. " ( balas si profesor geram )


Pangeran kecil Ye Jun terkejut mendengar tebakan gurunya yang 100 % tepat mengenai sasaran.


" Guru, anda hebat sekali. Baru kali ini aku mengakui kehebatan mu👍 " ( tambah pangeran kecil Ye Jun sambil mengacungkan kedua jempol tangannya )


" Hhufftt.. Dosa apa yang kulakukan dikehidupan dulu hingga punya seorang murid yang tidak beradab. Aku bersumpah bukan manusia jika tidak mengundurkan diri sekarang juga. " ( gumam si profesor sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut )


Raut wajah si profesor berubah pasrah seketika mengetahui murid tidak beradab itu mengakui perbuatannya saat itu juga. Yang lebih menyakitinya ialah dia tidak bisa menghukum seorang pangeran kecil.


Pangeran Yong Hwa yang sedari tadi terus memperhatikan mereka dari atas tersenyum melihat tingkah mereka dan kemudian ia turun dari loteng atas.

__ADS_1


🌬️ Bersambung..


__ADS_2